BACAAJA, SEMARANG- Ospek mahasiswa baru Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) tahun 2026 tidak sekadar menjadi pintu masuk bagi mahasiswa sebelum menjalani kehidupan perkuliahan. Tahun ini, isu konflik agraria turut dibawa dalam rangkaian kegiatan mahasiswa baru.
Tema tersebut diangkat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPGRIS untuk membuka ruang kesadaran mahasiswa terhadap persoalan lingkungan dan konflik agraria yang terjadi di sejumlah daerah.
Penanggung jawab teknis kegiatan, Zidan Try Kusuma mengatakan, tema konflik agraria dipilih karena isu tersebut dinilai masih relevan dengan kondisi yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jateng.
Baca juga: Bukan Cuma Gelar, Rektor UPGRIS Tekankan Makna di Balik Prestasi
Menurut dia, mahasiswa baru tidak hanya diarahkan mengenal lingkungan kampus, tetapi juga diharapkan lebih peka terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.
“Di tahun ini dari kami Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mengangkat tema isu konflik agraria,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Sejumlah konflik agraria di Jawa Tengah, seperti yang disebut terjadi di kawasan Pegunungan Kendeng, hingga Sumberejo, Pundenrejo Pati, menjadi konteks yang turut dibawa dalam pengenalan isu tersebut kepada mahasiswa baru.
Sementara itu, Senopati Mahesa, Steering Committee 1 BEM UPGRIS, mengatakan isu tersebut tidak berhenti sebagai tema dalam kegiatan. Mahasiswa baru juga mendapat penugasan membawa caping yang nantinya digunakan sebagai atribut.
Caping itu diposisikan sebagai simbol pengingat terhadap isu agraria yang menjadi tema kegiatan tahun ini. “Caping ini gunanya sebagai simbol pengingat, di mana nanti caping ini digunakan mahasiswa baru sebagai atribut,” kata Senopati.
Pembahasan Isu
Rangkaian pembahasan isu tersebut juga akan dilanjutkan melalui pernyataan sikap bersama mahasiswa baru pada Senin, 28 September 2026. Namun, Senopati memastikan tidak ada agenda aksi lanjutan.
BEM UPGRIS bersama mahasiswa baru hanya akan menyampaikan pernyataan sikap terkait isu agraria. “Iya, dari kami hanya pernyataan sikap saja,” ujarnya.
Pada tahun akademik 2026-2027, UPGRIS menerima 3.727 mahasiswa. Jumlah tersebut terdiri dari 3.042 mahasiswa baru program sarjana dan pascasarjana serta 685 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Baca juga: Kolaborasi UPGRIS-Bawaslu Demak, Ajak Guru Jadi ‘Sahabat Demokrasi’ Pemilih Pemula
Dengan mengangkat isu agraria dalam rangkaian penyambutan tersebut, kegiatan mahasiswa baru tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni awal memasuki dunia kampus. Lebih dari itu, mahasiswa juga diajak mulai mengenali berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di tengah masyarakat.
Sebab, masuk kampus ternyata tak melulu soal tahu letak gedung rektorat, kantin, atau ruang kelas. Tahun ini, mahasiswa baru UPGRIS juga diajak tahu bahwa di luar pagar kampus ada persoalan tanah dan lingkungan yang belum selesai. Caping pun akhirnya bukan cuma atribut ospek, semoga tidak berhenti jadi atribut setelah foto bersama selesai. (dul)

