BACAAJA, SEMARANG- Kekeringan di Kota Semarang ternyata bukan cuma gara-gara hujan lama nggak turun. Ada faktor lain yang ikut bikin sejumlah wilayah di kota ini langganan krisis air tiap musim kemarau datang.
Peneliti dari Yayasan Amerta Air Indonesia, Bagas Yusuf Kausan bilang, masalah kekeringan setidaknya dipengaruhi dua hal. Pertama faktor alam atau kondisi wilayah, kedua soal kebijakan, terutama terkait layanan air bersih.
“Jadi selain faktor ekologi juga dipengaruhi faktor politis. Nah, kedua faktor itu saling berhubungan,” kata Bagas, Kamis (2/7/2026). Ia menyoroti data BPBD Kota Semarang yang menyebut ada empat kelurahan di Kota Semarang paling rawan terdampak kekeringan pada 2026. Empat wilayah itu adalah Pudakpayung, Jabungan, Wonosari, dan Cepoko.
Baca juga: Kekeringan Mengintai: Kota dan Desa Sama-Sama Terancam
Kalau dilihat dari kondisi wilayahnya, empat daerah itu memang lebih rentan kekeringan. Soalnya, lokasinya ada di kawasan perbukitan atau dataran tinggi, bukan di wilayah Semarang bawah yang akses airnya biasanya lebih mudah.
Menurut Bagas, kondisi tanah, bentuk wilayah, sampai letak ketinggian daerah ikut berpengaruh. Itu sebabnya, saat kemarau panjang datang, wilayah-wilayah tersebut lebih gampang mengalami kekeringan.
Distribusi Air
Tapi menurut dia, masalahnya bukan cuma soal alam. Ada juga persoalan distribusi air bersih yang belum merata, terutama di daerah yang justru masuk kategori rawan kekeringan.
Bagas mencontohkan Cepoko di Kecamatan Gunungpati. Padahal di kawasan Gunungpati ada sumber air, reservoir, dan infrastruktur air milik PDAM, tapi jaringan air bersih ke Cepoko disebut masih minim. “Cepoko itu relatif sedikit atau bahkan enggak ada jaringan air PDAM-nya,” jelasnya.
Hal yang mirip, lanjut Bagas, juga terjadi di Wonosari, Kecamatan Ngaliyan. Wilayah itu sebenarnya tak terlalu jauh dari SPAM Semarang Barat, tapi layanan air perpipaan di sana masih sangat terbatas.
Baca juga: Langganan Bencana Kekeringan, Kini Jabungan Siapkan Strategi Baru Hadapi Kemarau
Karena itu, Bagas menilai ancaman kekeringan di Semarang tak bisa cuma dilihat sebagai dampak musim kemarau. Sebab, ada pekerjaan rumah lain yang belum selesai, yakni soal pemerataan layanan air bersih ke wilayah-wilayah yang memang rawan kekeringan. “Ini kan juga tentang PDAM mau atau enggak menyuplai air ke daerah sana,” tegasnya.
Setiap tahun kemarau selalu datang dan selalu disalahkan. Padahal, ketika pipa air belum juga sampai ke wilayah yang paling membutuhkan, persoalannya mungkin bukan lagi soal langit yang tak kunjung menurunkan hujan, melainkan soal bumi yang belum sepenuhnya dijangkau pelayanan. (bae)

