BACAAJA, SEMARANG- Modus pelaku ini terbilang licik. Seorang pria berpura-pura menjadi psikolog agar bisa mendapat kepercayaan korban, lalu mencabulinya di sebuah hotel di Kabupaten Semarang.
Kasus tersebut diungkap Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA dan PPO) Polda Jateng, Selasa (30/6/2026).
Pelaku berinisial JS, seorang pekerja swasta berusia 29 tahun. Polisi mengungkap, JS lebih dulu mendekati korban dengan berpura-pura menjadi psikolog.
Baca juga: Heboh di Banjarnegara, Pengasuh Ponpes Diduga Lakukan Pencabulan Kepada 4 Santriwati
“(Pelaku) mengaku sebagai psikolog yang dapat membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi korban,” ujar Dirres PPA dan PPO Polda Jateng, Kombes Pol Nunuk Setiyowati.
Setelah berhasil membuat korban percaya, pelaku mengajak korban bertemu. “Dengan dalih tersebut, pelaku mengajak korban bertemu dan melakukan tindak pencabulan di sebuah hotel di wilayah Kabupaten Semarang,” lanjut Nunuk.
Barang Bukti
Dalam penyelidikan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa telepon genggam, pakaian korban, serta tangkapan layar percakapan antara korban dan pelaku.
Atas perbuatannya, JS dijerat Pasal 6 huruf b Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Ancaman hukumannya maksimal 12 tahun penjara.
Pada kesempatan yang sama, Ditres PPA dan PPO juga mengungkap kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Kudus yang diduga dilakukan ayah tiri korban sejak 2019 hingga 2026.
Baca juga: Abah Khan Kiai Cabul Semarang Janjikan Surga, Bikin Santri Korban Takut Melawan
Kombes Pol Nunuk mengimbau masyarakat tidak takut melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurutnya, setiap laporan akan ditindaklanjuti dan identitas pelapor dijamin kerahasiaannya.
“Jangan ragu untuk melaporkan. Berani bicara, selamatkan sesama. Satu suara bisa mengubah keadaan dan menyelamatkan masyarakat lainnya,” tegasnya.
Gelar boleh dipalsukan, identitas bisa direkayasa. Karena itu, kepercayaan sebaiknya tidak diberikan hanya karena seseorang mengaku ahli. Sebab, predator sering kali tidak datang dengan wajah yang menakutkan, melainkan dengan topeng yang paling meyakinkan. (bae)

