Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketika Gen Z Keliru Memahami Spiritualitas Jawa
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ketika Gen Z Keliru Memahami Spiritualitas Jawa

Redaktur Opini
Last updated: Agustus 5, 2026 3:16 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Yuli Retno Indah Peratiwi adalah mahasiswi Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Tinggal di Jalan Gajah, Semarang.

Kesalahpahaman itu muncul karena Kejawen kerap dipandang hanya dari sisi mistisnya.

Belakangan ini, banyak anak muda berlomba-lomba “healing” ke gunung. Di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang malu mengakui masih menjalankan tradisi Jawa, tetapi rajin mengecek zodiak, tarot, atau konten manifestasi di TikTok.

Ironisnya, yang datang dari luar negeri sering dianggap modern, sedangkan yang tumbuh di halaman sendiri justru dicap kuno bahkan sesat. Padahal, Kejawen bukan agama tandingan dan bukan pula sekadar praktik klenik. Kejawen merupakan sistem nilai sekaligus filosofi hidup yang telah lama membentuk cara pandang masyarakat Jawa.

Dengan demikian, Kejawen dan agama-agama resmi di Indonesia bukan dua rel yang saling bertabrakan, melainkan dua bahasa yang menerjemahkan kegelisahan spiritual manusia Jawa yang sama.

Kesalahpahaman itu muncul karena Kejawen kerap dipandang hanya dari sisi mistisnya. Padahal, dalam sejarah kebudayaan Jawa, nilai-nilai Kejawen justru banyak berharmonisasi dengan ajaran agama.

Konsep sinkretisme, menurut KBBI, merupakan perpaduan beberapa paham untuk mencari keserasian. Dalam Islam Jawa, tradisi seperti slametan, tahlilan, dan sedekah bumi menjadi bentuk akulturasi budaya selama tetap berorientasi kepada Allah dan tidak mengubah akidah.

Penelitian mengenai penyebaran Islam di Jawa, termasuk melalui pendekatan yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar, menunjukkan bahwa penyesuaian terhadap budaya lokal membuat dakwah lebih mudah diterima masyarakat.

Hal serupa juga tampak dalam Kristen Jawa. Walaupun sinkretisme sering dipandang secara kritis karena dikhawatirkan mencampurkan ajaran pokok agama, unsur budaya Jawa tetap dapat dimanfaatkan selama tidak mengubah inti keimanan.

Selain itu, tembang macapat menjadi media penyampaian nasihat religius yang menggambarkan perjalanan hidup manusia, sedangkan wayang dimanfaatkan Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah dengan memasukkan nilai kejujuran, ketakwaan, dan tanggung jawab.

Bahkan, tradisi ziarah di sejumlah daerah masih menjadi ruang kebersamaan lintas agama. Semua contoh tersebut memperlihatkan bahwa Kejawen lebih tepat dipahami sebagai bahasa lokal untuk menghayati ajaran universal agama. Bukan sebagai pesaingnya.

Menariknya, anak muda hari ini cenderung lebih mudah menerima spiritualitas impor, seperti astrologi Barat, buku self-help, atau mindfulness korporat, tanpa banyak curiga. Namun, mengapa manifestasi di TikTok sering dianggap masuk akal, sementara tapa langsung dicurigai sebagai praktik berbahaya?

Padahal, nilai-nilai Kejawen seperti narima, sumeleh, serta eling lan waspada memiliki keselarasan dengan konsep kesehatan mental modern, seperti acceptance, mindfulness, self–awareness, hingga pengendalian emosi. Bedanya, istilahnya saja yang lokal sehingga terdengar kurang “estetik” di linimasa.

Lucunya, sebagian orang lebih takut terkena santet daripada menyerahkan kode OTP kepada penipu yang jelas-jelas nyata. Kita rela membayar mahal untuk “self-care ritual”, tetapi menganggap selametan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.

Mungkin yang sebenarnya perlu disembuhkan bukan Kejawennya, melainkan cara kita memandang warisan budaya sendiri.

Pada akhirnya, Kejawen bukan ancaman bagi iman, melainkan salah satu kekayaan cara beriman ala Nusantara. Mengenal Kejawen bukan berarti berpindah keyakinan, melainkan memperkaya cara memahami nilai-nilai kehidupan yang telah lama hidup berdampingan dengan agama. Sebab, warisan budaya tidak akan membuat iman goyah. Yang membuatnya rapuh justru prasangka yang lahir dari ketidaktahuan.(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

Perempuan Itu Jatuh Berkali-Kali Tetapi Tetap Bangkit dan Terus Bertahan

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Ketika Pemanfaatan Anggaran Negara Menjauh dari Kepentingan Rakyat

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Sinaran Semarang Cari Bibit Ilmuwan Masa Depan
Next Article Main Padel di Semarang Kini Ramah di Kantong

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Agustina Tegaskan Trans Semarang Bukan Bisnis

JUARA REBANA--Tim DM Group asal Kediri menerima hadiah secara simbolis usai menjadi juara pertama Festival Rebana Nasional 2026 yang jadi rangkaian MTQ di Kota Semarang. (ist)

DM Group Kediri Juara Festival Rebana MTQ Nasional di Semarang

Wali Kota Solo Respati Ardi.

Sengketa Sriwedari, Wali Kota Solo Ungkap Fakta Mengejutkan: Ibu Saya Ahli Waris, tapi . . .

Kasus Dugaan Pengeroyokan Advokat di Jl Veteran Naik Penyidikan

Lapas Purwodadi Gelar Shalat Istisqa, Pegawai dan Peserta Magang Diajak Introspeksi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh

Maret 3, 2026
Opini

Terjepit di Antara Narasi yang Saling Berbenturan

Juni 29, 2026
Opini

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Februari 22, 2026
EkonomiOpiniTips

Mengapa Shopee Affiliate Menjadi Primadona Kerja Sampingan Mahasiswa?

Juli 9, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketika Gen Z Keliru Memahami Spiritualitas Jawa
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?