BACAAJA, JAKARTA – Siapa sangka sosok di balik raksasa teknologi Microsoft ternyata pernah merasa matematika itu membosankan. Bill Gates mengaku semasa SMP dirinya justru kurang bergairah saat harus berhadapan dengan pelajaran yang belakangan menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan teknologinya.
Cerita itu dibagikan Gates saat berbincang dengan Sal Khan, pendiri Khan Academy. Ia mengenang masa ketika masih duduk di kelas delapan dan belum melihat matematika sebagai sesuatu yang menarik.
Padahal, gurunya sudah melihat Gates punya potensi besar. Sang guru bahkan berusaha mencari cara agar muridnya yang satu ini lebih tertarik belajar, termasuk memberinya buku untuk dibaca.
“Saat awal belajar matematika, saya agak malas,” kata Gates dalam wawancara tersebut.
Gates mengaku saat itu dirinya merasa materi yang dipelajari kurang seru. Ia bahkan pernah menyampaikan kepada gurunya bahwa kegiatan belajar yang dilakukan belum terasa menarik.
Namun, buku yang diberikan sang guru perlahan membuat cara pandangnya berubah. Gates mulai melihat bahwa sesuatu yang terasa praktis dan bisa langsung diterapkan justru punya daya tarik tersendiri.
“Hal ini mengubah semua pandangan saya tentang pendidikan. Menurut saya, semakin sedikit usaha yang Anda lakukan, hal itu semakin keren,” ujarnya.
Perjalanan Gates kemudian berlanjut ke Universitas Harvard. Meski sempat menikmati pengalaman belajar di kampus bergengsi tersebut, ia akhirnya memilih meninggalkan bangku kuliah pada 1975 untuk membangun Microsoft bersama Paul Allen.
Keputusan itu diambil karena Gates merasa perkembangan dunia komputer sedang melaju cepat. Ia khawatir jika tetap bertahan di kampus, dirinya justru kehilangan momentum revolusi komputasi yang sedang berlangsung.
Meski menjadi contoh terkenal soal mahasiswa yang drop out lalu sukses besar, Gates tetap menyarankan mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi. Menurutnya, kuliah tetap memberikan pengalaman dan pendidikan yang berharga.
Di dunia kerja, Gates dikenal punya etos kerja yang sangat tinggi. Saat masih berusia 30-an hingga 40-an, ia bahkan mengaku pernah berlomba dengan rekan-rekannya untuk tidur sesedikit mungkin demi pekerjaan.
Namun, gaya hidup itu kini sudah berubah. Gates lebih memperhatikan kesejahteraan dirinya, termasuk memantau kualitas tidur untuk menjaga kesehatan otak.
Menariknya, ada sisi lain Gates yang mungkin tidak banyak diketahui. Pendiri Microsoft itu ternyata juga cukup dekat dengan dunia game.
Dalam sebuah tulisan di blog pribadinya, Gates membahas novel “Tomorrow, and Tomorrow, and Tomorrow” karya Gabrielle Zevin. Buku tersebut bercerita tentang dunia video game dan membuat Gates teringat pada pengalamannya sendiri.
“Saya tidak pernah mengira saya akan bersinggungan dengan buku tentang game, tetapi saya suka Tomorrow, and Tomorrow, and Tomorrow,” tulis Gates.
Gates awalnya merasa dirinya belum pantas disebut gamer. Alasannya sederhana, ia tidak menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk memainkan game atau mendalami berbagai seluk-beluknya.
Meski begitu, ia mengaku sejak muda sudah menikmati permainan arcade. Salah satu yang paling ia kuasai adalah Tetris, game puzzle yang populer pada era 1980-an.
Belakangan, Gates juga rutin memainkan sejumlah game online ringan. Ia menyebut Spelling Bee dan berbagai varian Wordle sebagai beberapa permainan yang pernah ia mainkan.
Karena definisi gamer sekarang makin luas, Gates akhirnya merasa tak masalah jika dirinya ikut disebut gamer. Menurutnya, seseorang tak harus menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar untuk bisa menikmati permainan.
“Dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai memainkan banyak permainan online seperti Spelling Bee dan beberapa varian Wordle,” kata Gates.
“Definisi seorang gamer menjadi jauh lebih luas dan lebih inklusif, dan mungkin adil untuk mulai memanggil saya begitu,” lanjutnya. (*)

