BACAAJA, KARANGANYAR- Dua tahun menahan sakit bukan perkara sepele. Apalagi ketika lutut terasa panas dan kaku, tidur malam terganggu, sementara untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis perlu mempertimbangkan jarak dan biaya. Itulah yang dialami Sarman, warga Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar.
Kesempatan untuk mencari penanganan akhirnya datang saat program Dokter Spesialis Keliling (Speling) hadir di desanya, Kamis (29/10/2026). Program yang diinisiasi Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi itu membawa layanan dokter spesialis lebih dekat kepada warga, termasuk yang tinggal di lereng Gunung Lawu.
Sarman datang diantar anak perempuannya. Selama ini, ia hanya mengandalkan obat yang dibeli di apotek untuk meredakan keluhan lututnya. Hasilnya belum banyak membantu. Bahkan, rasa sakit membuatnya kesulitan beraktivitas dan tidur nyenyak.
Melalui layanan Speling, Sarman bisa menjalani pemeriksaan dan memperoleh obat untuk membantu menangani keluhannya. “Saya senang. Semoga bisa mencari obat dan nanti sakitnya sembuh. Terima kasih kepada Pak Gubernur, karena sudah ada pemeriksaan dan obat gratis,” ungkapnya.
Baca juga: Pemprov Siagakan Mobil Speling di Sirampog
Bagi Sarman, layanan tersebut terasa istimewa karena ia mengaku baru kali ini mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis langsung di desa, dengan kehadiran dokter spesialis. Ia berharap keluhannya segera membaik setelah sekitar dua tahun kesulitan bekerja dan beraktivitas normal.
Di Gondosuli, Speling menghadirkan empat dokter spesialis, yakni spesialis anak, jiwa, paru, dan penyakit dalam. Warga bisa berkonsultasi, menjalani pemeriksaan awal, serta memperoleh arahan apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Manfaat layanan serupa dirasakan Warsini Atun Hasanah. Ia membawa putranya, Regar Mahardika untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai perkembangan motoriknya.
Warsini bercerita, ketika berusia delapan bulan, leher putranya belum cukup kuat untuk menopang kepala. Setelah menjalani terapi dan konsultasi, perkembangan Regar mulai terlihat, termasuk kemampuan duduk. Namun, kemampuan berjalan masih membutuhkan perhatian.
Selama ini, Warsini harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor untuk mengakses layanan terapi. Biaya konsultasi dan terapi yang pernah dikeluarkan berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, belum termasuk kebutuhan lainnya.
Pertimbangan Biaya
Kondisi tersebut membuatnya harus mempertimbangkan biaya sebelum melanjutkan pemeriksaan. Kehadiran Speling pun membuka kesempatan bagi Warsini untuk berkonsultasi langsung dan memperoleh arahan mengenai langkah berikutnya.
“Alhamdulillah, terbantu. Intinya ada solusi saya harus ke mana,” katanya. Ia berharap perkembangan putranya terus membaik hingga kelak mampu berjalan seperti anak-anak seusianya.
“Bagi saya, program Speling sangat membantu warga. Ya, mempermudah mendapatkan pelayanan kesehatan dan gratis. Ditambah ada dokter spesialis,” imbuhnya.
Dokter Spesialis Anak RSUD Dr Moewardi Solo, Diah Lintang Kawuryan menjelaskan, Speling dapat membantu mendeteksi lebih awal kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lanjutan, pasien dapat diarahkan untuk mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan.
Baca juga: Pemprov Terjunkan Dokter Speling ke Lokasi Bencana
Menurut Diah, keluhan umum seperti batuk, pilek, dan demam biasanya dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas.
Sementara itu, gangguan perkembangan tertentu membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam agar penanganannya tepat. Ia berharap layanan tersebut membantu warga yang terkendala biaya maupun transportasi untuk mengakses fasilitas kesehatan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jateng, program Speling telah menjangkau sekitar 1.857 titik dengan sasaran 133.132 orang. Program ini direncanakan terus diperluas ke desa-desa di Jawa Tengah.
Kehadiran dokter spesialis di desa memang belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan. Pemeriksaan lanjutan, terapi, dan rujukan tetap bisa diperlukan. Namun, bagi warga seperti Sarman dan Warsini, langkah awal untuk mencari pertolongan kini terasa lebih dekat.
Sebab, sakit seharusnya tidak membuat orang harus memilih antara berobat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dokter boleh jadi datang hanya sehari ke desa, tetapi harapannya, jalan menuju layanan kesehatan yang layak tidak ikut pergi setelah rombongan selesai bertugas. (tebe)

