BACAAJA, KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat bukan cuma menyisakan lahan hangus dan asap tebal. Habitat orangutan Kalimantan ikut hancur, membuat satwa dilindungi ini kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber makanan.
Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah mengevakuasi 51 orangutan dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Proses penyelamatan berlangsung sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026.
Dari jumlah tersebut, 30 orangutan ditemukan di area perkebunan kelapa sawit PT KALE dan kawasan sekitarnya. Sebagian satwa yang diselamatkan mengalami masalah kesehatan setelah habitatnya terdampak kebakaran.
Lebih dari 90 Persen Kawasan HCV Terbakar
Dampak karhutla di Ketapang terbilang serius, terutama di kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) yang berada di area perkebunan PT KALE. Kerusakan ini membuat orangutan kehilangan tempat berlindung dan kesulitan mendapatkan pakan.
Analisis citra satelit pada periode 1 Agustus hingga 25 September 2026 menunjukkan lebih dari 90 persen kawasan HCV tersebut hangus terbakar. Padahal, publikasi ilmiah pada 2016 memperkirakan kawasan itu menjadi habitat sekitar 150 orangutan Kalimantan, dengan kepadatan rata-rata 5,49 individu per kilometer persegi.
Kebakaran juga berdampak pada kondisi fisik satwa. Sejumlah orangutan mengalami dehidrasi, kekurangan gizi, hingga luka yang diduga berkaitan dengan paparan api maupun kondisi lingkungan setelah kebakaran.
Saat ini, sebanyak 27 orangutan yang diselamatkan dari area perkebunan PT KALE dan sekitarnya masih menjalani perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang. Kondisi kesehatan mereka dilaporkan belum baik.
Lusi dan Riri Ditemukan Tanpa Induk
Tim gabungan juga menyelamatkan empat orangutan dalam operasi terbaru di Kabupaten Ketapang. Mereka terdiri dari dua orangutan remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak yang dikenal sebagai Mama Rian dan Rian.
Lusi dan Riri ditemukan pada 10 Oktober 2026 di kawasan HCV PT KALE. Keduanya diperkirakan berusia 4–6 tahun dan ditemukan tanpa induk. Situasi ini cukup mengkhawatirkan karena orangutan umumnya masih bergantung pada induknya hingga usia sekitar 6–7 tahun.
Lusi ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah hutan yang sudah terbakar. CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi terlihat sangat stres dan memiliki tubuh kurus.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan sulitnya mencari makanan setelah habitatnya rusak. Saat diperiksa, tim medis menemukan sejumlah luka gores dan luka terbuka cukup dalam di bagian punggung, bibir, serta anus Lusi. Luka itu diduga akibat gigitan satwa, kemungkinan anjing.
Selain mengalami luka, Lusi juga mengalami dehidrasi. Ia harus mendapatkan penanganan medis sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang.
Sementara itu, Riri ditemukan di atas pohon kelapa sawit dalam kondisi ketakutan dan dehidrasi. Tim kemudian menyelamatkan Mama Rian dan Rian dari kebun milik warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1–2 kilometer dari area konsesi PT KALE.
Keduanya ditemukan di kawasan yang terdampak kebakaran. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan tubuh Mama Rian dan Rian sangat kurus.
Misi Penyelamatan Belum Selesai
Karmele mengatakan upaya penyelamatan masih perlu dilanjutkan karena sejumlah orangutan diperkirakan masih bertahan di wilayah yang terdampak kebakaran. Kondisi lapangan juga belum sepenuhnya aman, sebab di beberapa titik asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap.
Orangutan yang tersisa menghadapi risiko terpapar panas dan bara api, sekaligus kesulitan menemukan makanan serta tempat berlindung. Tim gabungan pun terus memantau keberadaan satwa yang diduga masih berada di kawasan HCV yang terbakar.
Laporan warga menyebutkan beberapa orangutan bahkan mulai memasuki permukiman dan merusak tanaman maupun kebun. Situasi ini dikhawatirkan memicu konflik antara manusia dan satwa liar, terutama jika orangutan semakin sulit menemukan makanan di habitat aslinya.
YIARI menyayangkan minimnya persiapan dan komunikasi dari perusahaan dalam menghadapi kebakaran di kawasan tersebut. Lembaga itu berharap perusahaan memiliki komitmen nyata untuk memulihkan area yang rusak akibat karhutla.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengingatkan bahwa habitat orangutan tidak terbatas di kawasan konservasi. Satwa ini juga hidup di hutan lindung, hutan produksi, area konsesi perkebunan, hingga kawasan penggunaan lain.
Karena itu, pelaku usaha yang memiliki kawasan HCV perlu memastikan wilayah tersebut benar-benar berfungsi melindungi keanekaragaman hayati. Upaya yang diperlukan antara lain menjaga koridor pergerakan satwa, mencegah kebakaran, melakukan pengamanan rutin, serta menanam pohon lokal yang bisa menjadi sumber pakan orangutan.
Restorasi kawasan yang rusak juga menjadi langkah penting agar habitat satwa bisa pulih. Tanpa upaya pemulihan dan pencegahan yang serius, orangutan berisiko terus kehilangan ruang hidup dan semakin sering berhadapan dengan manusia. (*)

