BACAAJA, SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengingatkan masyarakat untuk nggak memberi stigma atau menjauhi Orang dengan HIV (ODHIV). Soalnya, HIV nggak menular lewat interaksi sehari-hari seperti salaman, pelukan, kerja bareng, atau makan sepiring.
Kepala Dinkes Kota Semarang, dr. Mochamad Abdul Hakam, mengatakan yang paling dibutuhkan ODHIV justru dukungan dari lingkungan sekitar agar tetap semangat menjalani pengobatan.
“Yang harus kita lakukan adalah memberikan dukungan, bukan menjauhi mereka. ODHIV membutuhkan support agar tetap rutin menjalani pengobatan dan bisa menjalani hidup secara normal,” ujar Hakam, Rabu (3/6/2026).
Bacaaja: Angka HIV di Semarang Tembus 240 Kasus
Bacaaja: Ngeri, Kasus HIV di Jateng Sampe 40 Ribu
Menurutnya, stigma negatif yang masih sering muncul di masyarakat malah jadi penghambat penanganan HIV. Banyak orang takut tes atau berobat karena khawatir dikucilkan.
Padahal sekarang HIV sudah bisa dikendalikan lewat terapi antiretroviral (ARV) yang diminum rutin. Obat ini membantu menekan jumlah virus di dalam tubuh supaya daya tahan tubuh tetap terjaga.
Hakam menjelaskan, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Kalau nggak ditangani, tubuh jadi lebih gampang terkena infeksi lain, mulai dari bakteri, jamur, sampai virus.
Tapi kalau pasien disiplin minum obat ARV, jumlah virus bisa ditekan dan risiko penularan juga ikut menurun drastis.
“Yang terpenting adalah kepatuhan minum obat. Kalau pengobatan berjalan baik, kualitas hidup pasien juga bisa tetap baik dan produktif,” katanya.
Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, ada 240 kasus HIV baru yang ditemukan selama Januari sampai Mei 2026. Kasus tersebut ditemukan lewat program skrining dan deteksi dini yang terus diperluas.
Pemkot Semarang sendiri juga terus menambah akses layanan HIV, salah satunya lewat program LIDYA DIMARI, yaitu layanan tes HIV dan pengambilan obat ARV pada malam hari.
Selain layanan kesehatan, edukasi ke masyarakat juga terus digencarkan supaya orang makin paham soal HIV dan nggak lagi memandang ODHIV secara negatif.
“Yang harus dilawan adalah penyakitnya, bukan orangnya. Dengan dukungan keluarga, lingkungan, dan pengobatan yang rutin, ODHIV tetap bisa hidup sehat dan produktif,” tegas Hakam. (dul)

