BACAAJA, SEMARANG – Warga Semarang mulai ngelus dada tiap belanja ke pasar. Soalnya, bukan cuma cabai yang makin pedas harganya, tahu dan tempe sekarang juga ikut naik diam-diam. Yang bikin warga makin sadar, ukuran tempe sekarang malah makin kecil alias “diet”.
Fenomena ini mulai banyak dikeluhkan pedagang pasar tradisional, terutama setelah harga bahan baku kedelai terus naik dalam beberapa bulan terakhir.
Ardiyasyah (38), pedagang tempe di Pasar Ngaliyan, mengaku sekarang penjual serba salah. Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, takut pembeli kabur. Akhirnya banyak pedagang memilih mengecilkan ukuran tempe supaya tetap bisa dijual dengan harga yang masih aman di kantong.
Bacaaja: Abaikan Klakson Masinis, Pengendara Sepeda Motor Tertemper Kereta Sangkuriang
Bacaaja: Rupiah Melemah Makin Nyungsep di Kaki USD, Prabowo: Orang Desa Gak Pakai Dolar
“Kalau harganya dinaikkan terus takut pembeli keberatan. Jadi sekarang ukurannya aja yang dikurangi,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Tempe yang dulu ukurannya lumayan besar dengan harga Rp5 ribu, sekarang jadi lebih kecil meski harganya hampir sama.
Bukan cuma kedelai, biaya lain seperti plastik pembungkus juga ikut bikin pedagang pusing.
“Plastik juga sempat naik. Jadi mau nggak mau ya ngaruh ke harga jual,” katanya.
Meski harga plastik sekarang mulai turun, Ardiyasyah bilang harga tempe belum bisa ikut normal lagi karena biaya produksi masih tinggi.
Keluhan serupa juga dirasakan Iis (52), pedagang kebutuhan dapur di pasar tradisional. Menurutnya, setelah Lebaran lalu hampir semua bahan pokok naik bareng-bareng.
“Sekarang apa-apa naik, bukan cuma tempe,” katanya.
Ia menyebut harga tempe yang sebelumnya Rp6 ribu sekarang jadi Rp7 ribu. Tahu juga ikut naik dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu.
Belum lagi harga cabai yang makin bikin dompet menjerit. Cabai merah keriting kini tembus Rp20 ribu per seperempat kilogram, sementara cabai rawit yang lebih pedas dijual sekitar Rp23 ribu.
“Kedelainya mahal sekarang, jadi tahu sama tempe ikut naik semua,” ujarnya.
Naiknya harga kebutuhan pokok ternyata juga bikin kondisi pasar berubah. Menurut Iis, jumlah pembeli sekarang jauh lebih sepi dibanding biasanya.
“Pembeli turun banget sekarang. Banyak yang cuma lihat-lihat terus pergi,” keluhnya.
Para pedagang berharap harga bahan pokok bisa segera stabil supaya pasar kembali ramai. Sebab kalau kondisi terus begini, bukan cuma pembeli yang pusing, pedagang kecil juga makin berat bertahan.
Bahan baku tempe masih impor
Tempe dan tahu memang jadi makanan favorit hampir semua orang Indonesia. Namun, bahan baku utama dua makanan rakyat itu ternyata masih sangat bergantung dari luar negeri.
Setiap tahun, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 2,5 hingga 2,6 juta ton kedelai untuk memenuhi kebutuhan produksi tempe dan tahu di dalam negeri. Jumlah itu terbilang besar karena produksi kedelai lokal sampai sekarang belum mampu menutup kebutuhan nasional.
Yang bikin makin menarik, sekitar 90 persen kedelai impor Indonesia ternyata berasal dari Amerika Serikat. Sisanya baru dipenuhi dari beberapa negara lain seperti Kanada dan Brasil. Semua barang impor tersebut ditebus menggunakan dolar AS. (dul)

