BACAAJA, SEMARANG – Hari pertama masuk sekolah yang seharusnya jadi momen bahagia justru berubah menjadi duka mendalam bagi sebuah keluarga di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara.
Seorang paman Rujito dan keponakannya, HRA, siswa kelas 3 SD IT Al Qalam Simongan, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di perlintasan kereta api, Senin (20/7/2026).
Sementara sang kakak berinisial ZIA, yang duduk di bangku kelas 6 SD, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Bacaaja: Tragis! Terobos Palang, Pemotor dan Siswa SD di Semarang Tewas Tersambar Kereta
Bacaaja: Palang Sudah Turun, Gas Masih Naik: Drama Harian di Perlintasan Jrakah
Ketua RT 8 RW 4 Kelurahan Kuningan, Tri Priyanto atau yang akrab disapa Jupri, mengatakan sang paman sempat dilarikan ke RSUP Dr. Kariadi dalam kondisi kritis. Namun, upaya tim medis tak mampu menyelamatkan nyawanya.
“Beliau masih hidup saat dibawa ke rumah sakit, tetapi belum sempat sadar. Rumah sakit sudah memberikan penanganan maksimal, namun sekitar pukul 12.30 WIB beliau dinyatakan meninggal dunia,” ujar Jupri.
Sementara itu, HRA meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jenazah bocah berusia sekitar sembilan tahun tersebut tiba di rumah duka sekitar pukul 13.00 WIB sebelum dimakamkan di TPU Gumilama sekitar satu jam kemudian.
Menurut Jupri, mengantar kedua keponakannya ke sekolah bukanlah hal baru bagi Rujito. Aktivitas itu sudah menjadi rutinitas ketika kedua orang tua anak tersebut sedang berhalangan.
“Sering diantar pakdenya. Kadang orang tuanya, kadang sang paman yang mengantar. Kebetulan hari itu orang tuanya ada keperluan sehingga beliau yang mengantar,” tuturnya.
Di tengah suasana duka, keluarga masih menyimpan harapan untuk I yang selamat dari kecelakaan. Jupri mengatakan kondisi bocah tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif.
“Alhamdulillah sudah sadar dan sudah bisa diajak komunikasi. Sekarang masih menunggu hasil CT Scan dan rontgen untuk mengetahui kondisi lebih lanjut,” jelasnya.
Jupri menambahkan, sang ibu, Mahda, masih terpukul atas kepergian anaknya. Sementara ayah korban, Risjadi, memilih tetap berada di rumah sakit untuk mendampingi putra sulungnya yang masih menjalani perawatan.
“Ibunya masih sangat syok. Sedangkan bapaknya masih di rumah sakit mendampingi sang kakak karena kondisinya juga masih belum stabil,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa sekolah dasar (SD) meninggal dunia setelah motor yang ditumpanginya tertabrak kereta api barang di perlintasan sebidang Nomor 5 KM 1+5/6, jalur antara Stasiun Jerakah dan Stasiun Semarang Poncol, Senin (20/7/2026) sekitar pukul 06.50 WIB.
Korban saat itu dibonceng pamannya, Rujito (45), bersama seorang siswa SD lainnya menggunakan sepeda motor Honda Supra X bernomor polisi H 4050 AF. Kedua siswa SD tersebut merupakan kakak beradik.
Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Semarang AKP Untung mengatakan, rombongan tersebut hendak menyeberangi rel saat kereta api barang melaju dari arah barat menuju timur.
“Motor itu ditumpangi dua anak SD yang dibonceng pakdenya. Mereka hendak diantar ke sekolah. Saat akan menyeberang rel, datang kereta barang dari arah barat (Jakarta) menuju timur,” ujarnya. (dul)

