BACAAJA, SEMARANG – Pemerintah kini punya tiga model sekolah baru yang sama-sama digadang meningkatkan kualitas pendidikan. Meski sekilas terdengar mirip, Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), Sekolah Rakyat, dan SMA Unggul Garuda ternyata memiliki konsep serta sasaran yang berbeda.
Tahun ini, Sekolah Nasional Terintegrasi mulai resmi dijalankan. Bersamaan dengan itu, proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk SNT juga mulai dibuka.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan, SNT dirancang sebagai sekolah yang terbuka bagi seluruh kalangan. Berbeda dengan Sekolah Rakyat yang memang diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Selain menyasar kelompok yang berbeda, sistem pembelajarannya juga tidak sama. Sekolah Rakyat menerapkan konsep berasrama, sedangkan SNT tidak menggunakan sistem asrama.
Seleksi masuk SNT dilakukan berdasarkan prestasi akademik maupun nonakademik. Artinya, calon siswa harus bersaing melalui kemampuan dan pencapaian yang dimiliki.
Perbedaan lain terlihat pada jenjang pendidikan. SNT menggabungkan pendidikan tingkat SMP dan SMA dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Sementara itu, SMA Unggul Garuda hanya diperuntukkan bagi siswa jenjang SMA dan menggunakan sistem pendidikan berasrama.
Mu’ti juga menegaskan calon peserta didik SNT berasal dari wilayah tempat sekolah tersebut berdiri. Misalnya, SNT yang berada di Kabupaten Kupang akan memprioritaskan siswa dari daerah itu, begitu pula sekolah yang berada di Kota Subulussalam.
Menurutnya, ketiga program pendidikan tersebut bukan saling menggantikan, melainkan saling melengkapi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok masyarakat.
SNT sendiri dibangun bukan sekadar menghadirkan gedung sekolah baru. Pemerintah ingin layanan pendidikan berkualitas semakin dekat dengan anak-anak di berbagai daerah.
Sekolah ini juga dirancang untuk membantu mengembangkan minat, bakat, karakter, hingga potensi akademik peserta didik secara lebih terarah.
Tak hanya fokus pada siswa, SNT juga diharapkan menjadi pusat pengembangan mutu bagi sekolah-sekolah lain di wilayah sekitarnya.
Konsep integrasi yang diterapkan bukan hanya menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu kawasan, tetapi juga menyatukan sistem pembelajaran, pembinaan karakter, pengembangan guru, pemanfaatan fasilitas, hingga penjaminan mutu pendidikan.
Dengan pola tersebut, perkembangan siswa diharapkan bisa dipantau lebih berkesinambungan sejak SMP hingga lulus SMA.
Meski begitu, Abdul Mu’ti menegaskan SNT bukan solusi tunggal bagi seluruh persoalan pendidikan nasional. Program ini akan berjalan berdampingan dengan Sekolah Rakyat, SMA Unggul Garuda, revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, serta berbagai kebijakan lain yang sama-sama bertujuan menghadirkan pendidikan bermutu bagi semua anak Indonesia. (*)

