BACAAJA, SUBANG— Bulog lagi-lagi bikin sejarah, guys. Kali ini, stok beras mereka tembus angka fantastis: 4,2 juta ton! Tapi jangan senang dulu—di balik kabar “mewah” ini, ada masalah yang enggak kalah besar: serapan gabah dari petani jeblok parah. Dari target 1,5 juta ton, Bulog baru nyerap sekitar 300 ribu ton aja. Sisanya? Petani jual ke tengkulak dengan harga yang sering nggak manusiawi.
Hal ini jadi sorotan panas Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI pas kunjungan kerja mereka ke Gudang Bulog Subang, Jawa Barat, Senin (8/9/2025).
Ketua Panja, Alex Indra Lukman, bilang langsung: “Ini masalah distribusi dan operasional. Bulog kesulitan menyalurkan stok, padahal masyarakat lagi butuh banget beras. Kalau dibiarkan, Bulog gagal jadi stabilisator harga.”
Serapan yang rendah ini bikin posisi petani makin sulit. Sesuai mandat, Bulog cuma boleh nyerap 10% dari total produksi nasional (sekitar 3 juta ton). Kalau kuota itu udah full di awal musim panen, artinya di akhir musim, petani kehabisan opsi. Ujung-ujungnya, gabah dilempar ke tengkulak dengan harga nyesek.
Kebayang dong, gimana rasanya kerja keras di sawah cuma buat dapat bayaran yang gak sepadan?
Makanya, Panja mendorong desain ulang pola serapan Bulog. “Nggak bisa diserap sekaligus di awal panen. Harus merata sepanjang musim. Jadi, petani tetap aman, tengkulak enggak bisa main harga seenaknya, dan Bulog punya stok berkelanjutan,” lanjut Alex.
Sementara itu, anggota Panja lainnya, Khalid, juga menyorot soal harga beli. Pemerintah udah tetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di angka Rp 6.500/kg. Tapi sayangnya, itu cuma berlaku kalau petani jual ke Bulog. Di luar itu, banyak yang tetap dapat harga di bawah standar.
“Rp 6.500 itu bukan sekadar angka di atas kertas. Harus sampai ke tangan petani. Jangan cuma berlaku buat transaksi Bulog doang,” tegas Khalid.
Dia juga ingetin, kalau petani terus dirugikan, bukan nggak mungkin mereka ogah nanam padi lagi. Padahal, kebutuhan pangan nasional sangat bergantung dari mereka. So, ini bukan cuma soal harga—ini soal masa depan ketahanan pangan kita.
Misi Panja sekarang jelas: bikin sistem yang adil buat semua. Biar petani nggak terus-menerus jadi korban, dan kita semua tetap bisa makan nasi tanpa mikir harga beras naik terus.(*)

