Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: 99 Lodong dan Gunungan Sayur Bikin Slamet Fest Makin Guyub
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Plesir

99 Lodong dan Gunungan Sayur Bikin Slamet Fest Makin Guyub

Pagi hari diawali dengan pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah yang berada di Dusun Kaliurip, Desa Serang. Prosesi ini dipimpin tokoh adat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan yang selama ini menghidupi warga sekitar.

Nugroho P.
Last updated: Juli 4, 2026 9:18 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
Festival Gunung Slamet (FGS) #9 yang digelar di kawasan wisata D'Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja.
SHARE

BACAAJA, PURBALINGGA – Suasana lereng Gunung Slamet kembali dipenuhi nuansa budaya dan rasa syukur lewat Festival Gunung Slamet (FGS) #9 yang digelar di kawasan wisata D’Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Sabtu, 4 Juli 2026. Hari kedua festival berlangsung hangat dengan sederet prosesi adat yang melibatkan masyarakat dari berbagai penjuru desa.

Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani dan istri ikut hadir menyaksikan langsung rangkaian acara yang sudah menjadi agenda budaya tahunan masyarakat lereng Gunung Slamet tersebut.

Pagi hari diawali dengan pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah yang berada di Dusun Kaliurip, Desa Serang. Prosesi ini dipimpin tokoh adat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan yang selama ini menghidupi warga sekitar.

Air dari mata air itu kemudian dimasukkan ke dalam 99 lodong bambu serta satu Kendi Pratolo. Seluruhnya dibawa oleh para pemuda dan pemudi Desa Serang yang mengenakan pakaian adat khas daerah.

Bagi masyarakat setempat, Tuk Sikopyah bukan sekadar sumber air biasa. Mata air tersebut menjadi simbol keberlangsungan hidup, pertanian, sekaligus pengingat pentingnya menjaga alam agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.

Prosesi kirab makin semarak saat air dari Tuk Sikopyah diarak menuju lokasi festival. Rombongan juga membawa 16 gunungan hasil bumi berisi aneka sayur dan buah hasil panen warga dari delapan RW di Desa Serang.

Gunungan itu menjadi lambang rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian yang mereka nikmati selama setahun terakhir. Di sisi lain, kirab tersebut juga menggambarkan kuatnya budaya gotong royong yang masih hidup di tengah warga lereng Gunung Slamet.

Nuansa festival makin ramai ketika rombongan perempuan dengan kostum karnaval ikut bergabung mengiringi perjalanan menuju halaman parkir D’Las Serang yang menjadi pusat kegiatan Festival Gunung Slamet tahun ini.

Setibanya di lokasi, para peserta disambut langsung oleh Bupati Fahmi dan Wakil Bupati Dimas. Sejumlah tamu dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Bank Indonesia, hingga pegiat pariwisata juga turut hadir menyaksikan prosesi budaya tersebut.

Momen paling sakral terjadi saat seluruh air dari 99 lodong dan Kendi Pratolo disatukan dalam satu wadah besar. Prosesi itu diawali oleh Bupati Fahmi, kemudian diikuti wakil bupati, pejabat lainnya, dan para pembawa lodong.

Penyatuan air tersebut punya makna mendalam bagi masyarakat Desa Serang. Air yang berasal dari banyak wadah dianggap sebagai simbol bersatunya doa, harapan, dan ikhtiar warga demi masa depan yang lebih baik.

Setelah itu, air dan gunungan hasil bumi didoakan oleh sesepuh adat setempat. Suasana hening dan penuh penghormatan terasa saat doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan serta kesejahteraan masyarakat lereng Gunung Slamet.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Tak lama berselang, Bupati dan Wakil Bupati menabuh gong sebagai tanda masyarakat dipersilakan mengambil air Tuk Sikopyah dan hasil bumi dari gunungan yang dipercaya membawa keberkahan.

Tradisi berebut gunungan pun berlangsung meriah. Warga tampak antusias membawa pulang sayuran dan buah hasil panen sebagai simbol rezeki dan harapan baik untuk kehidupan mereka ke depan.

Usai rangkaian budaya selesai, seluruh peserta menikmati makan bersama Nasi 3G, makanan khas Desa Serang yang punya cerita tersendiri di tengah masyarakat setempat.

Menu tersebut terdiri atas nasi jagung, gandul atau tumis pepaya, gundil berupa tempe goreng, serta gereh atau ikan asin. Hidangan sederhana itu justru menjadi pengikat kebersamaan di tengah perayaan budaya.

