Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Wajib Tahu, Keracunan Makanan Anak Bisa Serang Saraf dan Ginjal
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Wajib Tahu, Keracunan Makanan Anak Bisa Serang Saraf dan Ginjal

Nugroho P.
Last updated: September 15, 2026 12:31 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG).
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Keracunan makanan pada anak ternyata bukan cuma soal muntah, diare, atau sakit perut. Di balik gejala yang terlihat setelah makan, ada risiko gangguan kesehatan lain yang bisa muncul belakangan, bahkan setelah keluhan awal mereda.

Contents
Efek Keracunan Bisa Muncul BelakanganBakteri Tertentu Bisa Picu Komplikasi SeriusBalita Termasuk Kelompok yang RentanKeracunan Tak Selalu Berasal dari BakteriKeamanan Makanan Dimulai dari DapurJangan Abaikan Keluhan Setelah Keracunan

Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), mengingatkan bahwa dampak keracunan makanan perlu diperhatikan dalam jangka panjang. Beberapa infeksi akibat makanan yang terkontaminasi dapat memicu masalah pada saluran pencernaan, sistem saraf, hingga ginjal.

Penjelasan tersebut disampaikan Prof. Damayanti dalam media briefing Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (11/9/2026). Menurutnya, hubungan antara penyakit yang muncul kemudian dan riwayat keracunan makanan sering kali tidak langsung dikenali.

Efek Keracunan Bisa Muncul Belakangan

Keracunan makanan atau foodborne illness terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala awalnya memang sering berupa muntah, diare, demam, dan sakit perut, tetapi masalah kesehatan tidak selalu berhenti setelah kondisi tersebut membaik.

Prof. Damayanti menjelaskan, beberapa jenis infeksi yang berasal dari makanan bisa menimbulkan gangguan jangka panjang. Dampaknya antara lain masalah pencernaan, gangguan neurologis, dan gangguan pada fungsi ginjal.

“Long term effect” atau dampak jangka panjang ini terkadang luput dari perhatian karena tidak selalu dikaitkan dengan kejadian keracunan sebelumnya. Akibatnya, penanganan terhadap keluhan yang muncul di kemudian hari bisa terlambat.

Bakteri Tertentu Bisa Picu Komplikasi Serius

Risiko komplikasi keracunan makanan juga bergantung pada mikroorganisme yang menjadi penyebabnya. Tidak semua bakteri menimbulkan dampak yang sama, sehingga jenis infeksi perlu diperhatikan.

Berikut beberapa contoh yang disampaikan Prof. Damayanti:

  • Campylobacter: Dapat berkaitan dengan komplikasi tertentu, termasuk gangguan saraf dan gagal ginjal.
  • Salmonella: Infeksinya dapat menimbulkan komplikasi yang tidak hanya menyerang saluran pencernaan.
  • Listeria: Pada kondisi tertentu, infeksi ini dapat menyebabkan meningitis atau peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang.

Komplikasi tersebut tidak selalu muncul bersamaan dengan gejala keracunan makanan. Karena itu, anak yang sudah mengalami keracunan tetap perlu dipantau jika muncul keluhan baru atau kondisi kesehatannya tidak kembali seperti semula.

Balita Termasuk Kelompok yang Rentan

Dampak keracunan makanan bisa berbeda pada setiap orang. Anak-anak, terutama balita, termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami kondisi berat, bersama lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Status gizi juga ikut berpengaruh terhadap kemampuan tubuh melawan infeksi. Anak yang mengalami kekurangan gizi berisiko memiliki daya tahan tubuh lebih rendah, sehingga lebih mudah terserang penyakit akibat makanan yang terkontaminasi.

Prof. Damayanti menekankan bahwa kondisi gizi anak perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan risiko infeksi. Semakin baik kondisi tubuh, semakin besar dukungan yang dimiliki untuk menghadapi gangguan kesehatan.

Keracunan Tak Selalu Berasal dari Bakteri

Istilah keracunan makanan sering langsung dikaitkan dengan bakteri. Padahal, foodborne illness dapat dipicu berbagai bahaya yang terdapat dalam makanan.

