Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput, Kebijakan Iklim Indonesia Salah Arah?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput, Kebijakan Iklim Indonesia Salah Arah?

R. Izra
Last updated: Januari 1, 2026 7:12 am
By R. Izra
3 Min Read
Share
Ilustrasi pembagkit listrik tenaga angin, untuk memaksimalkan EBT.
Ilustrasi pembagkit listrik tenaga angin, untuk memaksimalkan EBT.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Indonesia lagi serius ngomongin krisis iklim. Tapi sayangnya, fokus negara masih berat ke mitigasi, bukan adaptasi.

Dampaknya? Inisiatif adaptasi krisis iklim yang digerakkan perempuan dan kelompok rentan di akar rumput malah kurang diperhatiin.

Hal ini disorot Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, Armayanti Sanusi. Menurutnya, negara belum punya anggaran yang benar-benar responsif dan transformatif buat mendukung adaptasi krisis iklim berbasis komunitas.

Bacaaja: Sawah Bisa Jadi Senjata Rahasia Lawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Bacaaja: Irlandia Suntik Mati Seluruh PLTU Batu Bara, Andalkan Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Masalahnya bukan cuma soal niat, tapi juga soal akses. Untuk dapetin pembiayaan adaptasi iklim, perempuan dipaksa ngikutin standar administrasi super ketat—dari laporan keuangan sampai pertanggungjawaban teknis.

“Tidak mungkin itu bisa dilakukan perempuan kalau aturannya diperketat. Artinya, negara secara tidak langsung bikin batasan untuk akses pembiayaan,” kata Armayanti dalam webinar, Sabtu (27/12/2025).

Transisi energi, tapi skala raksasa

Bukan cuma soal adaptasi yang terpinggirkan. Strategi mitigasi iklim Indonesia juga masih bertumpu pada proyek-proyek besar dan ekstraktif.

Contohnya, transisi energi dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT) lewat proyek skala raksasa demi ngejar pasokan listrik nasional.

Masalahnya, proyek-proyek EBT ini sering tutup mata soal dampak sosial, lingkungan, dan ketimpangan gender.

Dalam setahun terakhir saja, Solidaritas Perempuan menangani 12 kasus yang berkaitan langsung dengan proyek transisi energi.

“Tidak ada manfaat nyata dari transisi energi skala besar ini, terutama PLTS, PLTA, panas bumi, dan bioenergi,” tegas Armayanti.

Masih ngandelin ekonomi ekstraktif

Di sisi lain, komitmen iklim Indonesia lewat Second Nationally Determined Contribution (SNDC) malah disatukan dengan ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Artinya, negara masih ngandelin ekstraktivisme buat ngegas ekonomi.

Padahal, pola ini justru berpotensi memperparah krisis iklim, bukan menyelesaikannya.

Koordinator Pengembangan Usaha Konservasi Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Devi Laksmi, mengakui pemerintah memang masih lebih fokus ke mitigasi dibanding adaptasi.

Menurutnya, transisi energi ke EBT sebenarnya bisa jadi peluang besar buat penciptaan lapangan kerja, asal aksesnya dibuka secara adil.

Masalahnya, posisi strategis di sektor energi masih didominasi laki-laki. Saat ini, cuma sekitar 5 persen posisi pengambil keputusan di sektor energi yang dipegang perempuan.

Di sektor EBT dan konservasi energi, angkanya juga belum menggembirakan:

  • Auditor energi perempuan: 51 dari 1.128 orang
  • Manajer energi perempuan: 43 dari 1.273 orang

Meski begitu, Devi menyebut Kementerian ESDM sudah punya Anggaran Responsif Gender (ARG).

Contohnya, pada 2023, anggaran ARG untuk pembangunan PLTS mencapai Rp 51,9 miliar.

Intinya? Krisis iklim nggak bisa diselesaikan cuma dengan proyek gede dan target emisi doang.

Tanpa adaptasi berbasis komunitas dan tanpa perempuan di barisan depan, transisi energi berisiko cuma jadi slogan hijau tanpa keadilan. (*)

 

You Might Also Like

Sawah Bisa Jadi Senjata Rahasia Lawan Krisis Iklim, Kok Bisa?

Emang Gen Z Sengeri Itu? Masuk Kuliah tapi Gak Bisa Baca, Kampus di AS ‘Nyerah’

Cerita Mak Jah Bertahan di Tengah Laut, Rumah Apung untuk Terus Jaga Mangrove Sayung

Kala Perempuan Bersuara: Dihadiahi Tangkap Paksa dan Status Tersangka

Pola Makanmu Pengaruhi Perubahan Iklim, Kok Bisa? Begini Penjelasannya

TAGGED:indonesiakebijakan krisis iklimkrisis iklimperempuan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Vonis Fantastis Najib Razak, 165 Tahun Tapi Jalan 15, Kok Bisa?
Next Article Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan penolakannya terhadap rencana Tax Amnesty Jilid III. Ia menilai kebijakan itu bisa merusak kredibilitas pemerintah dan justru memberi insentif bagi wajib pajak nakal. Purbaya Ngaku: Suntikan Triliunan ke Himbara Belum Ngefek

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Undip Kenalkan Kopi Tawangmangu ke Dunia

KPK Kulik Aktivitas Fadia Arafiq Saat Menjabat

Bayar Sampah di Semarang Sekarang Nggak Tunai Lagi

Waisak Belum Mulai, Borobudur Sudah Full Booking

Ibu-Ibu Pegang Pisau Kurban, Ternyata Hukumnya Bikin Banyak Kaget

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi energi baru terbarukan (ebt) pembangkit listrik tenaga angin dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). (narakita/grafis/tera)
Tumbuh

Cetak Sejarah Dunia! Akhirnya Listrik dari EBT Bisa Lampaui Batu Bara

Oktober 9, 2025
Daerah

Laut Ngamuk di Musim yang Salah, Bukti Nyata Krisis Iklim

Agustus 21, 2025
Tumbuh

Pertamina Ngebut Cari Energi Alternatif: Nggak Mau Bergantung Terus

April 5, 2026
Ilustrasi anak-anak main game online.
Tumbuh

Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online

Januari 2, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput, Kebijakan Iklim Indonesia Salah Arah?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?