BACAAJA, JAKARTA — Mayoritas respondes mengaku stres menghadapi kebijakan-kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pun mereka juga menyoroti polah-tingkah Presiden Prabowo.
Hasil survei Center of Economic and Law Studies (Celios) dalam laporan kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran, menyatakan 75 persen responden mengaku stres menghadapi kebijakan pemerintah.
Sementara itu, 67 persen responden survei Celios mengaku stres terhadap perilaku Presiden Prabowo Subianto.
Temuan tersebut masuk dalam Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran yang dipaparkan CELIOS pada Minggu (11/10/2026).
Bacaaja: Jokowi Seret Prabowo Turut Serta Dalam Pemakzulan Gibran
Bacaaja: Jokowi Bocorkan Isi Pembicaraan dengan Prabowo saat MK Putus Perkara Ijazah Gibran
Dalam survei terhadap 1.142 responden dari kelompok masyarakat umum, sebanyak 17 persen menyatakan tidak stres menghadapi kebijakan pemerintah, sedangkan 8 persen menjawab tidak tahu.
Untuk pertanyaan mengenai perilaku Prabowo, 23 persen responden menjawab tidak merasa stres dan 9 persen lainnya tidak tahu.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa survei tersebut berupaya melihat bagaimana masyarakat merasakan dampak kebijakan pemerintah dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami coba menanyakan terkait dengan perasaan stres terhadap kebijakan pemerintah. Dari 1.122 responden, jawabannya, 75 persen itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” kata Bhima dalam peluncuran laporan yang digelar secara virtual.
Celios menyimpulkan bahwa dampak pemerintahan tidak hanya tercermin dari penilaian terhadap kebijakan, tetapi juga dari tekanan yang dirasakan responden.
Harga Bahan Pokok hingga Lapangan Kerja Jadi Sorotan
Lantas, apa yang bikin responden merasa stres? Menurut Bhima, ada tiga persoalan yang paling banyak menjadi sumber tekanan, yaitu kenaikan harga bahan pokok, sulitnya mendapatkan pekerjaan, dan persoalan penegakan hukum.
Tekanan ekonomi juga terlihat dalam penilaian responden terhadap kondisi rumah tangga mereka. Sebanyak 53 persen menilai kondisi ekonomi keluarganya lebih buruk dibandingkan setahun sebelumnya.
Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca respons masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Selain meminta pendapat masyarakat umum, Celios turut mengukur pandangan kalangan ahli terhadap kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden Prabowo.
Dari 129 ahli yang memberikan penilaian, sebanyak 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan Presiden tidak memadai.
Kekhawatiran juga muncul saat para ahli ditanya mengenai gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Prabowo. Sebanyak 83 persen mengaku sangat khawatir, sementara 10 persen lainnya menyatakan khawatir.
Dengan demikian, total 93 persen ahli yang disurvei menyatakan khawatir atau sangat khawatir terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden.
Bagaimana Survei Ini Dilakukan?
Celios mengumpulkan data pada 15 September hingga 9 Oktober 2026. Survei masyarakat umum menggunakan metode nonprobability sampling melalui Meta Ads, kemudian hasilnya diberi pembobotan agar komposisi sampel mendekati karakteristik populasi acuan.
Karena menggunakan metode tersebut, hasil survei perlu dibaca dengan mempertimbangkan cara pemilihan responden dan cakupan penelitian. Angka-angka ini menggambarkan jawaban responden yang disurvei dan tidak otomatis mewakili seluruh masyarakat Indonesia.
Meski begitu, temuan Celios menyoroti sejumlah persoalan yang dirasakan responden, mulai dari kebijakan pemerintah, perilaku Presiden, kondisi ekonomi keluarga, hingga lapangan kerja dan penegakan hukum.
Bagi pemerintah, hasil survei ini menjadi salah satu gambaran tentang respons masyarakat dan kalangan ahli terhadap jalannya pemerintahan Prabowo–Gibran. (*)

