BACAAJA, SEMARANG – Seprai kembali basah saat pagi hari, padahal anak sudah duduk di bangku sekolah? Orang tua tak perlu buru-buru memarahi atau menganggap anak sengaja mengompol. Pada sebagian anak, kemampuan mengontrol kandung kemih saat tidur memang belum sepenuhnya matang.
Mengompol saat tidur pada anak usia 5 tahun ke atas dikenal sebagai enuresis. Kondisi ini masih bisa ditemukan pada anak usia sekolah dan tidak otomatis menunjukkan adanya penyakit atau masalah perilaku.
Namun, bukan berarti keluhan tersebut boleh diabaikan begitu saja. Apalagi kalau anak yang sebelumnya sudah lama tidak mengompol tiba-tiba kembali mengalaminya, atau muncul keluhan lain seperti ngompol di siang hari, nyeri saat buang air kecil, hingga mendengkur keras saat tidur.
Mengompol Masih Bisa Terjadi di Usia Sekolah
Canadian Paediatric Society memperkirakan sekitar 5 persen anak berusia 10 tahun masih mengalami mengompol saat tidur. Jadi, meski anak sudah cukup besar, kejadian tersebut ternyata belum sepenuhnya langka.
Dokter biasanya membagi enuresis menjadi dua jenis. Enuresis primer terjadi ketika anak belum pernah benar-benar terbebas dari kebiasaan mengompol selama setidaknya enam bulan.
Sementara itu, enuresis sekunder terjadi ketika anak kembali mengompol setelah sebelumnya berhasil tidak mengompol selama minimal enam bulan. Pola kedua ini biasanya perlu diperhatikan lebih lanjut karena bisa berkaitan dengan pemicu baru.
Kenapa Anak Besar Masih Bisa Ngompol?
Kemampuan tetap kering sepanjang malam dipengaruhi beberapa sistem tubuh sekaligus. Kandung kemih harus mampu menampung urine, produksi urine saat malam perlu terkontrol, dan otak harus bisa membuat anak terbangun ketika kandung kemih sudah penuh.
Pada sebagian anak, sinyal dari kandung kemih belum cukup kuat untuk membangunkan mereka. Akibatnya, anak tetap tertidur meski kandung kemih sudah penuh.
Produksi urine pada malam hari yang terlalu banyak juga bisa menjadi faktor. Jika jumlah urine melebihi kapasitas kandung kemih, risiko mengompol menjadi lebih besar.
Faktor keluarga turut berpengaruh. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat mengompol juga lebih mungkin mengalami kondisi serupa.
Sembelit dan gangguan tidur juga bisa ikut berperan. Termasuk gangguan napas saat tidur yang biasanya ditandai dengan dengkuran cukup keras.
Stres juga terkadang berkaitan dengan munculnya kembali kebiasaan mengompol, misalnya setelah anak mengalami perubahan sekolah atau situasi keluarga. Meski begitu, mengompol tidak otomatis berarti anak sedang mengalami masalah psikologis.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?
Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak jika kebiasaan mengompol terus berlangsung atau muncul kembali setelah anak sempat bebas mengompol selama enam bulan.
Pemeriksaan juga penting jika anak mulai mengalami kebocoran urine pada siang hari. Keluhan seperti sembelit atau kebiasaan mendengkur keras ketika tidur juga sebaiknya disampaikan kepada dokter.
Ada tanda tertentu yang tidak boleh disepelekan. Jika mengompol disertai rasa sakit ketika buang air kecil, demam, atau urine bercampur darah, anak sebaiknya segera diperiksa karena kondisi tersebut bisa berkaitan dengan infeksi saluran kemih.
Dokter biasanya akan menggali riwayat keluhan dan melakukan pemeriksaan sesuai kondisi anak. Tes urine dapat dilakukan bila dari pemeriksaan ditemukan indikasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Jangan Bikin Anak Makin Malu
Di rumah, orang tua bisa membantu dengan membiasakan anak minum cukup sepanjang siang. Anak juga sebaiknya diajak buang air kecil secara rutin dan tidak lupa ke toilet sebelum tidur.
Akses menuju toilet juga sebaiknya dibuat mudah, terutama untuk anak yang masih sering mengompol. Minuman berkafein seperti teh dan kola sebaiknya dibatasi, khususnya menjelang waktu tidur.
Pelindung kasur bisa dipasang untuk mengurangi kerepotan ketika anak kembali mengompol. Orang tua juga dapat memberikan apresiasi atas kebiasaan yang memang bisa dikontrol anak, misalnya pergi ke toilet sebelum tidur.
Yang paling penting, jangan menghukum, mengejek, atau mempermalukan anak karena mengompol. Kebiasaan rutin membangunkan atau menggendong anak ke toilet juga tidak terbukti menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi enuresis.
Ada Pilihan Pengobatan
Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan beberapa pilihan penanganan. Salah satunya adalah alarm mengompol yang akan berbunyi ketika alat mendeteksi urine.
Tinjauan Cochrane pada 2020 yang mencakup 74 penelitian dengan 5.983 anak menemukan bahwa alarm mungkin membantu mengurangi jumlah malam ketika anak mengompol dibandingkan tanpa terapi. Namun, tingkat kepastian bukti penelitian tersebut masih rendah.
Pilihan lain adalah desmopresin, obat yang dapat membantu mengurangi produksi urine pada malam hari. Obat ini harus digunakan sesuai petunjuk dokter, termasuk mengikuti aturan pembatasan cairan karena penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko kadar natrium dalam darah menjadi terlalu rendah.
Jadi, anak usia sekolah yang masih mengompol tidak perlu langsung dicap malas atau nakal. Yang lebih penting adalah melihat polanya, memberikan dukungan tanpa mempermalukan anak, dan berkonsultasi dengan dokter jika kondisi menetap, muncul kembali, atau disertai gejala lain. (*)

