BACAAJA, SEMARANG – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya terjadi di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Kahutla di Jawa Tengah sepanjang 2026 juga meningkat drastis.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, hingga 23 Agustus, telah terjadi 232 kejadian karhutla atau melonjak sekitar 700 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sejumlah wilayah tercatat menjadi titik kejadian karhutla, di antaranya Klaten, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, Blora, Banyumas, Kudus, Kota Semarang, dan Kota Tegal.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan lonjakan kebakaran tersebut juga menimbulkan kerugian. Dari keseluruhan kerugian akibat kebakaran yang mencapai Rp34,4 miliar, sekitar Rp2 miliar di antaranya berasal dari karhutla.
Bacaaja: Rp33,4 Miliar Hangus Jadi Abu, Estimasi Kerugian 447 Kasus Kebakaran di Jateng
Bacaaja: Antisipasi Kebakaran Hutan, Jateng Bentuk Satgas Karhutla
“Jumlah kerusakan hutan dan lahan serta bangunan diperkirakan kerugiannya Rp34,4 miliar. Karena dalam kurun bersamaan ada 315 kali kejadian kebakaran gedung dan permukiman lalu ada 547 kejadian kebakaran,” kata Bergas, Kamis (27/8/2026).
Bergas menjelaskan, Rp32,4 miliar merupakan kerugian akibat kebakaran gedung dan permukiman. Sementara kerugian yang ditimbulkan karhutla diperkirakan mencapai Rp2 miliar.
Menurutnya, kejadian kebakaran juga menunjukkan kecenderungan meningkat hampir setiap bulan. Dari seluruh objek yang terbakar, lahan menjadi yang paling dominan dengan persentase 72,1 persen.
“Hutan 24,5 persen dan TPA 3,4 persen,” ujarnya.
Tak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, kebakaran yang terjadi sepanjang periode tersebut juga berdampak pada masyarakat.
Telan 6 korban tewas
Secara keseluruhan, rangkaian kejadian kebakaran hingga 23 Agustus menyebabkan enam orang meninggal dunia, 292 rumah terbakar, serta 382 bangunan terdampak.
BPBD Jateng mencatat kebakaran tidak hanya dipicu oleh kondisi lingkungan, tetapi juga aktivitas manusia. Berdasarkan analisis Pusdalop BPBD Jateng, korsleting listrik menjadi salah satu penyebab terbesar dengan persentase 23,40 persen.
Sementara itu, pembakaran sampah menyumbang sekitar 21,76 persen. Sisanya berasal dari kelalaian masyarakat maupun faktor lainnya.
Melihat tingginya kejadian kebakaran, BPBD Jateng meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.
Masyarakat juga diimbau tidak membakar hutan dan lahan serta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala juga penting dilakukan untuk mencegah kebakaran dari korsleting.
“Termasuk menyiapkan alat pemadam api ringan atau APAR untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran,” kata Bergas. (dul)

