BACAAJA, SOLO – Malam 1 Suro di Keraton Solo tahun ini tetap berlangsung seperti biasa, namun ada sedikit perubahan yang cukup menarik perhatian. Dua kebo bule keturunan Kiai Slamet yang semula dijadwalkan ikut memimpin kirab ternyata batal turun ke jalan.
Akibat kondisi tersebut, jumlah kebo bule yang menjadi cucuk lampah atau pemimpin kirab berkurang dari lima ekor menjadi tiga ekor.
Prosesi sakral yang digelar pada Selasa malam, 16 Juni 2026, tetap menjadi salah satu tradisi yang paling dinanti masyarakat Solo maupun wisatawan dari berbagai daerah.
Sejak sore hari, kawasan sekitar Keraton Solo mulai dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung rangkaian Kirab Pusaka Malam 1 Suro.
Namun di balik persiapan kirab, muncul kabar bahwa dua kebo bule yang sebelumnya masuk daftar peserta akhirnya tidak diberangkatkan.
Serati Mahesa atau pawang kebo bule Keraton Solo, Heri Sulistyo, menjelaskan bahwa dua hewan tersebut sedang mengalami masa berahi atau musim kawin.
Kedua kebo yang batal ikut kirab itu bernama Ponco dan Mugi.
Ponco merupakan kebo jantan, sedangkan Mugi adalah kebo betina yang selama ini juga dikenal sebagai bagian dari kelompok kebo bule Keraton Solo.
Menurut Heri, kondisi tersebut membuat keduanya berpotensi sulit dikendalikan saat berada di tengah keramaian ribuan penonton.
Karena itulah keputusan diambil untuk tidak mengikutsertakan keduanya dalam kirab tahun ini.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Pihak pengelola ingin memastikan prosesi berjalan lancar tanpa gangguan yang bisa membahayakan masyarakat.
Jika hewan yang sedang berahi dipaksa berjalan di tengah kerumunan, risiko perilaku tak terduga dinilai bisa meningkat.
Kebo bisa menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar dan sulit diarahkan selama perjalanan kirab berlangsung.
Situasi seperti itu tentu tidak diinginkan dalam acara budaya yang sarat nilai tradisi dan selalu dipadati pengunjung.
Meski kehilangan dua peserta, kirab tetap akan dipimpin tiga kebo bule yang telah dipersiapkan sejak awal.
Tiga kebo tersebut adalah Nyai Pahing, Wati, dan Suro.
Ketiganya dinilai siap menjalankan tugas sebagai cucuk lampah sesuai arahan dari pihak Keraton Solo.
Heri menyebut keputusan menggunakan tiga kebo itu sudah mendapat persetujuan dan perintah langsung dari keraton.
Dengan demikian, perubahan jumlah peserta tidak memengaruhi jalannya prosesi yang telah disusun sebelumnya.
Banyak warga sempat bertanya apakah akan ada kebo pengganti untuk menggantikan Ponco dan Mugi.
Namun pihak pengelola memastikan tidak ada tambahan peserta baru pada kirab tahun ini.
Alasannya cukup sederhana. Kebo yang lain belum pernah mendapatkan latihan dan pembiasaan mengikuti kirab seperti yang sudah dijalani tiga kebo tersebut.
Tradisi Kirab Malam 1 Suro memang tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik hewan, tetapi juga kesiapan mental saat menghadapi suasana ramai.
Kebo yang biasa tampil telah terbiasa berjalan di tengah ribuan penonton, suara kamera, hingga berbagai aktivitas yang mengiringi jalannya kirab.
Sementara kebo lain yang belum pernah dilatih dikhawatirkan justru mengalami stres atau sulit dikendalikan.
Karena itu, keraton memilih mempertahankan formasi yang dianggap paling aman dan siap untuk ditampilkan.
Saat ini Ponco dan Mugi tetap berada di kandang yang berlokasi di kawasan Alun-alun Kidul Solo.
Keduanya tidak akan dibawa ke jalur kirab demi menghindari risiko yang tidak diinginkan selama acara berlangsung.
Meski jumlah kebo bule yang tampil berkurang, tradisi Kirab Malam 1 Suro tetap menjadi magnet budaya yang kuat. Kehadiran Nyai Pahing, Wati, dan Suro dipastikan tetap memimpin jalannya prosesi, sementara Ponco dan Mugi harus absen karena sedang memasuki masa kasmaran yang membuat keduanya belum siap turun ke tengah keramaian. (*)

