BACAAJA, BATANG – Lagi-lagi kasus keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi. Kali ini di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Korbannya bukan hanya siswa, tapi juga orang tua siswa.
Keracunan bermula saat siswa menyantap MBG pada Selasa (22/9/2026). Malam hari setelah menyantap MBG, banyak laporan siswa mengalami gejala keracunan. Rupanya, gejala keracunan tak hanya dialami oleh siswa, tapi juga orang tua yang turut menyantap MBG yang dibawa pulang anaknya.
Jumlah korban dari waktu ke waktu terus bertambah. Informasi terbaru per Rabu (23/9/2026) jumlah korban keracunan MBG mencapai 276 orang.
Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan angka tersebut masih bisa berubah. Pendataan terhadap warga yang mengalami keluhan masih dilakukan oleh pemerintah daerah.
Bacaaja: Kasus Keracunan MBG Bisa Berujung Pidana
Bacaaja: Siswa SLB Blitar Pingsan, Diduga Tahan Sakit Keracunan MBG
Pemkab Batang juga terus memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah layanan Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) Bawang yang memiliki sekitar 2.700 penerima manfaat.
“Perkembangan tetap kita tunggu. Yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir,” kata Suyono.
11 sekolah terdampak
Layanan SPPG Bawang menyasar sedikitnya 11 satuan pendidikan di Kecamatan Bawang. Di antaranya TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Namun, korban dugaan keracunan ternyata tidak hanya berasal dari siswa. Sejumlah orang tua murid juga mengalami keluhan setelah menyantap makanan MBG yang dibawa pulang anak mereka.
“Orang tua memakan dari sisa anak,” ujar Suyono.
Keluhan yang dirasakan antara lain mual dan pusing. Sebagian korban kemudian mendapat penanganan di fasilitas kesehatan. Sekitar 19 orang hingga kini tercatat menjalani perawatan di RSUD Kalisari Batang.
Pemkab Batang juga menyiapkan alternatif rujukan ke puskesmas yang memiliki layanan rawat inap apabila kapasitas rumah sakit penuh.
“Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap,” katanya.
Untuk memastikan penyebab kejadian, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sejumlah sampel makanan telah diamankan untuk diuji. Menu yang diperiksa antara lain nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan, dan anggur.
Sambil menunggu hasil laboratorium dan evaluasi terhadap standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan, distribusi MBG dari SPPG Bawang dihentikan sementara.
Pemkab Batang juga akan memanggil pihak yang bertanggung jawab atas operasional SPPG untuk dimintai keterangan.
“Ini program negara yang harusnya bagus, tapi tidak dijaga dengan baik,” ujar Suyono.
Meski jumlah korban sudah mencapai 276 orang, Pemkab Batang belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Untuk sementara, pemerintah masih fokus menangani korban, memperbarui pendataan, serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. (*)

