Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semarang Kota Beragam, Agustina: “Toleransi Jangan Berhenti di Spanduk!”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Daerah

Semarang Kota Beragam, Agustina: “Toleransi Jangan Berhenti di Spanduk!”

T. Budianto
Last updated: Oktober 22, 2026 9:58 pm
By T. Budianto
5 Min Read
Share
LINTAS AGAMA: Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti (tengah) berbaur dan menyapa para tokoh serta peserta lintas agama pada acara Tirakatan Lintas Agama memperingati HUT Kevikepan Semarang ke-60 di Gereja Katolik St. Mikael Semarang, Rabu (21/10/2026) malam. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Beda agama, beda cara beribadah, beda tradisi. Tapi kalau urusan hidup bertetangga, membantu sesama, dan menjaga lingkungan, masa harus beda barisan?

Pesan itulah yang disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti saat mengajak warga menjadikan toleransi sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kata manis di baliho atau materi seminar.

Pesan tersebut mengemuka dalam Tirakatan Lintas Agama untuk memperingati HUT Kevikepan Semarang ke-60 di Gereja Katolik St. Mikael Semarang, Rabu (21/10/2026) malam.

Mengusung tema “Srawung, Merawat Persaudaraan dan Kerukunan Umat Beragama”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan berbagai keyakinan untuk saling mendengar, berbagi pengalaman, dan merawat persaudaraan.

Acara tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT Paroki St. Mikael ke-12 pada Januari 2027. Perwakilan pemerintah, tokoh agama, penghayat kepercayaan, umat paroki, dan organisasi kemasyarakatan hadir dalam suasana kebersamaan.

Baca juga: Semarang Jaga Toleransi hingga Tempat Peristirahatan Terakhir

Bagi Agustina, srawung bukan istilah yang harus terdengar keren agar bermakna. Intinya sederhana: mau membuka diri, mengenal orang lain, dan membangun kepercayaan meski tidak memiliki keyakinan yang sama.

“Semarang tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya, agama, dan komunitas yang hidup berdampingan. Tradisi ini terus terawat hingga mengantarkan Semarang meraih peringkat ketiga kota paling toleran di Indonesia menurut Setara Institute,” ungkapnya.

Namun, capaian tersebut bukan alasan untuk merasa pekerjaan sudah selesai. Menurut Agustina, predikat kota toleran justru membawa tanggung jawab agar setiap warga benar-benar bisa menjalankan keyakinan, beraktivitas, dan hidup dengan aman serta bermartabat.

Ia mencontohkan kebersamaan ribuan warga lintas agama yang menyanyikan Gema Mars MTQ Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima hingga mengantarkan Semarang mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Suasana serupa terlihat dalam Mooncake Festival 2026 di Kelenteng Tay Kak Sie. Penari berhijab membawakan Tari Kipas Batik Semarang, kemudian masyarakat berbaur dalam jamuan Tok Panjang. Perbedaan tradisi justru menjadi alasan untuk saling mengenal, bukan saling menjauh.

Dirasakan Warga

Buat Agustina, kerukunan juga tak boleh berhenti pada panggung budaya. Pemerintah harus menerjemahkannya menjadi pelayanan yang bisa dirasakan warga.

Salah satunya melalui peresmian TPU Pancasila di Gunungpati pada 20 September 2026. Tempat pemakaman tersebut melayani masyarakat lintas agama dan penghayat kepercayaan dengan menghormati tata cara pemakaman masing-masing.

Pemkot Semarang juga memfasilitasi perjalanan keagamaan bagi 215 warga pada 20 Oktober 2026. Rinciannya, 155 peserta umrah, 50 umat Nasrani, lima umat Hindu, dan lima umat Buddha.

“Dari kebudayaan, pelayanan publik, hingga pendidikan, kita terus merawat Semarang sebagai rumah bersama yang menghormati martabat setiap warga,” ujarnya.

Upaya menanamkan toleransi sejak dini turut dilakukan melalui program Sekolah Laboratorium Pancasila. Nilai kebangsaan didorong hadir dalam keseharian siswa melalui keteladanan, gotong royong, kepedulian, dan sikap menghormati perbedaan.

Sebab, anak-anak tidak cukup hanya hafal sila-sila Pancasila. Mereka juga perlu melihat contoh nyata bagaimana orang dewasa memperlakukan tetangga yang berbeda keyakinan, membantu orang yang kesulitan, dan menyelesaikan perbedaan tanpa permusuhan.

