Juli Prasetya adalah seorang penulis asal Banyumas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis.
“Sepertinya aku tidak perlu memberitahumu, kau pasti tahu apa yang bisa dilakukan oleh buku. Itu sesuatu yang kita bagi meskipun dunia kita berbeda”(The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society).
Fiksi dan imajinasi memiliki keterkaitan yang kuat antara satu sama lain. Fiksi menjadi medium imajinasi untuk mewujudkan dirinya dari dunia abstrak ke dunia tulisan, dan imajinasi menjadi salah satu motor penggerak karya fiksi. Fiksi menjadi penting untuk menjembatani dan mewujudkan imajinasi, sedangkan imajinasi membutuhkan fiksi sebagai wadah eksperimen dan ekspresifnya.
Sebagian orang menyebut bahwa fiksi adalah kisah bohong. Padahal fiksi memiliki dunianya sendiri. Fiksi selalu memiliki logikanya sendiri. Dan tentu saja logika ceritanya harus sesuai dengan apa yang terjadi di dalam semesta fiksi tersebut. Ia bukan sebagai suatu karangan bebas yang ngawur, akan tetapi ia memiliki semacam sistem, logika, dan dunianya sendiri. Dan itu tentu saja jauh dari kata asal-asalan atau asal mengarang saja.
Saya tidak akan menuliskan betapa besarnya peran karya fiksi bagi kehidupan manusia, baik itu untuk menajamkan dan melembutkan jiwanya, atau untuk memahami seperti apa kompleksitas jiwa manusia. Kita bisa mempelajari psikologi dan humaniora sekaligus, dan itu bisa kita didapatkan dengan membaca karya fiksi, karya sastra.
Cerita fiksi bagaimanapun ia diceritakan dengan cara yang paling absurd dan tak masuk akal sekalipun, pasti ia selalu mengandung logika dunianya sendiri. Ia bukan karangan bebas semata yang ditulis oleh seorang pengarang keranjingan mabuk, atau pecandu obat, atau orang gila yang asal menulis. Tetapi ia sudah pasti harus menyatu dengan sistem kecendekiaan, serta kepengrajinan seorang penulis, atau sebagai manusia yang menulis. Dan seorang penulis memang sudah harus selesai dengan itu. Baik itu perkara kepengrajinan maupun kecendekiaannya.
Oleh karena itu imajinasi sangat diperlukan bagi para penulis. Tujuannya guna mengembangkan dan memadatkan tulisannya agar menjadi bernas. Untuk menemukan jalan atau arah cerita. Pada tahapan ini imajinasi memiliki peran penting untuk membangun sebuah dunia, dunia imajinasi, dunia fiksi yang akan membawa pembaca terhanyut dalam petualangan pembacaan. Pembaca mengalami kenikmatan saat membaca (tekstasi). Pengalaman membaca itu kemudian akan mempengaruhi persepsinya kepada dunia dan mempengaruhi dirinya dalam memandang segala sesuatu. Syukur-syukur jika nantinya di sana juga akan terlahir seorang penulis baru.
Tentu saja untuk bisa sampai ke tahap itu seorang penulis harus menulis dengan sungguh-sungguh. Menulis dengan inventif dan intens guna membangun dan menciptakan dunia fiksional dan imajinya. Imajinasi akan selalu menjadi entitas yang membentuk dan menciptakan dunia fiksinya tersendiri. Karena jika tidak ia sama sekali tidak akan beranjak ke mana-mana. Imajinasinya hanya akan mandeg menjadi sebuah konsep yang mati. Semenjana.
Karena bagaimanapun karya fiksi membutuhkan imajinasi sebagai roda inspirasi dan motor penggerak cerita. Imajinasi bisa menjadi jembatan antara yang fakta dan fiksi, bahkan membaurkan keduanya, dan semua manusia memiliki hal ini. Namun, persoalannya adalah tidak setiap orang mau dan mampu melatih dan menggunakan perangkat imajinasinya ini. Apakah mereka mau melatihnya, dan mempertajam cara kerja imajinasi itu? Apakah mereka paham dan mengerti cara menggunakan dan mengasah imajinasi itu? Tidak semua orang bisa melakukannya, dan tahu cara melakukannya.
Peradaban besar di dunia ini bisa berputar dan terlahir berawal dari imajinasi itu. Bahkan tokoh ilmuwan besar macam Einstein mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan terbatas sedangkan imajinasi mencakup seluruh dunia, menstimulasi kemajuan, dan melahirkan evolusi. Einstein pun tidak main-main dengan kekuatan besar imajinasi.
Mungkin tidak hanya karya fiksi, bahkan karya-karya nonfiksi pun tidak bisa lepas dari kekuatan imajinasi. Karena memang sebegitu dahsyatnya kekuatan imajinasi ini. Jadi jangan pernah remehkan karya fiksi, dan jangan pula meremehkan kekuatan imajinasi. Karena peradaban besar dan penemuan-penemuan besar di masa lalu dan masa kini (dan masa depan) pada mulanya berawal dari kekuatan imajinasi. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

