BACAAJA, REMBANG – 777 orang di SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban sangat banyak. Terdiri dari 752 siswa dan 25 guru.
Ada lebih dari seribu orang yang menyantap MBG di SMAN 1 Lasem. MBG untuk sekolah tersebut berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem.
Pihak SPPG Soditan Lasem pun akhirnya buka suara. Kepala SPPG Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah, siswa, dan orangtua.
“Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orangtua, dan para siswa,” kata Achmad, Kamis (3/9/2026).
Bacaaja: Lagi-lagi Keracunan MBG! 752 Siswa dan 25 Guru SMAN 1 Lasem Diare Massal
Bacaaja: Gak Cuma Satu! Emil Ungkap 19 Lembaga Pendidikan Terdampak Keracunan MBG di Sidoarjo
SPPG juga memastikan akan bertanggung jawab terhadap penanganan warga sekolah yang terdampak. Biaya pengobatan akan ditanggung sampai siswa dan guru dinyatakan pulih.
“Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban,” ujarnya.
Achmad juga menyebut kejadian ini menjadi bahan evaluasi besar-besaran. Seluruh prosedur operasional standar (SOP) di SPPG Soditan Lasem akan dievaluasi.
“Ini menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi total. Kami akan memperbaiki seluruh SOP agar kelalaian serupa tidak pernah terulang kembali,” katanya.
Keluhan muncul sehari setelah santap MBG
Kejadian ini bermula setelah paket MBG dibagikan pada Rabu (2/9/2026). Makanan dibagikan sekitar pukul 11.45 WIB. Siswa dan guru kemudian menyantapnya saat jam istirahat sekitar pukul 12.00 WIB.
Menu yang diberikan cukup lengkap. Ada nasi, ayam bakar grill, tempe, lalapan, sambal teri goreng, dan potongan buah semangka.
Namun, sejumlah siswa sempat mengeluhkan rasa semangka yang disebut asam. Buah tersebut juga dikemas menggunakan plastik.
Keesokan paginya, Kamis (3/9/2026), keluhan mulai bermunculan. Siswa yang masuk kelas mulai mengaku mengalami diare. Laporan pun datang bertubi-tubi.
Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan pihak sekolah langsung melakukan pendataan di setiap kelas.
“Tadi pagi anak-anak masuk, ada yang bilang ‘Pak, saya diare’. Begitu guru mendata di masing-masing kelas, dalam beberapa menit langsung masuk laporan ada 777 orang (total guru dan siswa) yang diare,” ujarnya.
Jumlahnya bikin situasi sekolah langsung kelabakan. Toilet sekolah sampai overload karena banyak siswa harus menggunakannya secara bersamaan.
Sekolah akhirnya memulangkan seluruh 1.174 siswa. Keputusan tersebut diambil setelah jumlah warga sekolah yang mengalami keluhan mencapai sekitar 61 persen.
Dari ratusan siswa dan guru yang mengalami diare, beberapa di antaranya mengalami kondisi lebih berat. Empat siswa dan satu guru akhirnya dibawa ke Puskesmas Lasem karena terus mengalami muntah. (*)

