BACAAJA, SEMARANG – Film dokumenter bukan sekadar tontonan, tapi juga bisa menjadi media untuk menyuarakan berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Hal itu juga terlihat saat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar Journalistic Documentary Screening (JDS) 2026 yang berlangsung di Gedung Menara Lantai 6 USM, kemarin.
Acara ini menjadi panggung bagi mahasiswa untuk menayangkan tiga film dokumenter hasil produksi mereka sekaligus mendapatkan masukan langsung dari praktisi film dan jurnalis profesional.
Bacaaja: Masjidil Haram Tak Pernah Tidur, Jutaan Hati Selalu Pulang Kesana
Bacaaja: Nobar Pesta Babi, Kampus Ini Didatangi Sosok Berseragam TNI
JDS 2026 melibatkan mahasiswa dari mata kuliah Jurnalistik Audiovisual dan Videografi. Selain dihadiri mahasiswa lintas kelas, kegiatan ini juga diikuti media internal Universitas Semarang serta jajaran dosen.
Hadir sebagai narasumber, Budi Purwanto, jurnalis senior Tempo Semarang yang kini berkarier sebagai Video Journalist Reuters, sekaligus Director Paper Sinema, rumah produksi film dokumenter yang berbasis di Semarang.
Dalam sesi pemutaran, mahasiswa menampilkan tiga film dokumenter yang mengangkat isu sosial dan lingkungan dari berbagai sudut pandang.
Film Tambak di Ujung Harapan mengisahkan perubahan kawasan pesisir Tambaklorok. Sementara Panggung yang Kupilih menceritakan perjuangan seorang penari dalam menjaga eksistensi seni yang ia cintai. Adapun Menjaga Denyut Rawa Pening mengangkat upaya masyarakat mempertahankan kelestarian danau dari ancaman pendangkalan dan pencemaran.
Tak hanya menikmati karya mahasiswa, peserta juga diajak menyaksikan dua film dokumenter karya Budi Purwanto, yakni Pasijah: The Untold Story dan Satu Tuhan Tiga Jalan.
Setelah pemutaran film, suasana berubah menjadi forum diskusi yang berlangsung interaktif. Budi membedah setiap karya mahasiswa, mulai dari proses riset, penyusunan cerita, teknik pengambilan gambar, hingga bagaimana sebuah dokumenter dapat menyampaikan pesan secara kuat kepada penonton.
Berbagai pertanyaan pun bermunculan dari mahasiswa dan dosen, mulai dari tahapan praproduksi, penyusunan alur cerita, aspek sinematografi, hingga indikator sebuah film dokumenter layak dipublikasikan.
Dosen Pembimbing, Muhamad Nur Rohman, mengatakan JDS bukan hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga wadah belajar agar mahasiswa semakin memahami proses produksi dokumenter secara utuh.
“Harapannya, mahasiswa Ilkom makin menyukai dokumenter karena medium ini mampu menghadirkan informasi secara utuh. Di tengah derasnya informasi media sosial yang sepotong-sepotong, dokumenter justru hadir mengangkat kisah nyata yang sering kali luput dari perhatian media arus utama,” ujarnya.
Menurutnya, tema-tema yang dipilih mahasiswa merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, namun belum banyak mendapat perhatian dari media arus utama.
Sementara itu, Ketua Pelaksana JDS 2026, Patrick Bernardian, berharap kegiatan serupa bisa terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.
“Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut ke adik-adik tingkat. JDS sangat bermanfaat karena kami tidak hanya belajar di kelas, tapi juga terjun langsung ke lapangan. Pengalaman ini memberikan dampak yang sangat positif bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi,” katanya.
Melalui JDS 2026, Program Studi Ilmu Komunikasi USM ingin terus mendorong mahasiswa menghadirkan karya-karya dokumenter yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu merekam realitas sosial dan menjadi ruang refleksi bagi masyarakat. (*)

