Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Guru China Gugat Posisi Bahasa Inggris di Sekolah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Guru China Gugat Posisi Bahasa Inggris di Sekolah

Nugroho P.
Last updated: September 18, 2026 2:14 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
ilustrasi mengajar Bahasa Inggris di China.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Perdebatan soal bahasa Inggris di sekolah kembali ramai di China. Kali ini, seorang guru matematika yang cukup populer, Tang Jiafeng, mengusulkan agar bahasa Inggris tidak lagi ditempatkan sebagai pelajaran wajib utama bagi seluruh siswa.

Usulan itu disampaikan Tang lewat media sosial pada awal September 2026. Ia mendorong agar bahasa Inggris cukup menjadi mata pelajaran pilihan, sehingga siswa tidak harus mempelajarinya dengan porsi yang sama seperti mata pelajaran inti lainnya.

Pernyataan tersebut langsung memancing respons publik. Di Weibo, topik soal usulan Tang bahkan sempat menjadi pencarian paling populer pada awal September, dengan orang tua, guru, pengamat pendidikan hingga tokoh media ikut meramaikan perdebatan.

Tang dikenal sebagai pengajar matematika yang fokus pada persiapan ujian masuk program pascasarjana. Menurutnya, anak-anak China seharusnya lebih dulu benar-benar menguasai bahasa Mandarin sebelum didorong mempelajari bahasa asing.

Ia juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “cinta buta terhadap segala sesuatu dari luar negeri”. Bagi Tang, perubahan posisi bahasa Inggris di sekolah perlu dipertimbangkan kembali sesuai kebutuhan pendidikan saat ini.

Selama puluhan tahun, bahasa Inggris memang punya posisi penting dalam sistem pendidikan China. Sejak akhir 1970-an, bahasa Inggris masuk dalam tiga mata pelajaran utama bersama Mandarin dan matematika.

Posisinya juga cukup menentukan dalam gaokao, yakni ujian masuk perguruan tinggi yang menjadi salah satu tahapan penting bagi siswa China. Karena itu, mengubah status bahasa Inggris bukan perkara sederhana.

Kini, perdebatan tersebut ikut bergeser ke persoalan lain, salah satunya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Kemampuan penerjemah berbasis AI yang makin canggih dianggap bisa mengubah cara orang mempelajari bahasa asing.

Kelompok yang mendukung gagasan Tang menilai siswa tidak perlu menghabiskan bertahun-tahun hanya untuk mempelajari bahasa asing jika teknologi sudah mampu membantu proses penerjemahan secara cepat.

Perubahan serupa bahkan mulai terlihat di lingkungan perguruan tinggi. Pada Juli 2026, Shenzhen University of Advanced Technology (SUAT) mengumumkan rencana menghapus mata kuliah bahasa Inggris secara bertahap.

Kampus tersebut memasukkan perkembangan teknologi penerjemahan real-time berbasis AI sebagai salah satu pertimbangannya. Sebagai gantinya, SUAT menyiapkan mata kuliah komunikasi lintas budaya yang membahas perbandingan budaya China dengan negara lain.

Kurikulum baru itu juga akan memanfaatkan perangkat AI untuk membantu siswa berlatih menyimak, berbicara, membaca, menulis hingga menerjemahkan. Dengan begitu, waktu di kelas bisa lebih banyak digunakan untuk membahas budaya, berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi.

Bukan cuma soal AI, sistem pengajaran bahasa Inggris di sekolah juga ikut mendapat sorotan. Sejumlah orang tua dan guru menilai pembelajaran selama ini terlalu mengejar tata bahasa serta nilai ujian.

Akibatnya, ada siswa yang mampu mengerjakan soal bahasa Inggris tetapi masih kesulitan ketika harus menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Fenomena tersebut kemudian disebut sebagai “dumb English” oleh Xiong Bingqi, Kepala 21st Century Education Research Institute di Shenzhen.

Menurut Xiong, kemampuan berbahasa Inggris memang tidak digunakan oleh sebagian besar pekerja dalam aktivitas profesional sehari-hari. Pandangan ini kemudian menjadi salah satu alasan pendukung usulan Tang mempertanyakan besarnya waktu belajar yang dialokasikan untuk bahasa Inggris.

Meski begitu, gagasan menghapus status bahasa Inggris sebagai mata pelajaran utama juga mendapat penolakan. Salah satu kekhawatiran terbesar berkaitan dengan akses pendidikan antara siswa dari keluarga kaya dan keluarga berpenghasilan rendah.

