Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pola Makanmu Pengaruhi Perubahan Iklim, Kok Bisa? Begini Penjelasannya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Pola Makanmu Pengaruhi Perubahan Iklim, Kok Bisa? Begini Penjelasannya

R. Izra
Last updated: Januari 1, 2026 9:31 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
Ilustrasi makan steak daging sapi.
Ilustrasi makan steak daging sapi.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Kalau masih mikir urusan perubahan iklim cuma soal naik pesawat atau pakai kendaraan listrik, fix kamu perlu update.

Studi terbaru dari University of British Columbia (UBC), Kanada, bilang satu hal penting: apa yang kita makan tiap hari ternyata punya dampak besar ke suhu bumi.

Lewat analisis emisi pangan global, para peneliti menyimpulkan kalau dunia pengin nahan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius, hampir semua orang harus siap-siap ubah pola makan.

Bacaaja: Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput, Kebijakan Iklim Indonesia Salah Arah?
Bacaaja: Sawah Bisa Jadi Senjata Rahasia Lawan Krisis Iklim, Kok Bisa?

Ini bukan opini receh, tapi hasil riset serius yang mengolah data emisi pangan dari berbagai negara di dunia.

Penelitian ini dipimpin Dr. Juan Diego Martinez dari Institute for Resources, Environment and Sustainability, UBC.

Hasilnya cukup bikin mikir: sekitar 44 persen penduduk dunia saat ini perlu mengubah pola makan agar emisi tetap di level aman. Dan ini masih hitungan konservatif.

Ambil contoh Kanada. Di negara itu, 90 persen penduduknya dinilai harus mengubah pola makan kalau target iklim mau tercapai. Dan kondisinya bisa makin berat ke depan.

Soalnya, data yang dipakai berasal dari tahun 2012. Dengan populasi dan emisi yang terus naik, proyeksi tahun 2050 menyebut hampir 90 persen manusia di bumi kemungkinan harus ikut berubah.

Peneliti mengolah data dari 112 negara yang mewakili 99 persen emisi gas rumah kaca sektor pangan global.

Setiap negara dibagi ke 10 kelompok pendapatan, lalu dihitung “jatah emisi” per orang dari makanan—mulai dari produksi, konsumsi, sampai distribusinya. Angka itu kemudian dibandingkan dengan batas aman emisi versi Perjanjian Paris.

Hasilnya? Sistem pangan ternyata bukan pemain kecil. Lebih dari sepertiga emisi global akibat aktivitas manusia berasal dari sektor makanan. Dan yang bikin makin miris, ada ketimpangan besar.

Potret ketimpangan

Sekitar 15 persen kelompok dengan emisi pangan tertinggi menyumbang 30 persen emisi global, setara dengan gabungan emisi dari separuh populasi dunia terbawah.

Kelompok penyumbang emisi terbesar ini didominasi individu berpenghasilan tinggi di negara dengan konsumsi tinggi seperti Brasil dan Australia.

Tapi masalahnya nggak berhenti di situ. Banyak orang di luar kelompok super kaya juga makan jauh di atas batas emisi yang direkomendasikan. Artinya, perubahan ini bukan cuma PR orang kaya—ini urusan kita semua.

Salah satu “biang kerok” terbesar dari emisi pangan adalah daging sapi. Di Kanada saja, daging sapi menyumbang 43 persen emisi pangan per orang.

Seekor sapi bahkan bisa menghasilkan sekitar 70 kilogram gas metana per tahun, gas rumah kaca yang efeknya jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Martinez mengakui ini bukan hal mudah. “Saya dibesarkan di Amerika Latin, di mana makan daging sapi itu bagian dari budaya. Jadi saya paham betul betapa sulitnya perubahan ini,” katanya.

Tapi, kondisi iklim sekarang sudah beda. Kalau mau menghindari dampak terburuk pemanasan global, emisi dari makanan harus ditekan.

Selain ngurangin daging merah, solusi lain yang terdengar simpel tapi efeknya gede adalah mengurangi limbah makanan.

Makan secukupnya, habisin makanan, dan manfaatin sisa masakan bisa memangkas emisi sekaligus hemat energi.

Intinya gini: mungkin kamu nggak terbang naik pesawat tiap minggu, tapi kamu pasti makan setiap hari. Dan di situlah kekuatannya. Pilihan makanan sehari-hari ternyata bisa jadi senjata paling dekat buat bantu bumi tetap adem. (*)

You Might Also Like

Dari “Cumi-Cumi Darat” ke Bus Listrik: Semarang Mulai Move On dari Asap Hitam

Pemprov Dorong Transformasi Sampah Jadi Energi

Teknologi Ngebut, SDM Kedodoran: Indonesia Rawan PHK Massal di Era AI

Dorong Transportasi Hijau, Pemkot Semarang dengan Bus Masifkan Bus Listrik

Bos Google Bilang Investasi AI Sudah Lebay dan Irasional, tapi . . .

TAGGED:daging sapiemisi karbongas rumah kacapemanasan globalperubahan iklimpola makan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Presiden RI, Prabowo Subianto saat rapat bersama dengan menteri dan kepala lembaga usai meninjau pembangunan huntara di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (1/1/2026).(Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden) Pemerintah Tutup Pintu Bantuan Asing, Prabowo: Bodoh Sekali Kalau Kita Tolak!
Next Article Libur Nataru, Penumpang Pesawat Naik 5,6 Persen

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PENGUKUHAN PASKIBRAKA--Anggota Paskibraka 2026 memberi hormat kepada Wali Kota Semarang saat acara pengukuhan di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Rabu (12/8/2026). (ist)

27 Paskibraka Semarang Dikukuhkan, Agustina Minta Jadi Agen Anti-Bullying

DUTA BACA--Duta Baca Semarang menerima penghargaan yang digelar dalam acara yang digekar di Gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Rabu (12/8/2026). (ist)

4 Duta Baca Semarang Terpilih, Ada Siswa SD hingga Mahasiswa

Ideologi Angka dan Realitas Sebagian

SIDANG TPPU--Jaksa membacakan replik kasus pencucian uang terdakwa Gus Yazid dan Andhi Nur Huda di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (12/8/2026). (bae)

Jaksa: Gus Yazid Terima Duit Rp20 Miliar Atau Gak, Tetap Dijerat TPPU

Pelatih Basket Jateng Diduga Aniaya Pemain, Perbasi Turun Tangan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Rumah apung untuk Mak Jah, penjaga kelestarian mangrove di Desa Bedono, Sayung, Demak.
Tumbuh

Cerita Mak Jah Bertahan di Tengah Laut, Rumah Apung untuk Terus Jaga Mangrove Sayung

April 25, 2026
Alat berat dioperasikan untuk meratakan sampah di TPA Jatibarang, Semarang. (bae)
Tumbuh

Sampah di Jateng Mau Diolah Jadi Bahan Bakar Pabrik Semen, Gimik Atau Realita?

September 30, 2025
Tumbuh

Empat Stasiun KAI di Jateng Kini “Panen” Matahari

Juli 16, 2026
Ilustrasi penggunaan AC untuk mendinginkan ruangan.
Tumbuh

Kamu Harus Tahu! AC Bikin Sejuk Ruangan, tapi Bikin Lingkungan Makin Panas

Maret 30, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pola Makanmu Pengaruhi Perubahan Iklim, Kok Bisa? Begini Penjelasannya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?