BACAAJA, SEMARANG – Penanganan bullying hingga kekerasan dalam keluarga tak cukup hanya mengandalkan satu pihak. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ingin mendorong kolaborasi antara santri dan mahasiswa perguruan tinggi untuk ikut menjawab persoalan sosial tersebut.
Rencana itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat pembekalan penerima beasiswa santri di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026).
Gus Yasin mengatakan, kolaborasi akan dilakukan melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN). Mahasiswa perguruan tinggi umum dan santri Ma’had Aly direncanakan terjun bersama ke daerah yang membutuhkan pendampingan.
“Kami gabungkan nanti KKN dari kampus umum dan KKN Ma’had Aly di daerah yang membutuhkan agar mereka berdiskusi dan berkolaborasi,” ujarnya.
Bacaaja: Siswa SD Pemalang Meninggal, Dugaan Bullying Diselidiki
Bacaaja: Praktisi Hukum: Efek Jera Kasus Bullying Harus Libatkan Orang Tua
Menurut Gus Yasin, perpaduan ilmu akademis dan pendidikan keagamaan diharapkan bisa memberikan pendekatan yang saling melengkapi dalam menghadapi berbagai persoalan di masyarakat.
Ia menegaskan, program beasiswa bagi santri tidak semata-mata ditujukan untuk membantu biaya pendidikan. Ada harapan agar para penerima juga dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan sosial di lingkungan mereka.
Pada 2026, Pemprov Jateng memberikan beasiswa kepada 482 santri, terdiri atas 424 mahasantri Ma’had Aly dan 58 santri penggerak yang kuliah di perguruan tinggi umum serta tinggal di pondok pesantren.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap santri dan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademis, tetapi juga dapat bekerja bersama dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (dul)

