BACAAJA, SALATIGA– Ratusan guru PAUD di Jawa Tengah mulai diajak berkenalan lebih dekat dengan artificial intelligence (AI). Bukan untuk menggantikan guru, apalagi membuat anak sibuk menatap layar seharian, tetapi supaya teknologi bisa menjadi alat bantu untuk membuat proses belajar lebih kritis, etis, dan kreatif.
Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menyebut ada tiga hal yang tidak boleh ditinggalkan ketika AI mulai masuk ke dunia pendidikan. Pertama, daya kritis. Kedua, etika. Ketiga, kreativitas.
Pesan itu disampaikan Nawal saat memberikan arahan kepada ratusan guru PAUD peserta Pelatihan Robotik dan Coding bagi Tenaga Pendidik PAUD Berbasis STEAM di Kota Salatiga, Senin (5/10/2026).
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar penggunaan AI sekaligus bagaimana teknologi tersebut bisa dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Nawal, perkembangan teknologi yang ngebut harus diimbangi dengan pendampingan yang juga serius. Anak-anak jangan sampai hanya menjadi pengguna teknologi yang tahu cara menekan tombol, tetapi tidak tahu apa yang sedang mereka gunakan.
Baca juga: Dari Coding ke Solusi Nyata, Anak Muda Jateng Adu Inovasi AI
“Di tengah disrupsi teknologi yang luar biasa saat ini, kami mengajak pendidik untuk mendampingi anak-anak, bagaimana teknologi ini sebagai perantara untuk bisa meningkatkan daya kritisnya,” ujar Nawal.
Bagi Nawal, kemampuan berpikir kritis justru perlu dikenalkan sejak usia dini. Anak perlu dibiasakan membedakan mana informasi yang penting dan mana yang sekadar lewat. Termasuk mengenali informasi yang benar, hoaks, hingga mengetahui apakah sebuah sumber layak dipercaya atau tidak.
Sebab, di era ketika informasi bisa muncul dalam hitungan detik, kemampuan mencari informasi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kemampuan bertanya: “Ini benar nggak?”
Selain daya kritis, persoalan etika juga tidak boleh ditinggalkan. Anak perlu belajar menghargai karya orang lain dan memahami bahwa informasi yang ditemukan di internet bukan berarti bebas diambil begitu saja tanpa menyebut sumber. Jadi, teknologi boleh canggih. Tetapi tata krama digital tetap harus jalan.
Hal ketiga yang ditekankan Nawal adalah kreativitas. AI, menurut dia, seharusnya dimanfaatkan sebagai alat untuk memunculkan ide dan menghasilkan karya, bukan sekadar membuat anak menjadi konsumen konten.
“Dunia pendidikan ini dituntut untuk mampu beradaptasi dan berinovasi. Adaptasi dan integrasi teknologi dalam pendidikan bukan lagi bersifat pilihan Bapak Ibu, tetapi ini sudah menjadi kebutuhan kita bersama,” katanya.
Manfaat Positif
Nawal menilai adaptasi teknologi tidak bisa baru dimulai ketika anak sudah besar. Pasalnya, teknologi sekarang sudah menjadi bagian dari hampir semua aktivitas manusia, termasuk pendidikan.
Karena itu, pengenalan coding dan AI sejak dini dinilai penting agar anak tidak hanya tumbuh sebagai pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara positif.
“Ini kebutuhan yang kemudian kita harusnya siapkan sejak dini, karena teknologi telah menjadi teman yang selalu membantu semua aktivitas manusia, termasuk dalam pendidikan,” jelas Nawal.
Namun, urusan teknologi bukan satu-satunya target. Pelatihan tersebut juga diarahkan untuk mendukung program PAUD Emas, yakni PAUD berbasis masyarakat.
Program ini menjadi penting karena angka partisipasi kasar (APK) anak usia 0-6 tahun yang mengikuti pendidikan PAUD di Jawa Tengah masih berada di angka 48,61 persen. Artinya, masih ada banyak anak usia dini yang perlu dijangkau.
Baca juga: Ratusan Guru PAUD Belajar Coding
Untuk itu, TP Posyandu Jateng juga tengah menyiapkan modul pendukung PAUD Emas. Nantinya, sebanyak 49.149 lembaga Posyandu di Jawa Tengah didorong ikut membuka layanan pendidikan bagi anak usia dini.
“Kami baru proses untuk membuat modul, dan insyaallah tahun ini kami akan melakukan kegiatan PAUD Emas di posyandu-posyandu di Jateng,” pungkas Nawal.
Jadi, guru PAUD sekarang bukan cuma dituntut bisa mengajari anak mengenal huruf dan angka. Mereka juga mulai harus akrab dengan robotik, coding, AI, sekaligus memastikan anak tidak gampang termakan informasi palsu.
Sebab kalau AI sudah bisa berpikir cepat sementara manusianya malas berpikir, yang terjadi bukan pendidikan makin maju. Bisa-bisa yang pintar cuma teknologinya, sementara penggunanya tetap hobi percaya semua yang muncul di layar. (tebe)

