BACAAJA, TABANAN– Desa wisata memang harus punya daya tarik. Tapi membuat wisatawan datang ternyata bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Setelah wisatawan tiba, ada hal yang tak kalah penting: memastikan warga, produk UMKM, bangunan, hingga aktivitas ekonomi di dalamnya tetap aman.
Sebab, desa wisata bukan sekadar kumpulan spot foto, rumah tradisional, kuliner, kerajinan, atau pertunjukan budaya. Di balik semua itu ada masyarakat yang menggantungkan hidup dari geliat pariwisata.
Karena itu, pengelolaan desa wisata dinilai perlu dilakukan secara lebih menyeluruh, termasuk menyiapkan sistem mitigasi bencana dan perlindungan terhadap aset ekonomi milik masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena saat berada di Nuanu, Tabanan, Bali, Jumat (28/8/2026). Ia menyoroti pentingnya aspek pencegahan kebakaran setelah mendapat informasi mengenai persoalan kebakaran yang terjadi di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB.
Menurut Samuel, Desa Sade merupakan salah satu destinasi yang menjadi perhatian Kementerian Pariwisata. Namun, pengembangan destinasi tidak cukup hanya mengejar jumlah wisatawan dan mempercantik kawasan.
Baca juga: Jateng Targetkan 1.000 Desa Wisata + 1.000 Kreator di 2027
Ada masyarakat lokal yang menjadi bagian utama dari ekosistem desa wisata. Ada pengrajin, pedagang, pelaku kuliner, pengelola homestay, pekerja seni, hingga pelaku ekonomi kreatif lainnya. Mereka bukan sekadar pelengkap destinasi.
Produk yang dipajang di desa wisata juga bukan barang yang muncul begitu saja. Ada modal, bahan baku, waktu, keterampilan, dan kreativitas warga yang terkandung di dalamnya.
“Kalau setahu saya, di Kementerian Pariwisata sudah menjadi fokus untuk mereka karena ini adalah objek unggulan mereka,” ujar Samuel. Namun, ia mengingatkan, perhatian terhadap desa wisata juga perlu menyentuh aspek keamanan.
Terutama pada destinasi yang memiliki bangunan tradisional, menggunakan material lokal, serta dipenuhi berbagai produk kerajinan yang mudah terbakar.
Menurut Samuel, pengalaman yang terjadi di Desa Sade seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Sistem pencegahan kebakaran perlu dipikirkan sejak awal, bukan setelah kejadian.
“Kalau kemudian saya mendapat info bahwa kebakaran di sini sering terjadi karena permasalahan materi dari kampung itu sendiri, itu memang mungkin yang perlu dipikirkan preventif dari berbagai display produk di sana itu harusnya seperti apa,” katanya.
Bagi Samuel, konsep desa wisata idealnya tidak berhenti pada bagaimana membuat kawasan terlihat menarik. Penataan bangunan, instalasi listrik, lokasi penyimpanan barang, display produk, jalur evakuasi hingga kesiapan menghadapi bencana perlu masuk dalam perencanaan.
Tantangan Sama
Apalagi karakter desa wisata di berbagai daerah Indonesia relatif memiliki tantangan yang sama. Banyak yang mempertahankan bangunan tradisional dan menggunakan material lokal sebagai bagian dari daya tarik.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi juga terus tumbuh. Produk UMKM semakin banyak. Wisatawan semakin ramai. Transaksi semakin tinggi. Artinya, nilai aset yang berada di dalam kawasan desa wisata juga semakin besar. “Betul, saya rasa semua desa wisata. Sudah pasti arsip dasar harus ada di pusatnya,” ujar Samuel.
Arsip tersebut bisa menjadi bagian dari sistem pengelolaan aset desa wisata. Data mengenai produk, pemilik atau pembuat, jenis barang hingga dokumentasi dapat membantu ketika terjadi kerusakan, kehilangan maupun bencana.
Samuel mengaku pernah melihat langsung Desa Sade. Namun, saat itu dirinya belum secara khusus menanyakan mengenai sistem pencegahan kebakaran terhadap produk yang dipamerkan.
“Saya pribadi sudah pernah lihat di sana, tapi saya pribadi belum pernah mempertanyakan prevention dari desa tersebut terhadap produk-produk yang didisplay seperti apa,” jelasnya.
Baca juga: Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar
Catatan tersebut sebenarnya relevan untuk pengembangan desa wisata secara keseluruhan. Desa wisata harus dilihat sebagai sebuah ekosistem. Ada budaya, alam, masyarakat, UMKM, ekonomi kreatif, akomodasi, kuliner, transportasi dan tentu saja wisatawan dan semua bagian tersebut saling berkaitan.
Ketika jumlah wisatawan meningkat, misalnya, otomatis aktivitas ekonomi ikut bergerak. Produk UMKM terjual lebih banyak, penginapan semakin ramai dan ruang publik semakin aktif.
Tetapi semakin besar aktivitas tersebut, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem keamanan. Karena itu, pengembangan desa wisata semestinya berjalan beriringan antara promosi dan mitigasi. Bukan hanya bagaimana membuat wisatawan datang, tetapi juga bagaimana membuat mereka nyaman dan aman selama berada di lokasi.
Termasuk memastikan warga yang menjadi pemilik cerita dan budaya desa tidak justru menjadi pihak yang paling rentan ketika bencana terjadi. Pada akhirnya, kekuatan desa wisata bukan hanya terletak pada pemandangan yang indah atau tradisi yang unik. Kekuatan utamanya ada pada masyarakat yang menghidupkan destinasi tersebut.
Desa wisata memang boleh dibuat secantik mungkin untuk Instagram. Tapi jangan sampai yang dipikirkan cuma angle foto, sementara kabel listrik, material bangunan, penyimpanan produk, jalur evakuasi dan alat pemadam masih dianggap urusan belakangan.
Sebab, kalau bencana datang, yang hilang bukan cuma spot wisata bisa jadi ikut lenyap modal, karya, dan penghasilan warga yang sudah dibangun bertahun-tahun. (tebe)

