Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ruang Aman Jadi Kebutuhan, Seniman Teater Semarang Dorong Korban Kekerasan Seksual Berani Bersuara
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Ruang Aman Jadi Kebutuhan, Seniman Teater Semarang Dorong Korban Kekerasan Seksual Berani Bersuara

R. Izra
Last updated: Juli 26, 2026 10:57 am
By R. Izra
5 Min Read
Share
DUKUNG KANAL ADUAN SENIMAN - Seniman teater di Semarang mendukung peresmian kanal aduan kekerasan seksual untuk para pelaku seni oleh Dekase. (dul)
DUKUNG KANAL ADUAN SENIMAN - Seniman teater di Semarang mendukung peresmian kanal aduan kekerasan seksual untuk para pelaku seni oleh Dekase. (dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Luka kekerasan seksual tak pernah bisa benar-benar hilang dari ingatan. Ia membekas, dan bertahan lama. Seniman teater Semarang mendorong korban untuk berani bersuara.

Di balik panggung yang menjadi ruang berekspresi, persoalan kekerasan seksual masih menjadi bayang-bayang bagi sebagian pelaku seni. Seniman teater Semarang, Nila Dianti, menilai korban membutuhkan ruang aman agar berani berbicara dan tidak lagi memendam pengalaman yang dapat meninggalkan luka seumur hidup.

Hal itu disampaikan Nila saat menjadi narasumber dalam gelar wicara peluncuran kanal pengaduan “Suarakan, Lindungi, Lawan” di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Sabtu (25/7/2026).

Bacaaja: Dunia Seni Tak Selalu Aman, Dekase Luncurkan Kanal Anti Kekerasan Seksual Lindungi Seniman
Bacaaja: Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Menurut Nila, isu kekerasan seksual di lingkungan kesenian sebenarnya bukan persoalan baru. Namun, perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual dan berani membicarakannya.

“Untuk isu kekerasan seksual memang dari dulu. Sekarang mungkin terasa lebih banyak karena media sosial sudah sangat masif,” ujarnya.

Perempuan yang aktif di dunia teater sejak 2012 itu mengatakan, meningkatnya kesadaran membuat pelaku seni mulai memahami batas antara interaksi yang wajar dan tindakan yang termasuk kekerasan seksual.

“Kalau sekarang teman-teman sudah mulai sadar, oh batasan bahwa ini adalah sebuah tindakan kekerasan seksual itu seperti ini,” katanya.

Meski demikian, Nila meyakini praktik kekerasan seksual maupun tindakan yang membuat seseorang merasa tidak nyaman masih terjadi. Sayangnya, banyak korban memilih diam karena menganggap perlakuan tersebut sebagai hal yang lumrah dalam proses berkesenian.

“Masalah kekerasan seksual tindakannya menurut saya masih ada. Cuma enggak semua itu diomongin. Mereka kadang masih merasa bahwa ini tindakan yang masih bisa dinormalisasikan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti relasi kuasa yang masih kerap terjadi di dunia seni, terutama antara pelaku seni senior dan mereka yang baru bergabung. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian orang sulit menyampaikan keberatan meski merasa tidak nyaman.

Dalam dunia teater, misalnya, seorang aktor bisa diminta menjalankan adegan yang menurutnya telah melewati batas. Namun karena menghormati sutradara atau pihak yang memiliki posisi lebih tinggi, keberatan itu sering kali dipendam.

“Misal dalam ranah kesenian teater, pengadeganan yang menurut saya sebagai aktor sudah melewati batasan. Itu bisa sedikit tricky dan harus diomongin,” ujarnya.

Karena itu, Nila menilai komunikasi menjadi kunci dalam setiap proses kreatif. Setiap pelaku seni harus memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut atau intimidasi.

Ia juga mengaku pernah mengalami pengalaman yang berkaitan dengan kekerasan ketika masih berada di awal perjalanan sebagai seniman. Meski terjadi di lingkungan seni, peristiwa tersebut bukan terjadi dalam proses produksi karya, melainkan berkaitan dengan persoalan persetujuan (consent) di luar aktivitas berkesenian.

“Kalau saya ada waktu kecil itu di ranah kesenian juga ada. Namun bukan dalam proses pengkaryaan, lebih ke consent di luar pengkaryaan, tapi masih sama-sama seniman,” ungkapnya.

