BACAAJA, MEDAN – Siapa sangka bonggol jagung yang biasanya dianggap sisa justru punya pasar menjanjikan di luar negeri. Dari Sumatera Utara, komoditas tersebut ternyata cukup diminati Jepang dan sudah beberapa kali dikirim sepanjang 2026.
Nilainya pun bukan receh. Dalam lima kali pengiriman sepanjang tahun ini, ekspor bonggol jagung asal Sumut tercatat mencapai Rp1,089 miliar.
Angka tersebut naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kepala Karantina Sumatera Utara N Prayatno Ginting mengatakan pada 2025 ekspor bonggol jagung tercatat Rp451,562 juta dari tujuh kali pengiriman.
“Nilai tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang mencapai Rp451.562.000 dari tujuh kali pengiriman,” kata Prayatno dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).
Pengiriman terbaru dilakukan pada Jumat (28/8/2026). Kali ini, sebanyak 126.000 kilogram bonggol jagung dikirim menuju Jepang.
Prayatno mengatakan salah satu kunci agar komoditas tersebut bisa terus masuk pasar Jepang adalah memastikan seluruh persyaratan ekspor terpenuhi. Jepang dikenal cukup ketat dalam urusan standar kesehatan tumbuhan.
Karena itu, sebelum dikirim, bonggol jagung harus melewati serangkaian pemeriksaan. Petugas Karantina Sumatera Utara mengecek dokumen, kondisi fisik komoditas, hingga mengambil sampel untuk diuji di laboratorium.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan bonggol jagung memenuhi persyaratan kesehatan tumbuhan. Selain itu, komoditas juga harus dipastikan bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).
Pengawasan tidak berhenti di pemeriksaan fisik dan laboratorium. Petugas juga memastikan proses perlakuan fumigasi dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Setelah seluruh proses dinyatakan memenuhi syarat, hasil pemeriksaan menjadi dasar penerbitan phytosanitary certificate atau sertifikat kesehatan tumbuhan. Dokumen tersebut menjadi salah satu syarat penting dalam proses ekspor.
Prayatno mengatakan kepastian standar dan keamanan produk menjadi salah satu faktor yang membuat pasar Jepang tetap terbuka. Negara tujuan ekspor pun dinilai lebih percaya untuk melakukan pemesanan ketika persyaratan karantina bisa dipenuhi dengan baik.
“Kami akan terus berupaya maksimal mendorong ekspor agar berjalan lebih baik, lancar, dan aman sesuai dengan persyaratan karantina,” ujarnya.
Menurut Prayatno, ekspor bonggol jagung giling ke Jepang menjadi sinyal bahwa komoditas pertanian dari Sumatera Utara punya peluang lebih luas di pasar internasional.
Selama ini, bonggol jagung kerap dipandang sebagai limbah atau bagian yang tidak terpakai. Namun, permintaan dari Jepang menunjukkan bahwa komoditas tersebut ternyata bisa diolah dan memiliki nilai ekonomi.
Potensi itu dinilai masih bisa dikembangkan lebih jauh. Apalagi, tren nilai ekspor pada 2026 menunjukkan peningkatan meski jumlah pengiriman justru lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) juga berkomitmen mendukung kelancaran ekspor komoditas pertanian dari Indonesia. Pengawasan dilakukan agar produk yang dikirim sesuai dengan standar negara tujuan.
“Melalui pengawasan dan fasilitasi ekspor, Barantin berkomitmen memastikan komoditas Indonesia dapat memenuhi standar negara tujuan sekaligus mendorong peningkatan nilai ekonomi bagi pelaku usaha dan daerah,” kata Prayatno.
Dengan permintaan Jepang yang masih berjalan, bonggol jagung asal Sumut kini punya cerita baru. Bukan lagi sekadar sisa panen, tetapi bisa menjadi salah satu komoditas pertanian yang ikut menghasilkan cuan dari pasar global. (*)