Tirakatan lintas agama ini dikemas melalui obrolan santai yang menghadirkan delapan pengisi sesi dari berbagai latar belakang. Mereka adalah Romo Yohanes Febbry Bagas Pamungkas, MSF dari umat Katolik, dr I Komang Dipta Jananuraga (Hindu), Pdt Aryanto Nugroho (Kristen Protestan).

Lalu ada Bhikkhu Ditthisampano Mahatera (Buddha), Ws Andi Gunawan (Konghucu), Pipit (Penghayat Kepercayaan),  Sri Puji (Islam) serta Haryanto Halim dari unsur kemanusiaan.

Baca juga: Pawai MTQ Tampilkan Toleransi, Semarang Tegaskan Rumah bagi Semua

Kegiatan dilanjutkan dengan peneguhan oleh Romo Eduardus Didik Cahyono SJ, perwakilan Kevikepan Semarang bidang Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, serta doa bersama lintas agama.

Agustina berharap semangat srawung tidak ikut bubar setelah acara selesai. Warga perlu membawa kebiasaan saling menghormati ke lingkungan masing-masing, mulai dari komunikasi antar tetangga hingga kerja sama membantu masyarakat yang membutuhkan.

Ia juga berharap Kevikepan Semarang terus berkontribusi merawat persaudaraan dan memperluas pelayanan bagi masyarakat seiring perjalanan 60 tahunnya.

Pada akhirnya, toleransi tak selalu membutuhkan acara besar, panggung megah, atau doa bersama. Kadang ukurannya justru sesederhana tidak mengganggu tetangga yang sedang beribadah, tidak mempersoalkan perbedaan, dan mau membantu tanpa lebih dulu bertanya apa agamanya.

Sebab, kalau toleransi cuma ramai saat seremoni, sementara kehidupan sehari-hari masih penuh curiga, yang rukun mungkin acaranya, belum tentu warganya. Semarang tak cukup hanya dikenal sebagai kota toleran; warganya juga harus membuat toleransi terasa nyata. (tebe)

You Might Also Like

KemenPU Pantau Ruas Jalan Rembang-Lasem

Drama Hukum di Medan: Korban Pencurian Jadi Tersangka, Polisi Bilang Begini

Dana Seret, Venue Minim: PR Berat Jateng Buat Jaga Prestasi Olahraga

Pemkot Fokus Benahi BUMD Biar Setoran ke PAD Makin Nendang

Balik ke Indonesia, Jonathan Bustos Pilih PSIS

TAGGED:agustina wilujengheadlinekota toleranpemkot semarangSemarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Porprov Jateng 2026, Momentum Mendulang Manfaat Ekonomi
Next Article 555 Ribu Santri Jateng Diajak Jadi Pengusaha, Misi Berikutnya: Lawan Kemiskinan!

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Investasi Jateng Tembus Rp72,54 Triliun, Ahmad Luthfi Raih Penghargaan

Dari Lawang Sewu ke Layar Dunia, Agustina Bidik Semarang Jadi Kota Sinema

Notaris Go Digital, Integritas Harga Mati

150 Pelajar Semarang Adu Gagasan soal Keadilan dan Masa Depan

Jateng Bidik Investasi Rp110 Triliun hingga Akhir 2026

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi teknologi deepfake AI.
Hukum

Geger Deepfake AI SMAN 11 Semarang: Chiko Bikin Konten Bokis Mengerikan

Oktober 15, 2025
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan, saat ditemui di Gedung DPRD Jateng, Kamis (15/10/2026). (dul)
Hukum

Kapolda Jateng Respons Kabar OTT KPK Tangkap Bupati Klaten

Oktober 15, 2026
Info

Pompa Nambah, Jalan Mulus, Banjir Dikejar: Curhat Infrastruktur Wali Kota Semarang

Desember 18, 2025
KIAI CABUL - Kiai Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, mengaku wali untuk memanipulasi psikologi korban. Kiai Ashari mencabuli 50 santriwati, mayoritas korban berasal dari keluarga rentan.
Hukum

Kiai Pati Ngaku Wali Cabuli 50 Santriwati: Digilir di Samping Kamar Istri, Mayoritas Korban Yatim-Piatu

Mei 4, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semarang Kota Beragam, Agustina: “Toleransi Jangan Berhenti di Spanduk!”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?