BACAAJA, SURABAYA – Kabar duka datang dari Surabaya ketika sebuah kisah yang seharusnya menjadi awal perjalanan masa depan seorang remaja justru berakhir tragis. Thomas Julianus Kristianto, pemuda berusia 19 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan di area belakang sekolahnya. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga membuat banyak orang yang mengenalnya merasa kehilangan sosok muda yang dikenal baik dan penuh harapan.
Di mata orang-orang terdekatnya, Thomas bukan tipe remaja yang suka mencari masalah. Ia dikenal tenang, mandiri, dan menjalani kesehariannya seperti anak muda pada umumnya. Namun siapa sangka, beberapa hari setelah dinyatakan lulus sekolah, namanya justru menjadi sorotan karena peristiwa memilukan yang merenggut nyawanya.
Malam itu, Sabtu 30 Mei 2026, awalnya berjalan biasa saja bagi Margono, sang kakek yang kini berusia 88 tahun. Thomas sempat berpamitan untuk keluar sebentar bersama seorang teman. Tidak ada firasat apa pun yang muncul saat itu. Sang cucu hanya meminta izin seperti biasanya sebelum meninggalkan rumah.
Waktu terus berjalan, namun Thomas tak kunjung kembali. Kakeknya mulai merasa ada yang tidak beres ketika malam semakin larut. Rasa khawatir perlahan muncul karena cucunya yang dikenal bertanggung jawab biasanya tidak pulang terlalu larut tanpa memberi kabar.
Tak lama kemudian, kabar yang tak pernah diharapkan itu datang. Seorang teman Thomas memberi tahu bahwa remaja tersebut sudah berada di sebuah klinik dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ia mengalami luka serius di bagian kepala yang membuat kondisinya sangat kritis.
Karena fasilitas medis di klinik tersebut terbatas, Thomas kemudian dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya menggunakan ambulans. Tim medis berupaya memberikan penanganan terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. Harapan keluarga masih ada saat itu, meski kondisinya disebut sangat berat.
Di rumah sakit, Thomas menjalani operasi besar pada bagian kepala. Selama beberapa hari, keluarga terus menunggu perkembangan dengan penuh harap. Namun perjuangan pemuda itu akhirnya terhenti. Setelah mendapatkan perawatan intensif, Thomas dinyatakan meninggal dunia.
Kepergian Thomas terasa semakin menyayat hati karena perjalanan hidupnya sejak kecil tidak pernah mudah. Ia telah kehilangan kedua orang tuanya ketika masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, kehidupannya dijalani bersama sang kakek dan tante yang berusaha menggantikan peran orang tua dalam membesarkannya.
Meski tumbuh dalam keterbatasan, Thomas tidak pernah dikenal sebagai anak yang mudah menyerah. Orang-orang di sekitarnya melihat sosok yang terus berusaha bangkit dan menjalani hidup dengan semangat. Kondisi sebagai yatim piatu tidak membuatnya kehilangan arah.
Menurut cerita keluarga, Thomas juga dikenal rajin beribadah dan memiliki catatan akademik yang cukup baik selama bersekolah. Ia bukan hanya fokus menyelesaikan pendidikan, tetapi juga mulai menyusun rencana untuk masa depannya setelah lulus SMA.
Mimpi terbesar yang sedang ia perjuangkan adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Thomas disebut tengah mengupayakan program beasiswa yang dapat membantunya kuliah di Surabaya. Kesempatan itu dianggap sebagai jalan untuk mengubah masa depannya menjadi lebih baik.
Harapan tersebut sebenarnya sudah berada di depan mata. Statusnya sebagai siswa SMA telah tuntas. Ia hanya tinggal menunggu pembagian ijazah yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Namun takdir berkata lain sebelum semua rencana itu sempat terwujud.
Pihak SMAN 11 Surabaya pun mengaku terkejut ketika mendengar kabar meninggalnya Thomas. Bagi para guru, nama Thomas selama ini tidak pernah identik dengan masalah atau pelanggaran sekolah. Ia dikenal sebagai siswa yang mengikuti kegiatan belajar dengan tertib.
Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Istiawati, menyebut bahwa selama berada di lingkungan sekolah, Thomas menunjukkan perilaku yang baik. Tidak ada catatan yang membuat pihak sekolah menganggapnya sebagai siswa bermasalah.
Kabar mengenai dugaan pengeroyokan yang menewaskan Thomas membuat banyak pihak di sekolah sulit mempercayainya. Sosok yang mereka kenal selama ini jauh dari gambaran anak yang sering terlibat konflik.
Tak hanya para guru, teman-temannya juga mengenang Thomas sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Ia disebut memiliki karakter rendah hati serta tidak segan membantu orang lain ketika dibutuhkan.
Menurut sejumlah orang yang mengenalnya, Thomas termasuk pribadi yang suka melindungi teman-temannya. Sikap itu membuatnya cukup disukai di lingkungan pergaulan. Karena itulah kabar kepergiannya menyebar cepat dan memunculkan rasa duka yang mendalam.
Yang membuat cerita ini semakin menyedihkan adalah momen bahagia sebenarnya tinggal menghitung hari. Pada 11 Juni 2026 mendatang, sekolah dijadwalkan menggelar seremoni pelepasan siswa sekaligus penyerahan ijazah kepada orang tua atau wali murid.
Acara yang seharusnya menjadi penanda keberhasilan Thomas menyelesaikan pendidikan menengah kini berubah menjadi pengingat bahwa salah satu siswa terbaik mereka tidak lagi hadir. Kursi yang semestinya ditempati Thomas dalam momen penting tersebut dipastikan kosong.
Sementara itu, keluarga memilih menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan kasus kepada aparat penegak hukum. Mereka berharap seluruh fakta terkait dugaan pengeroyokan yang menyebabkan kematian Thomas dapat terungkap secara jelas dan transparan.
Keluarga korban diketahui telah melaporkan kasus ini kepada Polrestabes Surabaya. Untuk mendukung proses penyelidikan, jenazah Thomas juga telah menjalani otopsi. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, keluarga, guru, dan sahabat hanya bisa mengenang seorang pemuda yang dikenal baik, yang baru saja lulus sekolah, yang sedang mengejar beasiswa kuliah, namun harus pergi sebelum sempat menikmati masa depan yang sudah berada di depan mata. (*)

