BACAAJA, SEMARANG– Pemkot Semarang bergerak cepat menangani sampah setelah pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Lapangan Pancasila Simpang Lima.
Ribuan warga yang memadati lokasi membuat volume sampah meningkat. Namun, Pemkot Semarang tak ingin kemeriahan acara meninggalkan pekerjaan rumah bagi kota.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan kebersihan menjadi bagian dari pelayanan kepada masyarakat maupun tamu yang datang ke Kota Semarang.
“Kami ingin MTQ Nasional ini sukses penyelenggaraannya, tetapi juga sukses memberikan kenyamanan kepada masyarakat. Karena itu begitu kegiatan selesai, penanganan sampah langsung dilakukan. Jangan sampai kemeriahan acara meninggalkan persoalan kebersihan,” kata Agustina di Simpang Lima, Sabtu, (12/9/2026) malam.
Baca juga: Pembukaan MTQ Nasional Bisa Ditonton Bareng dari Videotron
Untuk penanganan pascaacara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang menyiagakan 20 personel. Lima personel bertugas menyisir Lapangan Simpang Lima bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP).
Sedangkan 15 personel lainnya menyisir kawasan lingkar luar, mulai Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, sejumlah venue hingga kawasan kuliner yang menjadi pusat aktivitas selama MTQ.
Armada pengangkut juga disiapkan. DLH mengerahkan dua kontainer dan dua dump truck, sementara DPKP menyiapkan tiga dump truck. Dengan kapasitas maksimal sekitar lima ton per unit, total kapasitas angkut yang disiapkan mencapai sekitar 35 ton.
“Ini bentuk kesiapan kita. Kita siapkan armada dan personel sesuai kebutuhan lapangan. Setelah massa bubar, petugas langsung menyisir dan mengangkut sampah supaya kawasan Simpang Lima dan sekitarnya kembali bersih,” ujar Agustina.
Penanganan sampah tidak berhenti setelah kawasan Simpang Lima kembali bersih. Pasalnya, MTQ Nasional XXXI masih berlangsung hingga 20 September 2026.
Sasaran Kebersihan
Aktivitas kafilah, panitia, tamu, pelaku usaha, dan masyarakat juga tersebar di berbagai lokasi. Karena itu, sasaran kebersihan mencakup venue perlombaan, area kuliner, kawasan pameran, hingga titik aktivitas kafilah dan masyarakat.
Penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas perangkat daerah. DLH bersama DPKP fokus menangani kawasan Simpang Lima, sedangkan Dinas Pekerjaan Umum menangani area di luar lingkar, terutama saluran dan drainase.
Agustina menilai pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan petugas dan armada pengangkut. Pengurangan serta pemilahan harus dilakukan sejak dari sumber.
“Kami tidak bisa hanya berpikir bagaimana mengangkut sampah sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah bagaimana sampah itu dikurangi, dipilah, dan dikelola sejak dari sumbernya. Ini menjadi pekerjaan bersama selama MTQ berlangsung,” ujarnya.
Baca juga: MTQ Nasional, Pemprov Siapkan 306 Nakes
Ia pun mengajak masyarakat, kafilah, dan panitia ikut menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya dan melakukan pemilahan jika memungkinkan.
“Pemerintah sudah menyiapkan petugas dan fasilitasnya, tinggal kita bersama-sama menjaga. Target kita jelas: MTQ sukses, masyarakat nyaman, pelayanan berjalan, dan Kota Semarang tetap bersih. Ini tanggung jawab kita bersama sebagai tuan rumah,” pungkasnya.
Bagi Pemkot Semarang, menjadi tuan rumah MTQ bukan sekadar memastikan acara berlangsung meriah. Setelah panggung dibongkar dan massa pulang, kota juga harus kembali nyaman digunakan masyarakat.
MTQ boleh meninggalkan kenangan, tapi jangan sampai meninggalkan tumpukan sampah. Kalau acara bisa disiapkan berbulan-bulan, masa urusan sampah cuma disiapkan setelah penuh? (tebe)

