BACAAJA, PEMALANG – Kematian seorang siswa SD berusia 7 tahun di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kini masuk penyelidikan polisi. Bocah tersebut meninggal setelah sempat mengeluh sakit dan menjalani perawatan, sementara muncul dugaan ia mengalami perundungan oleh kakak kelas.
Polres Pemalang tengah menelusuri dugaan keterlibatan tiga siswa yang disebut masih duduk di kelas 5 dan kelas 6. Polisi juga menggali informasi dari keluarga serta pihak-pihak yang mengetahui aktivitas korban sebelum kondisi kesehatannya memburuk.
Kasus ini mulai ditangani setelah polisi mendapat laporan warga pada Rabu (30/9/2026). Petugas kemudian mendatangi rumah duka di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Pemalang, untuk mengumpulkan informasi awal terkait kematian korban.
Awalnya Mengeluh Sakit di Sekolah
Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M Faizal Wildan Umar Rela mengatakan penyidik telah meminta keterangan orangtua korban, Nurwandi (43) dan Diah Indriyanti (36), serta sejumlah anggota keluarga.
Dari keterangan tersebut, korban diketahui sempat mengeluh sakit saat berada di sekolah pada Rabu (16/9/2026). Orangtua kemudian diminta datang dan korban akhirnya dipulangkan untuk mendapat penanganan.
Setelah itu, korban sempat dibawa ke klinik karena kondisi kesehatannya. Dari sana, ia kemudian dirujuk ke rumah sakit dan menjalani perawatan selama beberapa hari.
Korban dirawat di rumah sakit mulai Kamis (17/9/2026) hingga Kamis (24/9/2026). Setelah dinyatakan boleh pulang, korban masih menjalani perawatan di rumah selama sekitar enam hari dan belum kembali mengikuti kegiatan sekolah.
Kondisi Korban Terus Menurun
Kondisi korban kembali memburuk pada Rabu (30/9/2026). Saat itu, korban dilaporkan sempat tidak sadarkan diri di rumah.
Orangtua kembali membawa korban ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Korban dinyatakan meninggal sekitar pukul 17.00 WIB. Kematian tersebut kemudian dilaporkan kepada polisi karena muncul dugaan adanya kaitan dengan perundungan yang dialami korban.
Polisi Lakukan Autopsi
Untuk memastikan penyebab kematian, Polres Pemalang berkoordinasi dengan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) serta Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah.
Polisi kemudian melakukan autopsi terhadap jenazah korban pada Kamis (1/10/2026). Proses tersebut berlangsung di RSUD dr M Ashari Pemalang setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga.
Autopsi dilakukan untuk membantu penyidik mengetahui penyebab kematian secara lebih jelas. Setelah proses selesai, jenazah diserahkan kembali kepada keluarga untuk dimakamkan.
Tiga Kakak Kelas Didalami
Dalam penyelidikan, polisi turut mendalami dugaan perundungan yang melibatkan tiga siswa. Mereka disebut terdiri dari dua murid kelas 5 dan satu murid kelas 6.
Namun, polisi masih menggali fakta untuk memastikan bagaimana dugaan perundungan itu terjadi dan apakah benar memiliki kaitan dengan kondisi korban hingga meninggal dunia. Penyidik tidak hanya melihat dugaan pelaku, tetapi juga menelusuri rangkaian kejadian yang dialami korban.
Kasat Reskrim Polres Pemalang menegaskan penyelidikan dilakukan berdasarkan informasi dan keterangan yang dikumpulkan dari berbagai pihak. Polisi masih membutuhkan hasil pemeriksaan untuk memastikan duduk perkara kasus tersebut.
Dengan proses penyelidikan yang masih berjalan, polisi belum menetapkan kesimpulan akhir mengenai penyebab kematian korban maupun peran masing-masing siswa yang diduga terlibat.
Komisi III DPR Ikut Mengawal
Kasus ini juga mendapat perhatian Anggota Komisi III DPR, Abdullah. Ia mengatakan akan ikut mengawal penanganan perkara tersebut agar proses penyelidikan berjalan terbuka.
Abdullah meminta Polres Pemalang mengusut kasus tersebut secara cepat, menyeluruh dan transparan. Menurut dia, langkah itu penting supaya informasi yang beredar di masyarakat tidak berkembang menjadi spekulasi.
Ia mendorong polisi mengungkap seluruh rangkaian kejadian yang dialami korban. Mulai dari lokasi, waktu dan bentuk dugaan perundungan hingga orang-orang yang mengetahui atau berada di sekitar kejadian.
Selain proses hukum, Abdullah juga meminta pihak sekolah terbuka kepada keluarga korban. Informasi yang jelas dinilai penting agar keluarga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap anak mereka.
Kasus kematian siswa SD di Pemalang ini kini masih bergulir. Polisi terus mengumpulkan keterangan dan bukti untuk mengurai apakah dugaan perundungan oleh kakak kelas memang berkaitan dengan kondisi korban sebelum akhirnya meninggal dunia. (*)

