BACAAJA, MALANG – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Desa Pandanajeng, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, kini siap naik kelas.
Pelaku UMKM Pandanajeng semakin familiar dengan cashless, tak lagi ada uang kertas tunai dalam transaksi. Mereka lebih sering bertransaksi menggunakan pembayaran digital melalui QRIS.
Transformasi pembayaran digital ini didampingi oleh mahasiswa FISIP Bakti Desa (FBD) Arcapada 2026 Kelompok 11 Universitas Brawijaya (UB), dalam kegiatan yang digelar di Balai Desa Pandanajeng pada Rabu (9/7/2026).
Bacaaja: Psikologi Fisip UB Ajak Siswa MA Mambaul Ulum Susun Masa Depan
Bacaaja: Dari NIB Sampai QRIS, Mahasiswa KKN Undip Kini Tak Hanya Bawa Proposal
Pada kesempatan itu, 26 pelaku UMKM dan pedagang kaki lima (PKL) dijarai secara mudah menggunakan QRIS. Selama tiga jam, peserta tak hanya mendapat materi soal pembayaran digital, tetapi juga langsung didampingi membuat QRIS hingga siap digunakan.
Acara dibuka oleh Kepala Desa Pandanajeng, Muhammad Edy Mansyur, yang mengapresiasi inisiatif mahasiswa menghadirkan pelatihan yang dinilai relevan dengan kebutuhan pelaku usaha saat ini.
Selanjutnya, Koordinator Desa FBD 11 UB, Zafnat Michael, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar UMKM semakin siap menghadapi perkembangan teknologi sekaligus mampu memberikan pelayanan yang lebih praktis kepada pelanggan.
“Kami perkenalkan berbagai manfaat QRIS. Mulai dari cara menerima pembayaran digital, proses pencairan dana, hingga keuntungan menggunakan transaksi non-tunai dalam menjalankan usaha,” ujar Zafnat.
Suasana pelatihan pun berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi dan bertanya mengenai penggunaan QRIS agar benar-benar memahami sistem pembayaran digital tersebut.

Tak berhenti di sesi teori, mahasiswa FBD 11 UB juga mendampingi peserta secara langsung saat proses pendaftaran QRIS. Mulai dari pengisian data, registrasi, hingga mencetak kode QR yang kemudian langsung diserahkan kepada masing-masing pelaku usaha.
Menariknya, pendampingan tidak hanya dilakukan di Balai Desa. Mahasiswa juga mendatangi pelaku usaha yang belum sempat hadir melalui metode door to door agar manfaat program bisa dirasakan lebih luas.
Lewat program ini, mahasiswa berharap semakin banyak UMKM di Desa Pandanajeng yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kehadiran QRIS diharapkan bisa membuat transaksi lebih mudah, pelayanan semakin cepat, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi digital di desa.
Program ‘UMKM go Digital’ menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Bukan hanya memberikan edukasi, tetapi juga memastikan para pelaku usaha benar-benar siap memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnis mereka agar lebih modern, inklusif, dan berdaya saing. (*)