Jika sekolah mengurangi jam pelajaran bahasa Inggris, keluarga berada masih bisa mencari alternatif lewat guru privat atau sekolah internasional. Kondisi berbeda bisa dialami siswa dari keluarga kurang mampu yang tidak punya banyak pilihan di luar sekolah.

Guru bahasa Inggris di Guangdong, Cinderella Huang, menilai bahasa Inggris masih dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Di antaranya untuk mengakses universitas terkemuka, bepergian ke luar negeri hingga menggunakan sejumlah model AI.

Karena itu, jika pembelajaran bahasa Inggris terlalu banyak diserahkan kepada keluarga, muncul kekhawatiran kesenjangan pendidikan justru makin lebar. Sekolah negeri selama ini menjadi salah satu tempat utama bagi siswa dari berbagai latar belakang untuk mempelajari bahasa tersebut.

Kemampuan bahasa Inggris masyarakat China sendiri juga masih menjadi perhatian. Dalam indeks 2025, China berada di posisi ke-86 dari 123 negara dan wilayah dengan skor 464.

Posisi tersebut mengalami perubahan cukup jauh dibanding 2020 ketika China berada di peringkat ke-38. Data itu menjadi salah satu konteks dalam melihat perdebatan mengenai efektivitas pembelajaran bahasa Inggris di negara tersebut.

Sejumlah wilayah di China sebelumnya memang sudah mengambil langkah untuk mengurangi porsi bahasa Inggris dalam pendidikan. Shanghai, misalnya, menghapus ujian akhir bahasa Inggris bagi murid sekolah dasar pada 2021.

Namun, langkah tersebut belum berarti bahasa Inggris kehilangan statusnya sebagai pelajaran penting secara nasional. Sampai sekarang, bahasa Inggris masih masuk dalam kelompok mata pelajaran utama di sekolah China.

Pemerintah Beijing juga belum memberikan tanggapan terhadap usulan Tang Jiafeng. Dengan perkembangan AI yang makin cepat dan kebutuhan pendidikan yang terus berubah, perdebatan soal posisi bahasa Inggris diperkirakan masih akan terus bergulir.

Pada akhirnya, isu ini bukan cuma soal perlu atau tidaknya belajar bahasa Inggris. Di baliknya ada pertanyaan lebih besar tentang cara sekolah menyiapkan siswa menghadapi dunia yang makin terhubung, sekaligus memastikan akses pendidikan tetap terbuka bagi semua kalangan. (*)

You Might Also Like

Geger di Banyumas!! Kacang Rebus Jadi Menu MBG, Warganet Ragukan Standar Gizi

Kampus se-Jateng Diajak Perkuat Kolaborasi

Bocah Boyolali Bikin NASA Kasih Salut

Kabar Gembira! Ada Beasiswa Rp6 Juta per Orang untuk 420 Santri Ma’had Aly Jateng

Rahasia di Balik Mandi Wajib, Bukan Cuma Soal Suci, Tapi Begini

TAGGED:bahasa inggrisbahasa mandaringuru chinaprotes
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Zhang Yiming Bos Tik Tok Terkaya Se Asia, Harta Tembus Rp1.857 Triliun
Next Article HP Xiaomi Mulai Lemot? Cek Sisa Umurnya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

GUS YAZID--Gus Yazid mengenakan rompi tahanan, didampingi tim penasihat hukumnya, usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang. (bae)

Gus Yazid Gak Mau Kalah sama Jaksa, Nyusul Ikutan Banding Vonis Setahun

PSIS Resmi Datangkan Rifky Dwi Septiawan

Mulai 21 September, Jateng Hapus Denda dan Pajak Progresif Kendaraan

Razia Pajak ke Rumah Akhir September, Hoaks?

HP Xiaomi Mulai Lemot? Cek Sisa Umurnya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Undip Mulai Cari Wali Amanat Baru

Februari 5, 2026
Pendidikan

Mau Masuk SMK? Ini Jurusan yang Mulai Ditinggal Zaman

Januari 3, 2026
Pendidikan

10 Jurusan Kuliah yang Potensi Gajinya Tinggi

Agustus 31, 2026
Pendidikan

Daya Tampung Siswa Baru Kota Semarang Naik 15 Persen

Maret 9, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Guru China Gugat Posisi Bahasa Inggris di Sekolah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?