BACAAJA, SEMARANG – Kabar gembira buat jalan provinsi di Jawa Tengah, tapi bisa jadi kabar buruk buat sopir truk ODOL (over dimension over load). Pengamat menyarankan menghidupkan lagi jembatan timbang alias “neraka mini” buat para sopir.
Pengamat transportasi Undip, Dr. Yudi Basuki, bilang jalan di Jateng sekarang kondisinya udah oke, hampir semua mulus, tinggal sedikit yang rusak. Tapi, masalahnya bukan di kualitas aspal, melainkan beban berlebih kendaraan gede yang bikin jalan gampang rontok.
Menurutnya, jembatan timbang jadi salah satu upaya pencegahan muatan berlebih. Kalau truk ODOL masih dibiarkan, jalan mulus tadi cuma jadi dekorasi sementara sebelum berubah lagi jadi jalur offroad gratis.
“Perlu kajian apakah menambah atau reaktivasi jembatan timbang yang sudah ada. Menurut saya perlu karena jembatan timbang bisa mengontrol beban muatan kendaraan, sehingga mengurangi kerusakan jalan,” jelas Yudi, Sabtu (6/9/2025).

Buat yang belum tahu, jembatan timbang itu fungsinya ngecek muatan kendaraan. Kalau muatan kelewat batas, siap-siaplah kena tilang, denda, atau minimal disuruh putar balik. Makanya sopir ODOL sering nyebut tempat ini neraka mini: panas, bikin deg-degan, dan ujungnya keluar duit.
Yudi bilang, selain jembatan timbang, pemerintah juga perlu bikin aplikasi monitoring jalan biar prioritas perbaikan nggak asal tunjuk.
“Fitur aplikasi itu harus berisi tabel atau exel monitoring prioritas jalan mana yang mendesak ditangani,” katanya. Jadi, nggak ada lagi drama jalan yang dekat rumah pejabat dapat aspal duluan, sementara jalan ekonomi vital dibiarkan rusak.
Sebagai catatan, sejak 2019 jembatan timbang sempat mati suri. Tapi sekarang Kemenhub udah ngaktifin lagi beberapa titik di Jateng-DIY, mulai dari Brebes, Batang, Boyolali, sampai Sleman. Kalau nanti diperbanyak, siap-siap sopir ODOL makin susah cari jalan tikus.
Masalahnya, target zero ODOL sendiri baru bakal full berlaku tahun 2027. Itu pun masih banyak ditentang pengusaha logistik dan sopir. Makanya Yudi nyaranin penertiban bertahap.
“Kalau langsung dilarang juga gak bisa, harus ada toleransi. Misal angkutan ukuran besar dipecah jadi dua,” ujarnya. (bae)

