BACAAJA, BANDA ACEH – Aceh lagi di ujung tanduk. Bukan cuma soal banjir dan longsor, tapi ancaman krisis pangan sampai 3 tahun ke depan.
Akademisi Universitas Almuslim, Cut Azizah, bilang dampak banjir besar akhir November 2025 itu nggak main-main.
Sawah rusak, lumpur tebal, irigasi hancur, bendungan dan jalan ambyar. Intinya: lahan pangan ikut KO.
Bacaaja: Sawah Bisa Jadi Senjata Rahasia Lawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Bacaaja: Parah! Sudah Sebulan setelah Bencana, Ada Kampung di Aceh yang Masih Terisolasi
“Kalau di Aceh, bisa kekurangan pangan sampai tiga tahun ke depan. Sawahnya sudah nggak ada,” kata Cut dalam sebuah webinar, Rabu (24/12/2025).
Banjir yang nyerang Aceh, Sumbar, dan Sumut ini bahkan masuk kategori bencana katastropik—alias dampaknya panjang dan brutal buat ekonomi serta kehidupan warga.
Masalahnya bukan cuma hujan ekstrem yang turun 5–7 hari nonstop, tapi juga kondisi alam plus ulah manusia.
Aceh berada di kawasan Pegunungan Bukit Barisan dengan lereng curam dan tanah muda yang super rawan longsor. Sedikit hujan aja bisa bikin tanah ambles, apalagi hujan ekstrem.
Parahnya lagi, hulu sungai terus diganggu. Di beberapa DAS, tutupan hutan berkurang sampai 18 persen. Bahkan di DAS Peusangan, 70 persen wilayahnya berubah jadi permukiman, pertanian, dan kebun sawit.
“Hulu itu harusnya dilindungi. Tapi justru paling sering dirusak,” tegas Cut.
Guru Besar IPB University, Bambang Hero Saharjo, ikut menyoroti fakta pahit lain: pembalakan liar.
Bukti-buktinya kelihatan jelas:
Kayu gelondongan berserakan di sungai dan pantai
Ada kayu dengan bekas gergaji mesin
Bahkan ada yang sudah bernomor dari lokasi tebangan
Artinya? Banjir dan longsor ini bukan cuma soal cuaca, tapi juga ulah manusia.
“Di balik bencana hidrometeorologi ini, pasti ada aktivitas manusia—entah sengaja atau lalai,” kata Bambang.
Kalau pola ini terus dibiarkan, dampaknya bukan cuma banjir musiman. Tapi krisis pangan, kemiskinan, dan kerentanan jangka panjang.
Singkatnya: Alam sudah kasih sinyal keras. Tinggal manusianya mau berubah atau nggak. (*)

