BACAAJA, SEMARANG– Pemkot Semarang terus mempercepat transformasi layanan kesehatan berbasis digital. Terbaru, Pemkot meluncurkan Pharma City (Pelayanan Farmasi Apotek Terintegrasi Kota Semarang) yang menghubungkan ratusan apotek dalam satu sistem terpadu.
Inovasi tersebut diresmikan Sekda Kota Semarang, Handi Priyanto dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pelayanan Kefarmasian di Hotel MG Setos, kemarin. Melalui platform ini, masyarakat bisa mengetahui lokasi apotek, mengecek ketersediaan obat secara real time, hingga berkonsultasi dengan apoteker tanpa harus berpindah-pindah tempat.
Menurut Handi, digitalisasi pelayanan kefarmasian merupakan bagian dari komitmen Pemkot Semarang untuk menghadirkan layanan publik yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses masyarakat.
Baca juga: PBI Nonaktif, Pemkot: Santai, Warga Tetap Bisa Berobat
“Pelayanan kesehatan harus semakin dekat dengan masyarakat. Melalui Pharma City, warga tidak lagi mengandalkan informasi dari mulut ke mulut atau harus mendatangi beberapa apotek untuk mencari obat. Informasi yang dibutuhkan kini dapat diakses lebih cepat sehingga masyarakat bisa memperoleh layanan kesehatan secara lebih efektif,” ujarnya.
Selama ini, data pelayanan farmasi masih tersebar di berbagai fasilitas kesehatan sehingga belum terintegrasi dengan baik. Akibatnya, masyarakat sering kesulitan mendapatkan informasi mengenai lokasi apotek maupun stok obat yang tersedia.
Kini, sebanyak 445 apotek di Kota Semarang telah terhubung dalam satu sistem digital yang menjadi pusat informasi pelayanan kefarmasian. Integrasi tersebut tidak hanya mempermudah masyarakat, tetapi juga membantu pemerintah melakukan pengawasan terhadap mutu pelayanan serta keamanan peredaran obat.
Berbasis Data
Selain itu, sistem ini juga mempercepat proses pendataan, pelaporan, hingga pengawasan sehingga kebijakan yang diambil pemerintah dapat lebih akurat karena berbasis data.
Bagi pelaku usaha apotek, kehadiran Pharma City juga memberikan kemudahan dalam proses administrasi dan mendukung transparansi pelayanan perizinan. Handi menegaskan bahwa transformasi pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan membangun gedung atau menambah fasilitas medis.
Menurutnya, akses informasi yang cepat dan akurat juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Karena itu, Pemkot Semarang terus memperkuat kapasitas tenaga kefarmasian melalui berbagai pelatihan serta menjalin kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Balai Besar POM di Semarang, organisasi profesi, hingga para pengelola apotek.
“Transformasi digital bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ketika warga lebih mudah mendapatkan informasi obat, memperoleh pelayanan yang aman, dan dilayani secara cepat, maka di situlah manfaat pembangunan benar-benar dirasakan,” tegasnya.
Baca juga: Urus Kesehatan Nggak Pakai Ribet, Semarang Tekan Angka Stunting
Ke depan, Pemkot akan terus mengembangkan Pharma City dengan mengintegrasikannya ke dalam ekosistem layanan kesehatan nasional, termasuk platform SatuSehat.
Langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan pelayanan kefarmasian yang semakin modern, transparan, responsif, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh akses obat yang aman, mudah, dan berkualitas.
Di era serba digital, yang seharusnya bikin capek itu proses sembuhnya, bukan proses mencari obatnya. Kalau informasi sudah ada dalam genggaman, semoga antrean keliling apotek benar-benar tinggal kenangan. (tebe)

