BACAAJA, SEMARANG – Luka kekerasan seksual tak pernah bisa benar-benar hilang dari ingatan. Ia membekas, dan bertahan lama. Seniman teater Semarang mendorong korban untuk berani bersuara.
Di balik panggung yang menjadi ruang berekspresi, persoalan kekerasan seksual masih menjadi bayang-bayang bagi sebagian pelaku seni. Seniman teater Semarang, Nila Dianti, menilai korban membutuhkan ruang aman agar berani berbicara dan tidak lagi memendam pengalaman yang dapat meninggalkan luka seumur hidup.
Hal itu disampaikan Nila saat menjadi narasumber dalam gelar wicara peluncuran kanal pengaduan “Suarakan, Lindungi, Lawan” di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Sabtu (25/7/2026).
Bacaaja: Dunia Seni Tak Selalu Aman, Dekase Luncurkan Kanal Anti Kekerasan Seksual Lindungi Seniman
Bacaaja: Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”
Menurut Nila, isu kekerasan seksual di lingkungan kesenian sebenarnya bukan persoalan baru. Namun, perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual dan berani membicarakannya.
“Untuk isu kekerasan seksual memang dari dulu. Sekarang mungkin terasa lebih banyak karena media sosial sudah sangat masif,” ujarnya.
Perempuan yang aktif di dunia teater sejak 2012 itu mengatakan, meningkatnya kesadaran membuat pelaku seni mulai memahami batas antara interaksi yang wajar dan tindakan yang termasuk kekerasan seksual.
“Kalau sekarang teman-teman sudah mulai sadar, oh batasan bahwa ini adalah sebuah tindakan kekerasan seksual itu seperti ini,” katanya.
Meski demikian, Nila meyakini praktik kekerasan seksual maupun tindakan yang membuat seseorang merasa tidak nyaman masih terjadi. Sayangnya, banyak korban memilih diam karena menganggap perlakuan tersebut sebagai hal yang lumrah dalam proses berkesenian.
“Masalah kekerasan seksual tindakannya menurut saya masih ada. Cuma enggak semua itu diomongin. Mereka kadang masih merasa bahwa ini tindakan yang masih bisa dinormalisasikan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti relasi kuasa yang masih kerap terjadi di dunia seni, terutama antara pelaku seni senior dan mereka yang baru bergabung. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian orang sulit menyampaikan keberatan meski merasa tidak nyaman.
Dalam dunia teater, misalnya, seorang aktor bisa diminta menjalankan adegan yang menurutnya telah melewati batas. Namun karena menghormati sutradara atau pihak yang memiliki posisi lebih tinggi, keberatan itu sering kali dipendam.
“Misal dalam ranah kesenian teater, pengadeganan yang menurut saya sebagai aktor sudah melewati batasan. Itu bisa sedikit tricky dan harus diomongin,” ujarnya.
Karena itu, Nila menilai komunikasi menjadi kunci dalam setiap proses kreatif. Setiap pelaku seni harus memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut atau intimidasi.
Ia juga mengaku pernah mengalami pengalaman yang berkaitan dengan kekerasan ketika masih berada di awal perjalanan sebagai seniman. Meski terjadi di lingkungan seni, peristiwa tersebut bukan terjadi dalam proses produksi karya, melainkan berkaitan dengan persoalan persetujuan (consent) di luar aktivitas berkesenian.
“Kalau saya ada waktu kecil itu di ranah kesenian juga ada. Namun bukan dalam proses pengkaryaan, lebih ke consent di luar pengkaryaan, tapi masih sama-sama seniman,” ungkapnya.
Kini, ia bersyukur lingkungan berkesenian yang dijalaninya telah membangun komunikasi yang lebih terbuka sehingga setiap proses kreatif selalu mengedepankan persetujuan seluruh pihak yang terlibat.
Bagi Nila, kehadiran kanal pengaduan “Suarakan, Lindungi, Lawan” menjadi langkah penting agar korban tidak lagi merasa sendirian ketika mengalami kekerasan seksual.
Ia mengingatkan bahwa pengalaman menjadi korban bisa meninggalkan trauma yang bertahan sangat lama, meski kehidupan tampak kembali berjalan normal.
“Harus tahu bahwa itu akan membuat penyesalan besar kalau enggak diomongkan. Karena kita sebagai korban kekerasan seksual itu mungkin tidak akan sembuh seumur hidupnya,” katanya.
Nila pun mengajak siapa pun yang mengalami kekerasan seksual untuk mulai mencari orang yang dipercaya dan tidak memendam pengalaman tersebut seorang diri.
“Silakan berbicara dengan siapa pun yang kamu nyaman, atau mungkin kamu tulis dulu lalu berikan kepada orang yang kamu percaya dan minta didampingi pelan-pelan,” ujarnya.
Menurutnya, ruang aman bukan sekadar menyediakan tempat untuk melapor, tetapi juga membangun budaya saling menghormati di lingkungan kesenian agar setiap orang bisa berkarya tanpa rasa takut dan tanpa harus mengorbankan batasan pribadinya. (dul)

