BACAAJA, JAKARTA – Banjir bandang yang menerjang Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, ternyata bukan sekadar akibat hujan deras.
Hasil kajian Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI) menyebut bencana tersebut dipicu hujan ekstrem yang berkaitan dengan Siklon Senyar.
Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, mengatakan hasil kajian menunjukkan pengaruh siklon tersebut terhadap hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Garoga.
“Hasil temuan karena Siklon Senyar mengakibatkan banjir bandang,” kata Eko dalam siaran pers di Jakarta, kemarin.
Bacaaja: Energi Bersih Listrik RI Tembus Target
Bacaaja: Korban Nyawa Banjir di Sumatera Terus Melonjak, BNPB: 303 Orang Tewas
Data pemodelan hidrologi dan hidrodinamik terkait bencana pada 25 November 2025 menunjukkan curah hujan harian di wilayah tersebut mencapai 229,7 milimeter.
Nggak cuma sehari. Akumulasi hujan dalam sepekan bahkan tembus lebih dari 600 milimeter.
Menurut kajian tersebut, intensitas hujan itu setara dengan periode ulang 300 tahun. Hujan ekstrem tersebut kemudian memicu longsoran besar di wilayah hulu. Dan di sinilah masalah makin serius.
Ribuan Titik Longsor Bermunculan
Hasil pencitraan satelit mendeteksi sekitar 1.572 titik longsor di wilayah hulu. Sebanyak 81 persen titik longsor itu berada di kawasan hutan dengan kondisi lereng curam hingga sangat curam.
Material longsoran kemudian terbawa aliran air menuju hilir. Lumpur dan material longsor menutup aliran sungai. Aliran yang terbendung akhirnya jebol. Banjir bandang pun terjadi.
“Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur akan menutup di saluran, jebol dan terjadilah banjir bandang,” jelas Eko.
Bagaimana dengan Perubahan Lahan?
Kajian I-SER UI juga melihat perubahan tutupan lahan di DAS Garoga sepanjang 1990-2026.
Memang ada perubahan dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Tapi porsinya disebut hanya sekitar 10 persen dari total luas DAS Garoga yang mencapai 445 kilometer persegi.
Menurut Eko, perkebunan sawit tersebut mayoritas berada di bagian bawah DAS.
Karena itu, berdasarkan kajian tersebut, perubahan lahan sawit itu tidak menjadi faktor utama dalam banjir bandang yang terjadi.
Spekulasi soal aktivitas pertambangan di Aek Pahu juga muncul setelah bencana terjadi.
Namun, Eko mengatakan hasil kajian tidak menemukan hubungan antara aktivitas pertambangan tersebut dengan banjir bandang Garoga.
Posisi Aek Pahu berada di sebelah selatan. Aliran air dari wilayah pertambangan disebut mengarah ke bagian hilir Sungai Garoga yang sudah mendekati laut.
Artinya, aliran tersebut berada di luar sistem sungai yang terdampak banjir bandang.
Jadi, berdasarkan kajian I-SER UI, hujan ekstrem menjadi pemicu utama. Hujan tersebut kemudian memicu longsoran di wilayah hulu hingga material longsor membendung aliran sungai dan akhirnya menyebabkan banjir bandang.
Bencana ini sekaligus menunjukkan satu hal penting: ketika hujan ekstrem bertemu lereng curam dan longsoran di wilayah hulu, dampaknya bisa sangat besar dalam waktu singkat. (*)

