BACAAJA, SEMARANG – Polisi di Jawa Tengah yang menyiksa istri sirinya secara brutal terancam dipecat.
Anggota Polres Tegal Kota, Aiptu Nuridin (50), menjalani sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) Polri di Mapolda Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026). Dalam sidang tersebut, ia menghadapi ancaman sanksi terberat berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) atau dipecat dari institusi Polri.
Sidang berlangsung di ruang sidang Polda Jateng dengan menghadirkan Aiptu Nuridin sebagai terperiksa. Ia tampak hadir mengenakan pakaian dinas harian (PDH).
Bacaaja: Ngeri! Oknum Polisi di Tegal Siksa Istri, Korban Disuruh Racik Narkoba hingga Disiram Air Keras
Bacaaja: Demonstran Agustus Meninggal di Rutan Madaeng, KontraS: Alarm Gagalnya Negara
Sejumlah saksi juga dimintai keterangan, termasuk Kapolsek Tegal Selatan yang merupakan atasan langsung Aiptu Nuridin. Sidang dipimpin oleh AKBP Edi Wibowo selaku Kasubbid Sunluhkum Bidkum Polda Jawa Tengah.
Hingga berita ini ditulis, proses persidangan masih berlangsung.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, mengatakan perkara yang menjerat Aiptu Nuridin tergolong pelanggaran berat.
Selain diduga melakukan penganiayaan terhadap perempuan berinisial M (30) yang disebut sebagai istri sirinya, ia juga diduga terlibat penyalahgunaan narkoba serta menjalin hubungan dengan perempuan di luar pernikahan yang sah.
“Ancaman terberatnya PTDH atau Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH),” kata Artanto.
Artanto mengungkapkan, ini bukan kali pertama Aiptu Nuridin berhadapan dengan sidang etik.
Pada 2010, ia pernah menjalani sidang disiplin terkait kasus minuman keras. Kemudian pada 2017, ia kembali disidang karena menjalin hubungan dengan perempuan di luar pernikahan yang sah.
“Dalam dua perkara sebelumnya, yang bersangkutan dijatuhi sanksi berupa penempatan khusus (patsus) dan demosi,” jelas Artanto.
Kasus ini mencuat setelah Tim Hotman 911 mendampingi korban berinisial M melaporkan Aiptu Nuridin ke Bareskrim Polri pada 2 Juli 2026.
Laporan tersebut mencakup dugaan penganiayaan, penyekapan, kekerasan seksual, hingga dugaan tindak pidana narkotika dan telah teregister dengan nomor LP/B/295/VII/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI.
Kuasa hukum korban, Raden Reza, menyebut kliennya mengaku mengalami kekerasan fisik dan psikis sejak 2023.
“Korban mengaku mengalami kekerasan fisik dan psikis sejak 2023,” ujarnya.
Menurut Reza, korban juga mengaku dipaksa mengonsumsi dan meracik sabu, disekap, dianiaya, hingga disiram cairan yang diduga air keras sehingga mengalami luka.
Saat ini seluruh dugaan tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh kepolisian. Hingga ada putusan hukum yang berkekuatan tetap, seluruh dugaan terhadap Aiptu Nuridin masih berlaku asas praduga tak bersalah. (wnu)