Kini, ia bersyukur lingkungan berkesenian yang dijalaninya telah membangun komunikasi yang lebih terbuka sehingga setiap proses kreatif selalu mengedepankan persetujuan seluruh pihak yang terlibat.

Bagi Nila, kehadiran kanal pengaduan “Suarakan, Lindungi, Lawan” menjadi langkah penting agar korban tidak lagi merasa sendirian ketika mengalami kekerasan seksual.

Ia mengingatkan bahwa pengalaman menjadi korban bisa meninggalkan trauma yang bertahan sangat lama, meski kehidupan tampak kembali berjalan normal.

“Harus tahu bahwa itu akan membuat penyesalan besar kalau enggak diomongkan. Karena kita sebagai korban kekerasan seksual itu mungkin tidak akan sembuh seumur hidupnya,” katanya.

Nila pun mengajak siapa pun yang mengalami kekerasan seksual untuk mulai mencari orang yang dipercaya dan tidak memendam pengalaman tersebut seorang diri.

“Silakan berbicara dengan siapa pun yang kamu nyaman, atau mungkin kamu tulis dulu lalu berikan kepada orang yang kamu percaya dan minta didampingi pelan-pelan,” ujarnya.

Menurutnya, ruang aman bukan sekadar menyediakan tempat untuk melapor, tetapi juga membangun budaya saling menghormati di lingkungan kesenian agar setiap orang bisa berkarya tanpa rasa takut dan tanpa harus mengorbankan batasan pribadinya. (dul)

You Might Also Like

Rata-rata Gaji Dosen Indonesia Rp3,36 Juta per Bulan, Lebih Gede Bayaran Pegawai MBG?

Rombongan Pimpinan BEI & OJK Mundur setelah IHSG Rontok, DPR: Itu Belum Cukup

Indonesia Juara di Rumah Sendiri, Timnas Voli Putra Borong Kemenangan di SEA V League 2025

Pergeseran Arah Anggaran Pendidikan 2026: Alokasi Daerah Dipangkas, MBG Digas Pol

Tabrakan Kereta Banyak Makan Korban Jiwa, DPR Sorot Gagalnya Sistem Keselamatan

TAGGED:dekasedewan kesenian semarangkorban kekerasan seksualSemarangsenimanseniman teater
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article LOMBA BAKIAK--Peresta Porwakos 2026 bertanding lomba bakiak di halaman Balai Kota Semarang. (ist) Bakiak hingga Egrang Ramaikan Pekan Olahraga Warga Kota Semarang 2026, Ini Kata Agustina
Next Article PENGALAMAN BERMAKNA - Momentum Nobar Gembira Piala Dunia 2026 menjadi bagian dari komitmen PLN Icon Plus untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang tidak hanya terhubung melalui teknologi, tetapi juga melalui kebersamaan yang bermakna. PLN Icon Plus Ubah Euforia Final Piala Dunia Jadi Pengalaman Berkesan untuk Pelanggan ICONNET

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Agustina Genjot Ketahanan Pangan Semarang: Dari Kebun Warga hingga Pasar Murah

Investasi Jateng Tembus Rp72,54 Triliun, 340 Ribu Orang Kebagian Peluang Kerja

Tinggal Satu Titik Api di Gunung Lawu, Luthfi Minta Petugas Jangan Pulang Dulu

YLBHI Soroti Pengerahan Ribuan Aparat Saat Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran

ASN Disuruh Naik Angkutan Umum Seminggu Sekali, Biar Nggak Cuma Jago Bikin Kebijakan!

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Mudik Aman dan Gratis, Motor Diangkut Pakai Kereta

Maret 19, 2026
Daerah

95 Persen RT di Semarang Serbu Dana Rp25 Juta, Sisanya Pilih Nunggu Dulu

Agustus 16, 2025
MUSIK LINTAS BATAS - Kota Lama Orchestra (KLO) langsung mengajak penonton berkeliling dunia lewat musik dalam pagelaran di Amphitheater Awanncosta, Semarang, Jumat (10/7/2026) malam. (dul)
Info

Keliling Dunia melalui Musik, Kota Lama Orchestra Buktiin Perbedaan Bisa Jadi Harmoni

Juli 12, 2026
Ilustrasi suara dentuman keras.
Info

Warga Mengira Ada Latihan Militer, BMKG Ungkap Fakta Dentuman Misterius di Bandung

September 5, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ruang Aman Jadi Kebutuhan, Seniman Teater Semarang Dorong Korban Kekerasan Seksual Berani Bersuara
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?