BACAAJA, KLATEN – Bantuan minyak goreng MinyaKita yang dibagikan kepada warga di Kabupaten Klaten mendadak jadi perbincangan. Sejumlah keluarga penerima manfaat mengeluhkan aroma minyak yang disebut mirip solar sehingga memilih mengembalikannya untuk ditukar.
Keluhan pertama muncul dari warga Kecamatan Jogonalan. Namun setelah dilakukan pengecekan, Pemerintah Kabupaten Klaten menemukan kasus serupa juga terjadi di Kecamatan Wedi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Iwan Kurniawan, mengatakan pihaknya langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Dari hasil pengecekan, ternyata minyak goreng itu rusak atau tercemar. Kasusnya ditemukan di Kecamatan Wedi dan Jogonalan,” ujar Iwan.
Menurutnya, pengadaan dan distribusi minyak goreng bantuan tersebut merupakan kewenangan Bulog bersama pihak produsen. Karena itu, seluruh produk yang diduga bermasalah langsung ditarik dari masyarakat.
Data sementara menunjukkan ada sembilan desa di Kecamatan Wedi dan empat desa di Kecamatan Jogonalan yang menerima minyak dengan kondisi serupa. Saat ini proses penarikan sekaligus penggantian masih terus dilakukan.
Iwan memastikan seluruh keluarga penerima manfaat akan memperoleh minyak pengganti. Kebijakan itu berlaku baik untuk minyak yang masih utuh maupun yang sudah telanjur dipakai.
“Kalaupun sudah dipakai tetap diganti sesuai data penerima,” tegasnya.
Hingga kini penyebab pasti perubahan kualitas minyak masih belum diketahui. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah masalah berasal dari proses produksi atau terjadi pencemaran dalam distribusi.
Secara kasat mata, minyak yang dikeluhkan warga memang terlihat lebih keruh dibanding produk yang biasanya diterima. Namun penyebab kondisi tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium.
Sementara itu, Kepala Desa Sembung, Kecamatan Wedi, Sunarto, mengatakan proses penggantian sudah dimulai sejak akhir pekan lalu. Warga cukup membawa plastik kemasan bekas untuk mendapatkan minyak pengganti.
Di sisi lain, warga Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, mengaku baru pertama kali menerima minyak bantuan dengan aroma menyengat seperti solar atau minyak tanah. Pemerintah daerah pun memastikan seluruh minyak yang terindikasi bermasalah akan diganti agar bantuan pangan tetap aman digunakan oleh masyarakat. (*)

