BACAAJA, SALATIGA– Buat sebagian remaja, vape sering dianggap lebih keren, lebih modern, bahkan disebut-sebut lebih aman dibanding rokok biasa. Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak sesimpel itu. Di balik asap yang terlihat “lebih bersih”, ada sederet risiko kesehatan yang justru sering luput dari perhatian.
Hal itulah yang dibahas dalam kegiatan edukasi kesehatan tentang bahaya rokok elektrik atau vape yang digelar dosen dan mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK Unnes) di SMA Negeri 1 Salatiga, belum lama ini.
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut mengajak para siswa melihat vape bukan dari sisi tren, tetapi dari sisi kesehatan yang selama ini jarang dibahas secara utuh di media sosial.
Sebelum masuk ke materi utama, peserta diajak menonton video edukasi dan menerima poster bertajuk “Vape: Asap Manis, Risiko Tragis”. Setelah itu, siswa mengerjakan pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka tentang rokok elektrik.
Baca juga: Dua Ton Harapan dari Semarang: FK Unnes Kirim Bantuan ke Aceh
Sesi inti disampaikan oleh dosen Prodi Kedokteran FK Unnes, dr Fania Rizky Ramadiani, MBiomed, AIFO-K. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa vape bukanlah produk bebas risiko seperti yang banyak dipercaya.
Para siswa dikenalkan pada berbagai kandungan dalam vape, mulai dari nikotin, logam berat, glikol, diasetil, hingga bahan kimia lain yang berpotensi menimbulkan ketergantungan dan berbagai masalah kesehatan.
Tak hanya itu, penggunaan vape juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, gangguan pernapasan, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga kondisi yang dikenal dengan istilah popcorn lung.
“Karena bentuknya modern dan aromanya beragam, banyak orang menganggap vape lebih aman. Padahal, kandungan zat di dalamnya tetap bisa memberikan dampak serius bagi tubuh,” terang Fania dalam sesi edukasi.
Hasil Penelitian
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berisi penyuluhan biasa. Dosen dan mahasiswa juga memaparkan hasil penelitian terkait penggunaan vape dan dampaknya terhadap kesehatan. Dengan pendekatan berbasis data ilmiah, para siswa diajak memahami risiko vape berdasarkan fakta penelitian, bukan sekadar asumsi atau tren yang beredar di internet.
Suasana diskusi berlangsung hidup. Banyak siswa aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan mengenai fenomena vape yang semakin mudah ditemui di kalangan remaja.
Setelah sesi materi selesai, peserta kembali mengerjakan post-test untuk melihat peningkatan pemahaman mereka setelah mengikuti edukasi. Tak berhenti di ruang kelas, para siswa juga diajak membuat konten edukasi tentang bahaya vape bersama dosen dan mahasiswa FK Unnes. Harapannya, pesan kesehatan tersebut bisa menjangkau lebih banyak remaja melalui platform digital yang akrab dengan keseharian mereka.
Baca juga: Mengapa Vape Sekali Pakai Lebih Beracun dari Rokok Jenis Apapun? Simak Penjelasannya
Kegiatan ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ketiga tentang kesehatan dan kesejahteraan yang baik (Good Health and Well-being) serta poin keempat tentang pendidikan berkualitas (Quality Education).
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga bisa menjadi penyebar pesan positif di lingkungan sekolah. Sebab, kampanye hidup sehat akan lebih mudah diterima ketika datang dari teman sebaya.
Di era ketika banyak orang memilih sesuatu karena terlihat keren di media sosial, kadang yang paling berbahaya justru bukan asapnya, melainkan anggapan bahwa “kalau viral berarti aman”.
Padahal tubuh manusia tidak pernah bisa dibohongi oleh tren. Algoritma mungkin suka konten vape, tapi paru-paru belum tentu ikut memberikan tanda suka. (tebe)

