BACAAJA, SEMARANG – Aksi Hari Buruh alias May Day di kawasan Gubernuran Semarang, Jumat (1/5/2026) sore, nggak cuma dipenuhi orasi dan lautan massa. Di balik ramainya aksi, ada cerita lain yang ikut hidup, para pedagang kecil yang kebagian rezeki dadakan.
Salah satunya Ghufron (62), pedagang kaki lima yang tampak sibuk melayani pembeli di pinggir aksi. Dengan gerobak sederhana, ia memanfaatkan momen keramaian ini buat nambah pemasukan.
“Kalau hari biasa paling dapat sekitar Rp50 ribu. Tapi kalau ada event kayak gini ya lumayan naik,” ujarnya sambil tetap sigap melayani pembeli.
Bacaaja: Peradi SAI Semarang Sorot Potensi Kericuhan Aksi May Day, Singgung Risiko Salah Tangkap
Bacaaja: Demo May Day Semarang, Buruh Perempuan Tuntut Fasilitas Daycare hingga Cuti Haid
Buat Ghufron, kenaikan harga bukan sekadar cari untung lebih. Ia bilang, itu juga bentuk penyesuaian dengan kondisi di lapangan, mulai dari lonjakan pembeli sampai kebutuhan stok yang lebih banyak. Kalau biasanya jual Rp5.000, saat ramai bisa jadi Rp7.000.
Ia juga mengaku sudah langganan jualan tiap ada acara besar di kawasan tersebut, termasuk aksi demo. Buatnya, keramaian seperti May Day bukan cuma soal aksi, tapi juga peluang.
“Kalau ada aksi ya saya pasti jualan di sini,” katanya santai.
Nggak sendirian, Ghufron juga tergabung dalam Paguyuban UMKM Kota Semarang. Lewat komunitas ini, para pedagang saling berbagi info dan saling support biar tetap bisa bertahan di tengah persaingan.
Cerita Ghufron jadi gambaran kecil kalau di balik riuhnya aksi jalanan, roda ekonomi tetap berputar. Saat sebagian orang menyuarakan haknya, yang lain tetap berjuang di pinggir jalan, menjemput rezeki dengan cara mereka sendiri. (dul)