Bupati Fahmi Muhammad Hanif mengatakan Festival Gunung Slamet tahun ini digelar selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Juli 2026, dengan berbagai agenda budaya dan hiburan yang ditujukan untuk menarik lebih banyak wisatawan.

“Kita laksanakan kembali Festival Gunung Slamet edisi ke-9. Hari ini ada prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah, penyatuan air, gunungan sayuran, dan makan bersama Nasi 3G. Harapannya kegiatan ini mencerminkan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur masyarakat. Air juga menjadi simbol kehidupan agar ke depan kehidupan masyarakat semakin baik,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut memeriahkan acara puncak festival berupa Parade Hujan yang digelar di kawasan Akustik Kabut Lembut pada Sabtu malam sebagai salah satu atraksi unggulan tahun ini.

Menurut Fahmi, festival tersebut bukan hanya soal budaya, tetapi juga memberi dampak ekonomi yang cukup besar bagi warga. Tahun lalu, Festival Gunung Slamet mampu menarik sekitar 50 ribu pengunjung dengan perputaran ekonomi mencapai Rp3,5 miliar.

“Tahun ini kita berharap jumlah pengunjung lebih banyak sehingga dampak ekonominya semakin besar. Harapannya para petani sayur yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Desa Serang juga semakin sejahtera,” katanya.

Sementara itu, Pranata Acara Festival Gunung Slamet #9, Tuwuh Permanajati, menuturkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam prosesi pengambilan air menjadi bagian penting untuk menjaga warisan budaya tetap hidup di masa mendatang.

Ia menjelaskan, mata air Tuk Sikopyah kini berada di titik yang sedikit bergeser setelah banjir bandang beberapa waktu lalu. Meski begitu, sumber air tersebut masih berada di jalur yang sama, tepatnya di bawah Watu Langgar, sehingga kini lebih gampang dijangkau warga.

“Ini menjadi hikmah dari bencana alam. Mata air tetap mengalir dan lebih mudah diakses masyarakat. Penyatuan air dari seluruh lodong juga mengandung makna bahwa sekecil apa pun doa masyarakat, ketika dipersatukan akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bersama,” jelasnya. (*)

You Might Also Like

Kemenpar Dorong Shiva Festival Naik Level Nasional

Cap Go Meh di Semarang: Bukan Sekadar Barongsai, Tapi Panggung Harmoni Warga Jateng

Harga Tiket Avenged Sevenfold Jakarta Kebuka, Siap War Tiket Oktober

5 Spot Wisata Paling Diburu saat Libur Lebaran di Semarang: dari Lawang Sewu sampai Saloka

Ibu Gendong Masih Bertahan di Kranggan, Bakal Disulap Jadi Ikon Wisata Baru Semarang

TAGGED:air tuk sikopyahfestival gunung slamet
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pemprov Petakan Ulang Status RSUD
Next Article Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir. Haedar Singgung Arah Pendidikan, Jangan Cuma Kejar Pintar Tapi Lupa Nilai

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Seribu Mangrove, Seribu Harapan: Rotary Club Semarang Bimasena Satukan Komunitas Jaga Pesisir

Wali Kota Solo Respati Ardi.

Sekolah Negeri Lagi Diuji, Respati Ajak Warga Solo Balik Percaya

Kemarau Mulai Ngegas, Delapan Desa Cilacap Kebagian Kiriman Air Bersih

Aroma Wewangian Misterius di Kuta Bikin Turis India Kehilangan Uang Puluhan Juta

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.

Haedar Singgung Arah Pendidikan, Jangan Cuma Kejar Pintar Tapi Lupa Nilai

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Unik

Festival Gunung Slamet #8, Dari Bersih Desa hingga Perang Tomat, Purbalingga Tawarkan Perayaan 3 Hari Penuh Pesona

Juli 5, 2025
Plesir

Purwokerto Biasa Saja Katanya, Tapi Bikin Orang Betah Lama Tinggal

Juni 30, 2026
Plesir

Sambut HUT ke-479 Kota Semarang, Taman Lele Semarang Bersolek

April 20, 2026
Plesir

Imlek di Sam Poo Kong Bikin Semarang Makin Ramai

Februari 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: 99 Lodong dan Gunungan Sayur Bikin Slamet Fest Makin Guyub
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?