BACAAJA, SEMARANG – Berbicara tentang wisata di kawasan Pecinan Semarang, banyak orang mungkin langsung teringat klenteng tua, kuliner legendaris, atau ramainya Pasar Gang Baru. Namun bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kranggan, ada satu sosok lain yang tak kalah menarik untuk diperkenalkan kepada publik, yakni para Ibu Gendong.
Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang setiap hari membantu pengunjung membawa barang belanjaan di Pasar Gang Baru. Meski profesi ini telah ada sejak puluhan tahun lalu, keberadaannya masih bertahan hingga sekarang.
Ketua Pokdarwis Kranggan, Hengky Hidayat Pranadya, mengatakan para Ibu Gendong merupakan bagian penting dari kehidupan pasar yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kawasan tersebut.
Bacaaja: Dari Gang Baru Pecinan ke Desa Wisata, Mimpi Besar Kranggan yang Beranjak Jadi Nyata
Bacaaja: Tembok Mural hingga Festival Mooncake Internasional, Geliat Wisata Pecinan Semarang
“Ibu Gendong ini sudah menjadi bagian dari kehidupan Gang Baru sejak lama. Sampai sekarang mereka masih setia bekerja membantu para pembeli,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Berbeda dengan jasa angkut pada umumnya, para Ibu Gendong tidak memasang tarif khusus. Pengunjung biasanya memberikan upah secara sukarela sesuai kemampuan dan banyaknya barang yang dibawa.
“Mereka tidak menentukan tarif. Pembeli memberi seikhlasnya, tetapi mereka tetap bekerja dengan penuh semangat setiap hari,” kata Hengky.
Tak hanya membantu mengangkat barang, para Ibu Gendong juga dikenal sangat memahami seluk-beluk pasar. Mereka hafal lokasi pedagang, mengetahui harga barang, bahkan sering membantu pembeli menemukan tempat yang menawarkan harga lebih murah.
“Kadang mereka justru memberi informasi ke pembeli kalau ada barang yang lebih murah di lapak lain. Mereka sudah sangat mengenal pasar ini,” jelasnya.
Menurut Hengky, keberadaan Ibu Gendong bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan nilai sosial dan budaya yang kuat. Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, profesi tersebut tetap bertahan dan menjadi bagian dari identitas Pasar Gang Baru.
Karena itu, Pokdarwis Kranggan berencana mengangkat kisah para Ibu Gendong sebagai bagian dari promosi wisata budaya yang sedang dikembangkan.
“Kami ingin mengenalkan mereka kepada masyarakat yang lebih luas. Bukan untuk mengubah profesinya, tetapi menunjukkan bahwa masih ada perempuan-perempuan tangguh yang bekerja keras setiap hari demi keluarganya,” ujarnya.
Yang membuat Hengky kagum, sebagian besar Ibu Gendong yang masih aktif bekerja saat ini sudah berusia lanjut. Meski demikian, mereka tetap mampu mengangkat barang dengan berat puluhan kilogram setiap harinya.
“Ada yang masih sanggup membawa barang sampai puluhan kilogram. Menurut saya itu luar biasa dan layak mendapat apresiasi,” katanya.
Ke depan, kisah para Ibu Gendong akan menjadi salah satu narasi yang melengkapi potensi wisata Kranggan. Tidak hanya menampilkan bangunan bersejarah atau kuliner khas, tetapi juga menghadirkan cerita tentang orang-orang yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kawasan tersebut.
“Yang ingin kami angkat bukan hanya tempatnya, tetapi juga manusianya. Karena mereka adalah bagian dari cerita besar Kranggan. Salah satunya ya Ibu Gendong ini,” pungkas Hengky.
Di tengah geliat Kranggan menuju kawasan wisata budaya, para Ibu Gendong menjadi bukti bahwa daya tarik sebuah destinasi tidak selalu berasal dari bangunan megah atau fasilitas modern. Terkadang, justru cerita tentang kerja keras, ketulusan, dan kehidupan sehari-hari warga menjadi hal yang paling membekas bagi para pengunjung. (dul)

