Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Natael PMKRI Sebut Negara Lagi Gak Baik-baik Saja: Anggaran Jumbo, Hidup Rakyat Makin Berat
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Natael PMKRI Sebut Negara Lagi Gak Baik-baik Saja: Anggaran Jumbo, Hidup Rakyat Makin Berat

Aktivis PMKRI, Natael Bremana, menyatakan anggaran negara untuk membiayai program-program jumbo manfaatnya tak dirasakan rakyat banyak.

R. Izra
Last updated: Juni 30, 2026 5:12 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
SUARAKAN KERESAHAN - Aktivis PMKRI Jateng-DIY, Natael Bremana, menyampaikan aspirasi dan kerasahan yang dirasakan mahasiswa dan rakyat kecil terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, saat mengikuti demonstrasi di Jakarta, pada 13 Juni 2026. (*)
SUARAKAN KERESAHAN - Aktivis PMKRI Jateng-DIY, Natael Bremana, menyampaikan aspirasi dan kerasahan yang dirasakan mahasiswa dan rakyat kecil terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, saat mengikuti demonstrasi di Jakarta, pada 13 Juni 2026. (*)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jateng-DIY, Natael Bremana, menyorot berbagai aksi demonstrasi yang kembali marak di sejumlah kota di Indonesia.

Natael bilang, aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil tersebut bukan sekadar aksi sesaat. Melainkan suara dari kegelisahan rakyat bawah. Isu yang diusung mirip-mirip: biaya hidup makin mahal, korupsi belum beres, birokrasi lemah, hingga pengisian jabatan publik yang dianggap lebih mengutamakan kedekatan politik daripada kompetensi.

“Anggaran belanja negara terus naik. Postur APBN makin gede, tapi rakyat malah makin sengsara. Lalu, ke mana anggaran itu bermuara,” ungkap Natael, Selasa (30/6/2026).

Bacaaja: PMKRI Semarang Kecewa, Kekuasaan telah Menjinakkan Budiman
Bacaaja: Cara Ganjar Komunikasi dengan Demonstran Bikin Kangen Aktivis Mahasiswa

Dia menyebut, belanja negara dalam RAPBN 2026 diproyeksikan menembus lebih dari Rp3.700 triliun. Angkanya terus naik dari tahun ke tahun. Namun besarnya anggaran belum otomatis membuat masyarakat merasa hidup lebih baik. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, sementara daya beli sebagian warga justru melemah.

Salah satu indikatornya terlihat dari data Bank Dunia. Jumlah kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi 47 juta orang pada 2024. Hampir 10 juta orang kembali masuk kelompok rentan.

“Padahal kelas menengah selama ini menjadi penggerak konsumsi sekaligus penyumbang pajak terbesar. Sementara, kebijakan-kebijakan pemerintah justru menghimpit kelas menengah,” paparnya.

Ke depan, sambung dia, tekanan ekonomi ekonomi untuk generasi muda makin nyata. Harga rumah terus naik, sementara kenaikan pendapatan berjalan lebih lambat. Akibatnya, memiliki rumah semakin sulit dijangkau.

Tak sedikit anak muda akhirnya menunda menikah, menunda punya anak, bahkan memilih hidup childfree. Bagi sebagian orang, keputusan itu bukan semata soal gaya hidup, tetapi karena kondisi ekonomi yang semakin berat.

Program jumbo tak diimbangi hasil nyata

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah tetap menjalankan program-program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusulkan mendapat anggaran sekitar Rp335 triliun dalam RAPBN 2026, serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Tujuannya mungkin saja baik. Namun keberhasilan program publik tidak ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Tanpa perencanaan yang matang, uji coba yang memadai, dan evaluasi yang jelas, anggaran besar berisiko tidak memberikan hasil yang optimal.

“Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam beberapa tahun terakhir pun masih menunjukkan adanya persoalan efisiensi belanja dan tata kelola di sejumlah instansi pemerintah,” ucapnya.

Di saat yang sama, ekonomi juga menghadapi tantangan global. Nilai tukar rupiah sempat tembus Rp18.000 lebih per dolar AS, membuat biaya impor berbagai kebutuhan meningkat. Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga acuan sekitar 5,75 persen, yang berdampak pada naiknya bunga KPR, kredit kendaraan, hingga pinjaman usaha.

Sementara itu, utang pemerintah telah mencapai sekitar Rp11.000 triliun, dengan beban bunga yang terus membesar setiap tahun. Kondisi ini membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas.

“Di tengah berbagai tekanan itu, publik masih melihat banyak lembaga negara mengusulkan tambahan anggaran, sementara hasil sejumlah program belum sepenuhnya dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Pemberantasan korupsi belum berhasil

Masalah utamanya dinilai bukan hanya soal besarnya belanja negara, tetapi juga kualitas tata kelola pemerintahan. Skor Corruption Perceptions Index (CPI) 2024 Indonesia masih berada di angka 37 dari 100, menunjukkan tantangan dalam pemberantasan korupsi dan pengelolaan anggaran masih besar.

Pada akhirnya, masyarakat tidak menilai pemerintah dari banyaknya program yang diumumkan. Yang paling penting adalah apakah setiap rupiah uang rakyat benar-benar memberi manfaat nyata.

“Sebab jika kegelisahan masyarakat terus dijawab dengan janji tanpa perubahan yang terasa, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga kepercayaan publik terhadap masa depan negara,” pungkas Natael. (*)

You Might Also Like

Bos-Bos Tionghoa Diminta Gas Ekonomi Jateng

Cari Nahkoda Baru KONI Jateng, Tim Penjaringan Resmi Start Mesin!

Papua Ternyata Semengerikan Itu, Penonton Nobar Film Pesta Babi di Semarang Syok

Samsat Bandung Disorot, Dedi Mulyadi Langsung Ambil Sikap Tegas

Kata Prabowo, Belanda Mau Balikin 30.000 Artefak ke Indonesia

TAGGED:aktivis mahasiswadiyjatengnatael bremanapmkriSemarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article SIDANG: Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim bersiap menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Senin (5/1/2026). (Foto: Ist) Nadiem Dihukum 10 Tahun Penjara: Hakim Singgung Mens Rea, Ada Niat Jahat
Next Article Kekeringan Mengintai: Kota dan Desa Sama-Sama Terancam

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Lima Kuliner Legendaris Pilihan Pramono Anung

MABA UNNES--BEM Unnes mengunggah postingan duka cita atas meninggalnya maba saat berangkat ospek. (ist)

Unnes Dihujani Kritik: Gelar Ospek Dini Hari sebelum Subuh, Picu Korban Jiwa

Ilustrasi gempa bumi.

Berpotensi Tsunami, NTT Diguncang Gempa Magnitudo 7,7

Ajari Anak Ngatur Uang dari Hal Kecil

Curhat ke AI Bisa Jadi Bumerang Remaja

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Mahasiswa Undip pembuat konten cabul berbasis AI, Chiko Radityatama Agung Putra mengenakan rompi tahanan usai divonis bersalah. (bae)
Hukum

Mahasiswa Undip Berotak Cabul Cuma Dihukum Setahun Penjara, Bikin Korban Kecewa

Maret 6, 2026
Info

Kenapa Lereng Slamet Gampang Banjir dan Longsor?

Januari 28, 2026
Daerah

Wagub Lampung Dorong Semua Daerah Punya Mal Pelayanan Publik

Februari 10, 2026
Ekonomi

Jateng Ngebut Beresin Backlog

Februari 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Natael PMKRI Sebut Negara Lagi Gak Baik-baik Saja: Anggaran Jumbo, Hidup Rakyat Makin Berat
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?