BACAAJA, JAKARTA – Lembar ulangan biasanya identik dengan angka merah, tanda silang, atau catatan singkat dari guru. Namun di tangan seorang guru di Bali, kertas jawaban murid justru berubah menjadi ruang penuh kreativitas yang membuat banyak orang tersenyum saat melihatnya.
Belakangan, media sosial ramai membicarakan cara unik seorang guru bernama Putu Putri Adelia Savitri dalam mengoreksi hasil pekerjaan siswanya. Alih-alih hanya memberikan nilai, ia menyelipkan gambar-gambar doodle lucu lengkap dengan pesan jenaka yang langsung mencuri perhatian warganet.
Unggahan tersebut menyebar dengan cepat karena dianggap menghadirkan cara belajar yang lebih hangat dan dekat dengan dunia anak-anak. Banyak orang menilai pendekatan itu mampu membuat murid menerima hasil ulangan tanpa rasa takut maupun tertekan.
Dalam foto-foto yang beredar, terlihat berbagai lembar jawaban siswa dari beberapa tingkat kelas. Mulai dari siswa kelas tiga hingga kelas enam mendapatkan komentar yang berbeda-beda sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.
Yang menarik, setiap nilai tidak hanya diberi angka semata. Sang guru menambahkan ilustrasi sederhana berupa karakter lucu dengan berbagai ekspresi, mulai dari bingung, terkejut, hingga marah dengan gaya yang tetap menghibur.
Salah satu lembar jawaban yang paling banyak menarik perhatian adalah milik siswa yang memperoleh nilai 18. Jika biasanya nilai rendah identik dengan teguran keras, kali ini sang guru memilih cara yang jauh lebih santai.
Di samping angka tersebut, ia menggambar karakter dengan wajah heran sambil menuliskan kalimat yang membuat banyak orang tersenyum. Pesan itu terasa seperti candaan ringan yang mengajak siswa berpikir tanpa membuatnya merasa dipermalukan.
Pendekatan seperti itu dianggap unik karena fokusnya bukan menghukum kesalahan, melainkan mengajak anak melakukan refleksi terhadap hasil belajarnya sendiri. Murid diajak memahami bahwa nilai rendah bukan akhir dari segalanya.
Hal serupa juga terlihat pada lembar jawaban lain yang memperoleh nilai 15. Doodle dengan ekspresi mengangkat alis dan tanda tanya besar di atas kepala menjadi cara sang guru menyampaikan pesan tanpa perlu menggunakan kata-kata yang keras.
Banyak orang menilai metode tersebut jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan angka lalu selesai. Anak-anak tetap mendapatkan evaluasi, tetapi dalam suasana yang lebih ringan dan menyenangkan.
Tidak hanya siswa dengan nilai rendah yang mendapat perhatian khusus. Murid dengan nilai yang tergolong cukup juga memperoleh apresiasi melalui gambar-gambar kreatif yang dibuat langsung oleh gurunya.
Pada salah satu lembar jawaban dengan nilai 60, sang guru menggambar karakter yang tampak percaya diri sambil memberikan pesan bahwa nilai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan di sekolah.
Kalimat yang ditulisnya menekankan bahwa ketekunan, sikap baik, dan kesungguhan selama belajar juga memiliki nilai yang tidak kalah penting dibanding angka di atas kertas.
Pesan sederhana tersebut mendapat banyak pujian karena dianggap mampu membangun rasa percaya diri siswa. Anak-anak tidak hanya fokus mengejar angka tinggi, tetapi juga memahami pentingnya proses belajar.
Lembar jawaban lain dengan nilai 62 bahkan dibuat lebih menarik lagi. Sang guru menggambar dua karakter yang seolah sedang mengobrol satu sama lain seperti dalam komik.
Karakter pertama berperan sebagai guru yang memberikan nasihat, sementara karakter kedua menjadi murid yang menanggapi dengan ekspresi lucu. Dialog sederhana itu membuat kritik terasa lebih ringan untuk diterima.
Melalui cara tersebut, siswa diajak belajar dari kesalahan tanpa merasa sedang dimarahi. Pesan yang disampaikan tetap sampai, tetapi dikemas dalam bentuk yang lebih ramah dan menyenangkan.
Tak hanya nilai rendah dan sedang yang mendapatkan doodle unik. Murid dengan nilai sempurna pun ternyata tidak luput dari perhatian sang guru.
Dalam salah satu foto yang viral, terlihat lembar jawaban dengan nilai 100. Namun ada satu hal yang membuat guru tersebut menggelengkan kepala sekaligus tertawa.
Ternyata siswa tersebut lupa menuliskan identitas atau namanya sendiri pada lembar jawaban. Padahal seluruh soal berhasil dijawab dengan sempurna.
Alih-alih memberikan teguran biasa, sang guru kembali menggunakan doodle sebagai media komunikasi. Ia menggambar dua karakter dengan ekspresi bingung dan kesal secara bersamaan.
Pesan yang dituliskan membuat banyak orang ikut tertawa karena menggambarkan situasi yang sering terjadi di sekolah. Nilai sempurna akhirnya menjadi momen lucu karena kelalaian kecil yang tidak terduga.
Cara penyampaian seperti ini dianggap jauh lebih membekas dalam ingatan siswa. Anak-anak kemungkinan besar akan mengingat kejadian tersebut lebih lama dibandingkan jika hanya ditegur secara biasa.
Tak heran jika unggahan tersebut kemudian ramai dibagikan di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna internet merasa terhibur sekaligus terinspirasi dengan pendekatan kreatif yang dilakukan sang guru.
Sejumlah warganet bahkan mengaku membayangkan betapa menyenangkannya jika mereka dulu memiliki guru dengan cara mengajar seperti itu. Banyak komentar bernada nostalgia bermunculan di kolom unggahan.
Sebagian orang menganggap metode tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung dalam suasana serius. Sentuhan humor yang tepat justru bisa membuat proses belajar menjadi lebih efektif.
Yang paling banyak mendapat pujian adalah cara sang guru menjaga perasaan murid-muridnya. Tidak ada komentar yang bernada merendahkan, meski nilai yang diperoleh siswa tergolong rendah.
Sebaliknya, setiap coretan dan gambar justru berisi dorongan positif agar anak-anak tetap semangat belajar dan berani memperbaiki kesalahan mereka di kesempatan berikutnya.
Di tengah banyaknya cerita tentang tekanan akademik yang dialami siswa, pendekatan sederhana dari seorang guru di Bali ini menghadirkan warna berbeda. Hanya lewat beberapa goresan pena dan gambar lucu di atas kertas, ia berhasil menunjukkan bahwa pendidikan terbaik sering kali lahir dari perhatian kecil yang membuat murid merasa dihargai dan diperhatikan. (*)

