Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Curhat ke AI Bisa Jadi Bumerang Remaja
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Curhat ke AI Bisa Jadi Bumerang Remaja

Nugroho P.
Last updated: Agustus 14, 2026 8:00 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi curhat ke AI.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Curhat ke AI sekarang terasa gampang banget. Tinggal buka chatbot, ketik semua keresahan, lalu dalam hitungan detik muncul jawaban yang seolah-olah memahami perasaan kita.

Buat sebagian remaja, cara ini bahkan terasa lebih nyaman dibanding cerita kepada teman atau orang dewasa. AI dianggap tidak menghakimi, selalu tersedia, dan bisa diajak ngobrol kapan saja.

Tapi di balik kenyamanan itu, ada risiko yang nggak boleh disepelekan. Kebiasaan menjadikan AI sebagai tempat utama untuk mencurahkan masalah bisa membuat remaja salah memahami batas antara respons mesin dan empati manusia.

Kepala petugas kesehatan Crisis Text Line, dr. Shairi Turner, MD, MPH, mengingatkan bahwa AI memang mampu memberikan informasi, refleksi, sampai kalimat yang menenangkan. Namun, mesin tidak benar-benar memahami pengalaman hidup seseorang.

Masalahnya makin serius ketika remaja sedang menghadapi tekanan mental yang berat. Respons AI belum tentu mampu mengenali perubahan kecil yang menjadi tanda seseorang sedang berada dalam kondisi berbahaya.

Dalam situasi krisis, konselor manusia punya kemampuan untuk menilai keselamatan, menggali kondisi secara langsung, dan menentukan apakah seseorang membutuhkan bantuan segera. Hal seperti ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.

Dukungan psikologis juga bukan cuma soal memberikan jawaban yang terdengar menenangkan. Ada kepercayaan, hubungan emosional, kemampuan membaca situasi, serta proses saling memahami yang terbentuk lewat interaksi antarmanusia.

Risiko lain yang muncul adalah kemampuan sosial remaja bisa ikut tergerus. Masa remaja merupakan fase penting untuk belajar menghadapi perbedaan pendapat, menerima kritik, mengelola emosi, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Kalau semua keluhan selalu diarahkan ke mesin, kesempatan untuk berlatih menghadapi percakapan nyata bisa makin sedikit. Padahal, kemampuan tersebut bakal sangat dibutuhkan ketika mereka memasuki dunia kuliah, kerja, maupun kehidupan sosial yang lebih luas.

AI juga bisa melewatkan sinyal-sinyal kecil yang biasanya ditangkap manusia. Nada bicara, ekspresi wajah, perubahan perilaku, hingga bahasa tubuh dapat memberikan petunjuk penting mengenai kondisi seseorang.

Ada persoalan lain yang nggak kalah mengkhawatirkan, yakni bias konfirmasi. Sistem AI tertentu bisa cenderung mengikuti pola pembicaraan pengguna sehingga responsnya terasa membenarkan apa yang sedang dipikirkan.

Bagi remaja yang sedang tertekan, respons seperti itu bisa menjadi masalah. Pikiran negatif yang seharusnya ditantang justru berpotensi makin kuat karena mendapatkan validasi terus-menerus dari mesin.

Akibatnya, remaja bisa merasa sudah mendapatkan dukungan yang cukup. Mereka pun berisiko menunda bercerita kepada orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional.

Meski begitu, bukan berarti AI harus dijauhi sepenuhnya. Teknologi ini tetap punya manfaat jika ditempatkan pada posisi yang tepat.

AI bisa membantu mencari informasi, memberikan ide untuk mengelola stres, atau menjadi pintu awal untuk menemukan sumber bantuan kesehatan mental. Yang penting, teknologi tidak dijadikan pengganti hubungan dengan manusia.

Dr. Turner menyarankan AI lebih baik dipakai untuk memperkuat akses menuju layanan kesehatan mental, bukan menggantikan konselor, psikolog, dokter, atau orang terdekat.

Orangtua juga tidak perlu langsung panik ketika mengetahui anaknya sering curhat dengan AI. Yang lebih penting adalah membuka obrolan tanpa menghakimi.

Tanyakan apa yang biasanya dibicarakan anak dengan AI dan kenapa ia merasa lebih nyaman bercerita kepada mesin. Dari situ, orangtua bisa memahami kebutuhan anak sekaligus mengarahkan mereka agar tetap punya ruang untuk berinteraksi dengan manusia.

Pada akhirnya, AI boleh jadi teman ngobrol tambahan. Tapi untuk persoalan yang menyangkut kesehatan mental, apalagi ketika sudah muncul tanda bahaya, manusia tetap nggak bisa digantikan begitu saja oleh layar dan algoritma. (*)

You Might Also Like

Cocok Banget Buat Pemudik! Zikir di Tanjakan dan Turunan ala Rasulullah

Tips Kembalikan Mobil Sehat Usai Mudik Lebaran Panjang

Gas Mudik Gratis Jakarta 2026, Ini Klik Linknya!

Buah Favorit Bisa Jadi Kunci Berat Badan Tetap Aman dan Nyaman

Lagi Ngetren Makanan Kukus, Sehat Beneran atau Cuma FOMO?

TAGGED:AIcurhatremaja
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Down Syndrome Bisa Diintip Sejak Awal Hamil
Next Article Ajari Anak Ngatur Uang dari Hal Kecil

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

DITUNTUT BERALAH: Sekda Cilacap Sadmoko Danardono dituntut bersalah dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (29/9/2026). (bae)

Sekda Cilacap Dituntut Hukuman Lebih Ringan dari Bupati, Cuma 4 Tahun Penjara

BARANG BUKTI - Petugas kepolisian menunjukkan barang bukti celurit dan sepeda motor yang digunakan remaja asal Sragen yang acung-acungkan senjata tajam di Underpass Joglo, Kota Solo.

Viral Acungkan Celurit di Underpass Joglo Solo, Dua Remaja Sragen Klepek-klepek Ditangkap Polisi

RESMIKAN PONPES--Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani, merangkul santri tunanetra dalam acara peresmian Pondok Pesantren Sahabat Mata di Semarang, Selasa (29/9/2026). (ist)

Pesantren Khusus Tunanetra di Semarang, Santri Dibekali Keterampilan

DITUNTUT BERALAH: Bupati Cilacap nonaktif Syamsul Auliya Rachman dituntut bersalah dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (29/9/2026). (bae)

Bupati Cilacap Dituntut 7 Tahun Penjara, Hak Dipilih Dicabut 3 Tahun

Lisa Punya Bayi Lagi, Anak Gajah Lahir Sehat

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi berbagai jenis gula.
Tips

Lebih Aman Pakai Gula Buatan atau Gula Murni Saat Buka Puasa? Simak Ini Bedanya

Februari 26, 2026
Tips

Suka Mandi Tengah Malam? Baca Dulu Risikonya

Februari 24, 2026
Tips

Mudik Ngebut Tapi Waktu Salat Datang, Begini Cara Praktisnya

Maret 15, 2026
Tips

Begini Bentuk Hisab Amal di Hari Kiamat

September 25, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Curhat ke AI Bisa Jadi Bumerang Remaja
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?