BACAAJA, SEMARANG – Datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah disambut umat Islam dengan penuh harapan. Setelah matahari terbenam pada 15 Juni 2026, kalender Hijriyah resmi memasuki bulan Muharram, bulan yang menandai awal perjalanan tahun baru bagi kaum Muslim di seluruh dunia.
Berbeda dengan pergantian tahun pada umumnya yang identik dengan perayaan meriah, Tahun Baru Islam lebih banyak diisi dengan refleksi diri, muhasabah, serta tekad untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Muharram bukan sekadar bulan pembuka dalam kalender Hijriyah. Bulan ini memiliki kedudukan khusus karena termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah atau dikenal sebagai Ashurul Hurum.
Keistimewaan tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa Allah menetapkan dua belas bulan dalam setahun, dan empat di antaranya merupakan bulan haram yang memiliki kemuliaan tersendiri.
Empat bulan yang dimaksud adalah Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari berbagai perbuatan maksiat sekaligus memperbanyak amal saleh.
Momentum Muharram juga menjadi pengingat bahwa perjalanan waktu terus berjalan. Pergantian tahun bukan hanya soal bertambahnya angka, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi langkah yang telah ditempuh selama setahun terakhir.
Para ulama menjelaskan bahwa Muharram termasuk bulan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang besar di sisi Allah.
Salah satu amalan yang paling sering dikaitkan dengan Muharram adalah puasa sunnah. Bahkan dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa bulan ini menjadi waktu terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan.
Hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”
Penyebutan “bulan Allah” dalam hadis tersebut menjadi salah satu tanda kemuliaan Muharram. Tidak banyak bulan yang secara khusus dinisbatkan kepada Allah sebagaimana Muharram.
Keutamaan lain yang membuat Muharram begitu istimewa adalah keberadaan Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Hari ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjuangan Nabi Musa AS.
Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa pada Hari Asyura, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun beserta pasukannya.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura. Setelah mengetahui alasan mereka, Rasulullah SAW menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa.
Karena itulah Rasulullah SAW turut berpuasa pada Hari Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk melakukannya sebagai bentuk syukur kepada Allah.
Tradisi puasa Asyura kemudian menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam hingga sekarang.
Selain puasa Asyura, sebagian ulama juga menganjurkan puasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasu’a agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi saat itu.
Muharram juga menyimpan catatan sejarah penting dalam perjalanan syariat Islam. Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, umat Islam diketahui telah melaksanakan puasa Asyura.
Riwayat dari Abdullah bin Umar menyebutkan bahwa masyarakat Arab pada masa jahiliyah telah mengenal puasa Asyura, dan Rasulullah SAW bersama para sahabat juga melaksanakannya sebelum kewajiban puasa Ramadhan turun.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Hari Asyura telah memiliki kedudukan khusus sejak masa-masa awal perkembangan Islam.
Di sisi lain, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak sedekah, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.
Banyak ulama mengingatkan bahwa kemuliaan bulan ini sebaiknya tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga lisan, menghindari permusuhan, dan memperkuat persaudaraan menjadi bagian dari semangat yang sejalan dengan nilai-nilai Muharram.
Tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan awal tahun Hijriyah untuk menyusun target ibadah baru. Mulai dari memperbaiki sholat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, hingga membangun kebiasaan sedekah yang lebih konsisten.
Langkah-langkah sederhana tersebut dapat menjadi bekal penting untuk menjalani tahun yang baru dengan arah yang lebih baik.
Pergantian tahun Hijriyah juga mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.
Semangat hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Karena itu, Muharram sering disebut sebagai waktu yang tepat untuk memulai perubahan positif dalam berbagai aspek kehidupan.
Ketika banyak orang membuat resolusi di awal tahun, kalender Hijriyah pun menghadirkan kesempatan yang sama bagi umat Islam untuk memperbarui niat dan memperkuat komitmen dalam beribadah.
Muharram akhirnya menjadi lebih dari sekadar nama bulan. Ia hadir sebagai pengingat bahwa setiap awal adalah peluang baru untuk memperbaiki diri.
Dengan datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, umat Islam diharapkan dapat mengisi hari-harinya dengan amal saleh, memperbanyak ibadah, serta menjadikan Muharram sebagai titik awal perjalanan (*)

