BACAAJA, YOGYAKARTA – Suasana sidang proposal tesis di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta mendadak berbeda. Seorang mahasiswa S2 datang mengenakan kostum cosplay saat mempresentasikan penelitiannya tentang stigma yang masih melekat pada komunitas cosplayer.
Mahasiswa tersebut adalah Yogi, yang tengah menempuh studi magister di USD. Ia sengaja tampil sebagai cosplayer karena tema penelitiannya memang membahas kehidupan para pelaku cosplay dan cara masyarakat memandang mereka.
Judul penelitian yang diangkat adalah “Menjadi Cosplayer dalam Stigma Masyarakat: Studi Fenomenologis para Cosplayer di Bandar Lampung.” Melalui riset itu, Yogi ingin menggali pengalaman para cosplayer saat menghadapi berbagai stereotip di lingkungan sosial.
Menurutnya, meningkatnya popularitas budaya pop Jepang seperti anime, manga, video game, hingga tokusatsu ikut mendorong perkembangan komunitas cosplay di Indonesia.
Meski begitu, para cosplayer masih sering mendapat cap negatif. Sebutan seperti wibu bau bawang, aneh, tidak normal, bahkan dianggap tidak bermoral masih kerap muncul di tengah masyarakat.
Padahal bagi para cosplayer, mengenakan kostum bukan sekadar berdandan menyerupai karakter favorit. Aktivitas itu menjadi media berekspresi, membangun identitas, menyalurkan kreativitas, sekaligus mencari kebahagiaan lewat hobi yang mereka sukai.
Sebaliknya, sebagian masyarakat masih melihat cosplay sebagai sesuatu yang keluar dari norma sosial. Perbedaan sudut pandang inilah yang menjadi titik awal penelitian Yogi.
Dalam menyusun tesisnya, ia menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Tujuannya untuk memahami pengalaman para cosplayer dari sudut pandang mereka sendiri.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap cosplayer di Bandar Lampung, baik yang tergabung dalam komunitas maupun yang berkarya secara mandiri.
Untuk memperkuat analisis, penelitian memanfaatkan teori budaya populer dari Dominic Strinati serta teori subkultur milik Dick Hebdige. Kedua teori tersebut digunakan untuk melihat bagaimana cosplay membentuk identitas sekaligus berkembang sebagai subkultur di tengah masyarakat.
Lewat penelitian ini, Yogi berharap kajiannya bisa memperkaya pembahasan tentang budaya populer, subkultur, dan identitas. Ia juga ingin mendorong masyarakat agar lebih terbuka terhadap keberagaman cara berekspresi dan tidak lagi mudah memberi stigma kepada komunitas cosplay. (*)

