BACAAJA, SEMARANG- Biaya masuk SD swasta di Kota Semarang tak bisa dibilang murah. Untuk menyekolahkan anak di sekolah favorit, orang tua harus menyiapkan uang pangkal hingga puluhan juta rupiah, belum termasuk SPP bulanan yang tembus lebih dari Rp1 juta.
Meski begitu, tak sedikit orang tua yang tetap memilih jalur tersebut. Alasannya beragam, mulai dari kualitas pendidikan, pembentukan karakter, hingga jam belajar yang dinilai lebih cocok dengan kebutuhan keluarga.
Salah satunya Adri, warga Semarang Barat yang menyekolahkan kedua anaknya di SD swasta di kawasan Puspanjolo. Anak sulungnya kini duduk di kelas 5, sedangkan adiknya naik ke kelas 2.
Adri mengaku saat anak pertamanya masuk sekolah pada masa pandemi Covid-19, biaya masuk yang dibayarkan berkisar Rp21-22 juta dengan SPP bulanan Rp1,15 juta. Sementara anak keduanya menghabiskan biaya lebih besar.
Baca juga: Pemkot Tambah Sekolah Swasta Gratis
“Kalau anak yang kecil, pas masuk SPI sekitar Rp27 juta, daftar ulang Rp3 juta. SPP bulanan plus antar jemput sekitar Rp1,7 juta,” ujarnya. Nominal itu memang tidak sedikit. Namun Adri menganggap biaya tersebut sebanding dengan layanan yang diterima anaknya.
“Kami menganggap dengan membayar lebih, maka saya bisa menagih benefitnya. Jadi tolong pendidikannya lebih bagus,” imbuhnya. Menurut dia, kurikulum di sekolah yang mengusung karakter kebangsaan dimana anaknya bersekolah relatif bagus, cara mengatasi anak yang malas sekolah juga bagus.
Bagi Adri, alasan lain memilih sekolah swasta adalah jam belajar yang lebih panjang. Ia dan istrinya sama-sama bekerja sehingga membutuhkan sekolah yang bisa menjadi tempat belajar sekaligus beraktivitas hingga sore hari.
Ekstrakurikuler Beragam
Menurutnya, sekolah menyediakan banyak kegiatan tambahan tanpa biaya lagi, mulai dari aktivitas di luar kelas hingga ekstrakurikuler yang beragam. “Gurunya setiap ada jadwal komunikasinya bagus. Yang jelas murid di situ dianggap anak sendiri. Sekolah itu rumah kedua,” tuturnya.
Ia juga menilai fasilitas menjadi nilai tambah sekolah swasta. Mulai dari ruang kelas ber-AC, sarana belajar yang lengkap, hingga ekstrakurikuler berbasis teknologi seperti komputer dan robotik.
Cerita serupa disampaikan Lia Dina. Ia memilih menyekolahkan anaknya di SD Islam swasta di kawasan Simpang Lima. Lia mengaku membayar biaya masuk sekitar Rp21 juta pada 2024 karena mendapat potongan sebagai alumni daycare sekolah tersebut. Jika bukan alumni, biaya masuk mencapai Rp22 juta.
Baca juga: MK Putuskan SD-SMP Negeri dan Swasta Gratis, Bagaimana Nasib Pesantren?
Setiap bulan, ia juga mengeluarkan sekitar Rp1,5 juta yang terdiri dari SPP Rp1,1 juta ditambah uang komite dan katering. “SPP bulanannya Rp1,1 juta, lalu ada tambahan uang komite, katering karena tidak ada MBG, total setiap bulan hampir Rp1,5 juta,” katanya.
Menurut Lia, keputusan memilih sekolah swasta sudah muncul sejak anaknya masih berada di daycare. Dari berbagai diskusi dengan guru dan sesama orang tua, ia melihat sekolah swasta dinilai lebih serius membangun karakter anak.
“Aku melihat anak-anak itu perlu diperkuat karakternya. Itu yang membuat aku memilih sekolah swasta,” ujarnya. Selain pendidikan karakter, Lia juga mempertimbangkan kurikulum dan prestasi sekolah. Menurutnya, SD dimana anaknya sekolah menerapkan Kurikulum Cambridge yang dipadukan dengan Kurikulum Merdeka.
Ketika biaya masuk SD sudah setara harga motor, pendidikan memang makin terasa sebagai investasi. Tinggal berharap, kualitas sekolah benar-benar tumbuh sebanding dengan angka yang dibayar, bukan sekadar mahal di brosur. (bae)