Secara umum, bahaya tersebut terbagi menjadi tiga kelompok:

  1. Biologis: Bakteri, virus, parasit, atau jamur.
  2. Kimiawi: Pestisida, bahan kimia dari proses pengolahan, atau zat pencemar lainnya.
  3. Fisik: Benda asing yang masuk ke dalam makanan.

Khusus pada keracunan yang disebabkan bakteri, masalahnya bisa terjadi karena infeksi bakteri, racun atau toksin yang dihasilkan bakteri, maupun gabungan keduanya.

Keamanan Makanan Dimulai dari Dapur

Pencegahan keracunan makanan perlu dilakukan sejak bahan pangan diolah hingga siap dikonsumsi. Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi sejumlah faktor, seperti jenis makanan, tingkat keasaman atau pH, suhu, lama penyimpanan, oksigen, dan kelembapan.

Pengendalian suhu menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Makanan yang sudah dimasak sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama dalam kondisi yang memungkinkan mikroorganisme berkembang.

Orangtua juga perlu memastikan makanan anak diolah dan disimpan dengan cara yang aman. Kebersihan bahan, peralatan, serta proses pengolahan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kontaminasi.

Jangan Abaikan Keluhan Setelah Keracunan

Muntah dan diare memang menjadi tanda yang mudah dikenali saat anak mengalami keracunan makanan. Namun, orangtua perlu memahami bahwa dampaknya bisa lebih luas dan tidak selalu langsung terlihat.

Jika setelah kejadian keracunan anak mengalami keluhan yang menetap, muncul gejala baru, atau kondisinya tidak kunjung membaik, orangtua sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Dokter dapat menilai apakah keluhan tersebut berkaitan dengan infeksi sebelumnya atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Keracunan makanan bukan sekadar gangguan kesehatan sesaat. Seperti dijelaskan Prof. Damayanti, sejumlah komplikasi bisa muncul dalam jangka panjang, sehingga kondisi anak tetap perlu diperhatikan meski gejala awal sudah mereda. (*)

You Might Also Like

Bupati Fadia Arafiq Ngaku Kaya Sejak Lahir, Lha Kok Korupsi?

Ibu Bukan Cuma Urus Rumah, Tapi Juga Bumi: Pesan Megawati di Hari Ibu

Sudewo Pengin Jadi Bupati Pati Lagi, Minta Doa Pendukung

Mantan Kaprodi Anestesi Undip Dituntut Tiga Tahun Bui Gara-Gara “Iuran Siluman”

Musim Rawan Bencana, Kepala Daerah Jangan Ghosting Warga

TAGGED:ginjalkeracunanMBGsaraf
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Bukan Cuma Lomba, Peserta Kaligrafi MTQ Dibikin Betah di Semarang
Next Article Bakteri Ditemukan di Menu MBG, Ini Cara Cegahnya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sawah Jangan Sampai Hilang, Jateng Minta Pusat Turun Tangan

Empat Aturan Masuk “Bengkel” DPRD Semarang

RAZIA SEL--Petugas menggeledah barang milik warga binaan dalam razia di area Lapas Semarang, Selasa (15/9/2025). (ist)

Senjata Rakitan hingga Alat Pemanas, Temuan saat Razia Sel Napi Lapas Semarang

Lulus Sekolah Rakyat, Habis Itu Mau ke Mana?

Persiapan Biliar Porwanas, Wartawan Joglosemar Adu Skill di Sleman

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Olahraga

Porprov 2026, KONI Jateng Segera Tentukan Venue Pertandingan

Mei 8, 2025
Warga ramai-ramai menyelamatkan pengendara motor yang terseret derasnya arus banjir di Kawasan Industri Candi Semarang, Kamis (26/2/2026).
Info

Banjir Parah Terjang Kawasan Industri Candi Semarang: Mobil Terendam, Motor Terseret Arus

Februari 27, 2026
Hukum

Pocong Keliling Cari Gift, Endingnya Dijemput Polisi

Mei 28, 2026
Hukum

Dari Kantor Kecamatan ke Kursi Bupati Cilacap, Kini di OTT KPK

Maret 13, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Wajib Tahu, Keracunan Makanan Anak Bisa Serang Saraf dan Ginjal
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?